TIPS PRODUKTIF MENULIS

Tips Produktif  Menulis :

Tips produktif menulis. 

Setiap orang ingin bisa menulis dengan produktif. Namun kadang banyak kendalanya. Salah satunya adalah terpaku pada karya yang sudah kita tulis. Karena ingin segera ada hasilnya. Maka hanya tulisan itu yang kita pikirkan. Padahal untuk dapat dimuat atau terbit butuh waktu menunggu. Saat kirim ke media atau penerbit kita harus menunggu untuk dimuat atau terbit. Karena di sana pun ada antrian naskah untuk dimuat atau terbit.

Jika itu kita pikirkan terus maka kita tidak akan produktif. Bagaimana agar kita produktif menulis? Kunci yang utama adalah terus menulis. Menulis setiap hari. Alokasikan waktu kapan kita merasa nyaman untuk menulis. Setiap orang bebas memilih waktu yang tepat saat menulis. Alokasi waktu dan disiplin memenuhi alokasi yang sudah kita tetapkan sendiri.


Kirim tulisan ke media. Kirim naskah ke penerbit. Lalu berdoa segera dimuat dan terbit. Namun jangan pikirkan lagi, beralih ke tulisan berikutnya. Siapkan naskah berikutnya. Ibaratnya kita menanam, suatu saat akan menuai. Tanpa kita sadari akan tiba saatnya kita panen, itulah yang membuat seorang penulis bisa punya karya yang beruntun. Jangan lupa di sela-sela menulis alokasikan juga waktu untuk membaca. Karena semua bacaan tersebut akan memperkaya tulisan kita.

Jika ragu atau belum percaya diri, ikut dalam program buku terbit. Atau ikuti pelatihan yang sepaket sampai naskah siap terbit. Writing Training Center punya program belajar hingga terbit. Bahkan dibantu promosi agar laris. Setelah itu jalan terbuka untuk anda. Jadi penulis produktif.
Mau produktif? Mulai sekarang juga. Jangan tunda lagi.

salam



Menulis karena itu membuatmu bahagia.


“All good books are alike in that they are truer than if they had really happened and after you are finished reading one you will feel that all that happened to you and afterwards it all belongs to you: the good and the bad, the ecstasy, the remorse and sorrow, the people and the places and how the weather was. If you can get so that you can give that to people, then you are a writer.” 
 
Ernest Hemingway

Pada dasarnya setiap orang bisa menulis. Mungkin karena saat kecil dulu yang pertama kali diajarkan pada kita adalah membaca dan menulis.  Semua pasti ingat kan jika itu  pelajaran awal yang kita terima, hanya dalam perjalanan semua seperti tergerus. Membaca hanya sempat hingga menulis jadi sulit.  Padahal dua kegiatan itu sungguh berdampak luar biasa bagi perkembangan kecerdasan dan kepribadian  manusia sejak balita hingga tua.  Hal tersebut yang kurang disadari oleh masyarakat kita hingga dua kegiatan itu jadi membosankan. Membeli buku jika perlu, membaca jika mau ulangan atau ujian dan menulis sekedarnya. Menyedihkan sesungguhnya, apalagi saat hasil survey membuktikan jika minat baca masyarakat kita termasuk deretan terendah. Perkembangan buku terbit, toko buku, perpustakaan, dan penjualan buku tidak sebanding dengan jumlah penduduk Indonesia yang demikian besar. Kita jauh tertinggal dari negara lain.

Coba lihatlah, paradigma yang berkembang membuktikan betapa sayang mengeluarkan uang untuk membeli buku. Tetapi dengan mudah membeli mainan untuk anak, bahkan harus punya jika mainan itu lagi trend. Rasanya ketinggalan jaman jika tidak membelikan mainan yang trendi. Coba lihatlah tidak pernah berpikir untuk mengeluarkan dana membeli barang-barang konsumtif yang kadang sekali pakai dan coba pula. Berapa jumlah keluarga yang mengalokasikan dana bulanan untuk membeli buku. Dalam list pasti hanya kebutuhan rumah tangga, makanan, jalan-jalan dan lain sebagainya. Jika ada dana tambahan baru beli buku. Miris ya. Padahal seharusnya membeli buku sama pentingnya dengan membeli vitamin atau makanan, vitamin atau makanan adalah asupan untuk tubuh sementara buku adalah asupan untuk jiwa dan otak.

Kegiatan membaca dan menulis adalah dua kegiatan yang tidak bisa dipisahkan. Membaca membuat jiwa kita hidup, otak kita bekerja lebih efektif, merangsang sel-sel otak lebih kreatif, memberikan berbagai wawasan baru yang membuat seseorang mampu berpikir lebih cerdas. Ibaratnya tanpa membaca sesungguhnya otak kita kosong, banyak ruang kosong di sana yang tidak terisi akhirnya perlahan sel-sel akan mengeras dan sebagian mati. Membuat kita malas berpikir, cepat tua dan pikun. Sementara seorang anak yang membaca buku apa saja, satu buku satu hari saja, akan memperkaya jiwanya, merangsang sel-sel otak  tumbuh hingga membuatnya semakin cerdas. Menumbuhkan berbagai wawasan yang membuatnya berpikir hingga tumbuh beragam ide yang inovatif. Luar biasa kan? Jadi seharusnya belikan anak buku dan mainan hanya tambahan bukan sebaliknya. Dahulukan membeli buku dibanding membeli beragam barang konsumtif lainnya.

Kegiatan menulis tak kalah pentingnya. Dalam masyarakat berkembang paradigma jika menulis itu bakat, jadi kalau nggak punya bakat nggak bisa nulis. Seorang penulis itu titisan dewa yang jatuh ke manusia pilihan. Paradigma ini sungguh keliru. Bakat itu adalah sesuatu yang bisa ditimbulkan bukan semata hadir begitu saja. Ia bisa tumbuh, salah satunya karena kebiasaan, karena sering dilakukan dan akhirnya menyukai kegiatan itu. Intinya menulis adalah kegiatan yang bisa dipelajari layaknya keterampilan yang lainnya. Semakin sering berlatih menulis maka semakin berkualitas hasil tulisannya. Ide dan imaginasi bisa terus tumbuh seiring dengan proses menulis yang ditekuni.

Apakah menulis harus jadi penulis?

Seorang anak yang terbiasa menulis akan semakin cerdas karena ia terus berpikir. Ia akan lebih kreatif karena ia terus berimaginasi. Karakter positif akan tumbuh dalam dirinya karena dengan proses menulis tumbuh rasa. Ia lebih bisa merasakan berbagai nilai-nilai kehidupan yang akan berguna dalam dirinya. Jadi terlepas apapun profesinya nanti kebiasaan menulis akan membuatnya memiliki nilai lebih dalam hidup dan pekerjaannya.

Tak ada kata terlambat dalam menulis, setiap orang bisa memulai menulis saat ini juga. Mulailah menulis apa yang ingin kita bagi, apa yang kita tahu dan apa yang kita pikirkan. Perkaya dengan bacaan dan teruslah menulis. Setiap proses yang kita jalani akan memoles tulisan kita untuk bertambah baik. Dan, apa yang kita tulis memperkaya jiwa kita. Menimbulkan jejak dalam otak kita, mengisi sel-sel otak dalam diri kita untuk tetap aktif. Bahkan melatih kesabaran dan kehalusan pribadi kita.

Bagaimana menulis mempengaruhi diri kita?

Kegiatan menulis seringkali membuat kita memikirkan banyak hal untuk mencari ide, berimaginasi dengan 
beragam peristiwa dan menuangkannya dalam rangkaian kata. Kegiatan itu ternyata membuat otak kita bekerja dengan baik dan menghilangkan beragam penyakit sakit kepala. Menulis seperti sebuah meditasi yang menenangkan jiwa kita. Memberikan kedamaian. Karena kegiatan ini seperti katarsis yang membuang segala hal negatif yang ditimbulkan oleh beragam peristiwa yang mungkin tidak menyenangkan yang tertinggal dalam alam bawah sadar kita. Menulis membuat kita mampu berbagi berbagai hal positif, mengajak setiap orang yang membaca tulisan kita untuk bisa merasakan hal yang sama, seperti self-healing  bagi jiwa manusia. Dan, sebagai bonusnya kita akan awet muda dan tidak akan pikun.

Luar biasa sekali kan? Dua kegiatan membaca dan menulis yang kita kenal sejak bangku TK. Mari tanamkan pada anak-anak kita, mari kita sebarkan pada keluarga dan lingkungan sekitar, dan mari mulai sekarang juga.

Membaca dan menulislah karena itu membuatmu lebih bahagia.


Note ; sumber berbagai hasil penelitian ilmiah yang saya baca
Tambahan info : menurut survey masih dibutuhkan jutaan buku untuk membuat Indonesia cerdas

   *Creative Writing Class












15 komentar:

  1. Makasiiih maak...kayaknya saya harus luruskan tujuan ya...menulis bukan utk jadi penulis, tapi menulis karena memang kita mau utk menulis dan menginvestasikan waktu utk itu.

    Kalo pada akhirnya nanti ada yang suka tulisan kita, ya Alhamdulillah...apalagi kalo mrk mau menyebut kita penulis hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama mak. Iya, betul....menulis saja. Nanti yang lain datang sebagai bonus, Aamiin. Makasi sudah mampir, mak...

      Hapus
  2. Aseg...dpe ilmu lg neh. Tfs ya mbak

    BalasHapus
  3. Sangat setuju sekali :) kadang sering mengeluh karena ide muncul di kondisi yg tidak memungkinkan untuk menulis, sepertinya perlu selalu membawa notes dan mengantisipasi dengan meluangkan waktu khusus untuk menulis.
    Terima kasih sharing ilmu dan motivasi untuk terus menulis, Mbak :)

    BalasHapus
  4. Bener banget mak..semakin sering menulis kualitas tulisan kita bakal bertambah
    Semakin sering membaca ide-ide untuk menulis juga semakin berkembanh
    Makasih sudah berbagi ilmunya mak :)

    BalasHapus
  5. Setuju banget mbak. palagi kuota ini "Bakat itu adalah sesuatu yang bisa ditimbulkan bukan semata hadir begitu saja. Ia bisa tumbuh, salah satunya karena kebiasaan, karena sering dilakukan dan akhirnya menyukai kegiatan itu. Intinya menulis adalah kegiatan yang bisa dipelajari layaknya keterampilan yang lainnya. Semakin sering berlatih menulis maka semakin berkualitas hasil tulisannya. Ide dan imaginasi bisa terus tumbuh seiring dengan proses menulis yang ditekuni.' Saya pada awalnya ingin mengisis waltu luang, sekarang jadi kebiasaan dan nagih. rela begadang hanya demi menulis. Kata Suami, sejak saya mulai aktif menulis, saya lebih kalem dan Sabar. Alhamdullilah. Salam :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. Sama-sama. Maaf baru balas yaa...

      Hapus
  6. memotivasi sekali, saya sendiri suka membaca, menulis sekali2 saja karena kurang pd dengan tulisan saya

    BalasHapus
  7. Aduh bener banget tentang anak yang menulis itu, mbak.... anakku lagi diajakin nulis terus nih. Alhamdulillah kemarin salah satu teman editor lumayan suka sama tulisannya anakku. Moga makin bersinar dalam karya dan berbaginya :)

    BalasHapus
  8. Yang paling sulit saat menulis adalah melawan kejenuhan dan pada saat ide itu menghilang

    Mampir yuk mba ke blog saya di www.nbcdns.com

    BalasHapus
  9. Saya lagi nerapin One Day One Post di blog saya selama 1 bulan untuk memotivasi agar tetap menulis
    tapi ada saja kendala malasenya itu

    BalasHapus
  10. Saya termasuk yg jarang beliin mainan buat anak mbk. AKhirya anak2 terbiasa kreatif makai apapun di rumah jd mainan. Kalau buku alhamdulillah hampir tiap wiken mainnya ke toko buku, soalnya bapak ibunya bukan anak mall, kalaupun ngemol ya gramedia lg jujugannya. Sekadar beli buletin atau apalah kalau pas lagi gk ada duitnya. Ini kenapa jd cerita panjang ya haha.

    Intinya membaca itu jg salah satu yg menguatkan (anak2) utk belajar menulis. Meski mereka nanti gak harus jd penulis sih :D

    www(dot)keluargahamsa(dot)com

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan komentar dan terima kasih ya sudah meninggalkan komennya Salam hangat.
deka