Kamis, 17 Januari 2019

Menjadi Writerpreneur Sukses


Menjadi Writerpreneur Sukses


Deka Amalia

Dulu, saya adalah dosen aktif yang menghabiskan waktu di kampus, saya mengajar di beberapa universitas. Semua berlangsung hingga lebih dari 20 tahun lamanya. Saya mengajar Bahasa dan Sastra Inggris. Menulis adalah hobi saya, kegiatan yang menyenangkan. Saya selalu menulis apa saja yang ingin saya tuliskan. Tidak pernah terpikir jika ini akan jadi dunia baru bagi saya. Saat itu yang terpikir hanya menjadi dosen hingga pensiun.

Hingga saat sosmed mulai ramai dan berkenalan dengan banyak penulis, gairah menjadi penulis muncul tak terbendung. Hingga akhirnya mendirikan komunitas penulis perempuan. Ternyata banyak yang mau belajar menulis. Kebetulan saya adalah dosen sastra, maka ilmu menulis saya cukup mumpuni. Saya pun membuka kelas online dan offline. Seiring waktu, member komunitas bertambah dan yang minta belajar menulis makin banyak. Setelah memikirkan dengan matang, saya memutuskan pensiun dini dari profesi sebagai dosen dan mendirikan lembaga pelatihan menulis dengan nama Deka Amalia Writing Center.


Tak dinyana perkembangannya luar biasa, kelas online berjalan setiap hari, kelas offline selalu penuh pesertanya. Sesekali saya diminta mengisi pelatihan di berbagai lembaga dan komunitas lainnya. Maka dari sejak saya pensiun dini di tahun 2013 hingga kini di tahun 2018, telah ribuan peserta mengikuti pelatihan menulis. Luar biasa ya. Saya pun menebarkan semangat menulis untuk kebahagiaan, jika menulis itu menebar manfaat. Manfaat untuk diri sendiri dan manfaat untuk orang banyak. Berbagi ilmu dan pengalaman yang manfaat bagi pembaca. Penulis bahagia dan pembaca pun bahagia.

Sejalan dengan itu, saya pun mendirikan self publishing, sebagai media bagi penulis yang ingin menerbitkan buku. Saya pun membuka kelas regular edisi terbit dalam bentuk antologi, Kelas-kelas edisi terbit selalu ramai dengan peserta. Ada yang di FB grop dan ada yang di WA grop. Setiap hari saya mengajar kelas online. Peserta dari seluruh Indonesia bahkan wanita Indonesia yang tinggal di luar negeri.

Virus writerpreneur pun saya tebarkan, maka banyak peserta pelatihan saya yang mentas menjadi trainer dan menerbitkan buku sendiri. Menjadi writerpreneur, mencari penghasilan dari menulis. Ada yang masih part time dan ada yang sudah full time seperti saya. Intinya sedikit banyak, menulis itu bisa menghasilkan. Bahkan bisa menjadi mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Maka sukses sebagai writerprenuer bukan hal yang mustahil.

Media internet makin memudahkan dengan segala fasilitasnya. Semua bisa kita manfaatkan untuk hal yang positif. Kelas online berjalan lancar, penjualan buku terus meningkat dan peserta terus bertambah. Kesuksesan ini menjadi inspirasi bagi banyak orang. Saat saya memulai, belum banyak kelas penulisan online berjalan bahkan menerbitkan buku sendiri masih diremehkan. Promosi buku pun masih dianggap aneh. Kini, kelas online menjamur, komunitas bermunculan, penerbitan indie tumbuh dan promosi buku menjadi wajib bagi setiap penulis. Apakah saya merasa tersaingi? Sama sekali tidak. Karena niat awal saya adalah menghidupkan dunia literasi, maka melihat dunia literasi makin hidup, saya tentu senang. Sekarang banyak orang mau menulis, menerbitkan buku dan ramai promosi buku di media.


Menjadi writerpreneur bikin bahagia, selain menulis dan berkarya. Juga bisa membahagiakan banyak orang. Menemukan apa yang diimpikan banyak orang. Bisa mengenal banyak orang dan bersahabat lalu kemudian menjadi bagian dari keluarga. Karenanya saya sangat semangat menjalankan semua ini selama saya masih sanggup. Saya terus melakukan inovasi dengan berbagai program. Meski setiap program baru yang saya promosikan, tak lama kemudian ada yang mengikuti. Saya senang-senang saja dan terus melakukan inovasi tiada henti. Saat ini program baru yang banyak diminati adalah copywriting, menulis untuk branding dan selling. Lalu kemudian yang terbaru adalah writing therapy. Menulis untuk self healing. Setelah itu adalah program travel writing, menulis sambal jalan-jalan. Mungkin bisa jadi saya menemukan program baru lainnya.

Terbukti jika banyak sekali hal baru yang bisa digali dan dikembangkan. Tidak perlu kuatir dengan persaingan selama kita kreatif. Lagi pula persaingan itu baik, jika kita melihatnya dari pandangan positif. Dengan persaingan sehat, kita terdorong untuk berpikir kreatif. Selalu menemukan hal baru yang makin baik. Yang bermanfaat bagi banyak orang. Untuk itulah saya tidak akan pernah lelah untuk mengajak banyak orang untuk terus menulis dan produktif berkarya. Menjadi writerprenuer itu bisa menjadi profesi yang menjanjikan.

Profesi apapun jika dijalani dengan tekun dan komitmen, Insya Allah bisa sukses. Dijalani dengan sepenuh hati dan penuh kecintaan. Kuncinya memang menjalani apa yang dicintai, seperti kata orang, hobi yang dibayar itu paling menyenangkan. Meskipun ada pendapat jika menjadi penulis itu, tidak akan mendatangkan materi yang memuaskan. Tetapi yakinlah, jika setiap usaha akan berbuah indah. Dan, Alhamdulillah saya sudah merasakan buah manisnya.

Untuk sukses menjadi writerpreneur butuh kemauan keras dan kerja keras. Tidak mudah putus asa, karena tidak ada jalan sukses yang mudah. Sudah pasti ada masalah, banyak tantangan dan kesulitan. Hanya mereka yang sanggup meniti jalan sukses, yang akan menuju puncak. Saya malahan berharap writerprenuer akan berkembang seperti bidang lainnya. Menjadi suatu lahan yang diincar generasi muda kita. Agar lahir banyak anak muda yang bergerak di bidang literasi, sehingga bangsa ini akan tumbuh lebih cerdas.

Di samping semua hal di atas, hal yang paling penting adalah kemauan untuk belajar. Menjalani prosesnya tanpa kenal lelah. Ilmu menulis sebetulnya luas, dengan ragam teknik penulisan yang berbeda untuk setiap genre. Jadi langkah awal untuk mau menjadi writerpreneur sukses, belajarlah terus.  Sering orang beranggapan jika buku akan digantikan oleh buku digital (ebook) saya yakin buku tidak akan tergantikan. Selayaknya makanan alami, tidak bisa menggantikan penuh makanan instant. Karena buku adalah vitamin jiwa, nutrisi hati. Ada kenikmatian yang berbeda saat membuka setiap halaman kertas buku. Kenikmatan yang tidak akan tergantikan. Lagi pula, betapa lelahnya mata jika sering membaca layar monitor. Dan tentu tidak sehat juga untuk mata. Maka karena itulah, saya yakin buku akan abadi. Selama masih ada yang bergerak di dunia literasi. Maka selama itu juga, menjadi writerprenuer akan bisa bertahan, bahkan mungkin berkembang. Insya Allah.

Ø  Deka Amalia

(Ex Dosen Sastra, Writer, Writing Trainer, Book Publishing Consultant. Owner Deka Amalia Writing Center. Founder Writerpreneur Club dan Women Script Community) Fb Deka Amalia Ridwan. Ig deka66. Blog: www.dekamalia.com Sudah menerbitkan 135  buku.