Minggu, 03 Desember 2017

Punya penghasilan dari menulis? Tentu bisa.


26 Tahun Menulis Artikel.
Dulu waktu saya muda he he he he...
Orang yang menulis artikel sangat terbatas sekali. Hanya mereka yang bekerja di dunia pendidikan, periklanan dan berita (koran atau majalah)
Pengalaman saya menulis artikel dimulai 26 tahun lalu. Ya Allah, lama ya. Menyadarkan saya jika saya sudah tua. Wk wk wk wk wk....
Tapi semua setuju ya, kalau saya awet muda. Eheeem....

Saya menulis artikel sejak memulai karir sebagai dosen. Menulis artikel ilmiah dan populer. Karena waktu luang masih ada, saya nyambi menulis artikel di sebuah perusaaan periklanan. Menulis artikel untuk majalah internal brand atau coffee book table brand.
Seiring waktu dan dengan hadirnya internet. Peluang menulis artikel terbuka luas. Dunia blogger pun hits. Maka kini semua orang yang tertarik bisa menulis artikel. Bahkan terbuka peluang menjadikan keterampilan menulis ladang penghasilan. Apakah sebagai blogger, reviewer, content writer atau jurnalis online. Saya pun akhirnya mendapat pekerjaaan sebagai content writer dan reviewer. Menyenangkan karena bisa dikerjakan di rumah dan uangnya pun cukup menggiurkan. Jutaan rupiah setiap bulannya. Peluang ini masih terbuka lebar. Jika anda berminat tentu bisa. Honor antara 100rb-1jt/artikel. Tergantung kualitas dan jam terbang kita. Jadi ini juga merupakan karir yang harus ditekuni. Semakin banyak portfolio kita maka makin besar posisi tawar soal honor.
Dan yang terpenting tentu ilmu menulisnya harus terus diasah. Butuh memahami ilmu teknik menulis yang baik. Pekerjaan ini dituntut keterampilan menulis yang harus terus diasah.
Saya banyak menulis tentang artikel di blog saya www.dekamalia.com.
Jika ingin dibimbing oleh saya, bisa mengikuti pelatihan offline. Catat tanggalnya: 10 Desember 2017. Tempat di Gokana Sarinah Thamrin. Ada akses busway.
Info lengkap pelatihan di bawah ini ya.
Jika ingin memulai karir baru di awal tahun 2018. Apakah sebagai content writer, reviewer, blogger atau jurnalis online.  Dan ingin punya buku kumpulan artikel. Manfaatkan kesempatan baik ini untuk belajar.

Deka Amalia


Ada rencana apa tahun depan?
Tutup akhir tahun yang manis dengan mengikuti pelatihan ini.
Bisa menjadikan karir kepenulisan anda melejit di tahun depan.
Pelatihan 1 hari offline dan 2 minggu online.
Anda akan belajar teknik menulis artikel yang baik dan benar.
Hari/tanggal: 10 Desember 2017
Waktu: 10 - 12.30 : Menulis Artikel bersama Deka Amalia
Anda akan belajar menulis kisah inspiratif yang menarik.
Waktu: 13.30 - 16.00:
Menulis Kisah Inspiratif
bersama Wylvera W
Hanya dengan Rp. 350.000, Anda akan mendapatkan fasilitas sebagai berikut:
1. Modul
2. ‎Sertifikat
3. ‎Makan siang
4. ‎Audisi. Karyanya akan diterbitkan dalam antologi bersama oleh Writerpreneur Club.
Lokasi
VIP Platinum
Gokana Ramen dan Teppan
Jl. M.H. Thamrin No 11.
Sarinah Thamrin
LT UG.
Jakarta Pusat
Akses Busway
Tunggu apa lagi. Amankan seat anda karena peserta dibatasi.
Salam Hangat
Deka Amalia Writing Center
*daftar wa: 0857 7167 3538. ‎ ‎


Mengapa menulis kisah Inspiratif?

Saya menulis kisah inspiratif sejak 17 tahun yang lalu. Sudah 8 buku terbit dalam berbagai kumpulan kisah inspiratif. Salah satunya bersama mbak Wylvera.W.
Saya menyukai jenis tulisan ini karena dengan menulis sebuah kisah dalam hidup saya, bisa menjadi kenangan indah dan tentunya memberi manfaat bagi pembaca. Setiap kali membaca tulisan tersebut selalu menimbulkan keharuan dan mengingatkan saya akan arti dalam hidup ini.
Mbak Wylvera dengan segudang pengalaman akan membimbing anda semua. Jadi dalam satu hari, anda akan dapat dua paket pelatihan yang luar biasa.

Ini salah kisah yang saya tulis, tentang anak sulung saya yang tuna rungu. Ini saat dia masih SD. Selamat menikmati ya.

Wylvera. W

Menulis cerita inspiratif itu menyenangkan. Ini salah satu kisah yang saya tulis.
Buku Harian Ungu
Oleh Deka Amalia
Sebuah buku harian bersampul ungu menarik perhatianku, tergeletak manis, rupanya ia lupa merapikannya kembali. Karena ini pertama kali aku melihatnya, belum pernah kulihat tiap kali aku memasuki kamarnya. Rasa ingin tahu membuatku mengambilnya, ragu sesaat antara ingin membaca tetapi seharusnya kuhargai privasinya dan tak boleh kubaca. Tetapi rasa ingin tahu mengalahkan keraguanku. Ah, tak apa kan kalau hanya ingin tahu sedikit saja, pikirku. Maka kuputuskan untuk melihatnya, membuka dan akhirnya kubaca.
~*~
Kata mereka diriku selalu dimanja, kata mereka diriku selalu ditimang. Oh, Bunda... ada dan tiada dirimu selalu ada di dalam hatiku...
Baik lagu itu mengawali buku harian ini, keharuan menyergap manakala kau sadari betapa berartinya dirimu dalam hidupnya. Sebuah foto tertempel di atas bait lagu itu, seraut wajah manis dengan senyum hangat. Kuseka airmataku yang perlahan mulai menitik.
~*~
Hari itu aku pergi dengan Mami, senang rasa hatiku. Mami mengatakan jika aku akan melihat sekolah baruku dengan teman-teman baru. Ada rasa takut sesaat kurasakan, rupanya Mami membaca kekuatiranku. ”Kamu pasti dapat teman yang baik dan banyak ya, juga guru-guru yang menyenangkan.”
Ia memelukku hangat, ”Jangan kuatir, Mami akan selalu mendampingi kamu sampai kau merasa nyaman.”
Aku mengangguk dan tersenyum meyakinkan Mami jika aku tidak apa-apa. Selalu begitu, setiap aku merasa takut, Mami pasti menenangkan aku dengan pelukan hangat yang selalu membuat aku merasa nyaman. Betapa tidak akan kumasuki dunia baru yang entah mengapa aku merasa berbeda denganku dan dengan sekolah lamaku. Tetapi belum bisa kumengerti apa perbedaannya.
~*~
Kuseka airmataku, rupanya ia menyadari perbedaan itu, saat aku memindahkannya dari Santi Rama, sekolah khusus untuk anak tuna rungu ke sekolah umum. Kulakukan ini karena aku yakin akan kemampuannya, kecerdasannya dan rasa percaya dirinya. Itulah yang selama ini kulakukan menumbuhkan rasa percaya diri jika ia sama dengan yang lain. Memiliki kelebihan di samping kekurangannya. Ingin kukatakan padanya selalu bahwa ia mampu melakukan apa saja yang diinginkannya sama seperti yang lain. Bagiku, ia teristimewa yang telah mengajarkan banyak hal tentang kehidupan.
~*~
Aku ingat, saat kecil dulu, Mami selalu jongkok jika bicara denganku, menatap mataku dengan penuh kasih.
”Kamu lapar?”
”Mau minum susu?”
”Capai ya?”
Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu lama-lama mampu aku mengerti, ingin aku menjawab tetapi sulit sekali kukeluarkan suara, maka aku tahu saat itu yang bisa kulakukan hanya mengangguk atau menggeleng. Kulihat gurat kesedihan di matanya tetapi ia tetap tersenyum, memandangku hangat dan memelukku erat. Sikapnya yang membuatku semangat setiap kali Mami mengajakku terapi bicara, sikapnya yang membuatku semangat untuk mampu bercakap dengannya. Ingin kupanggil namanya dengan keras, "Mamiiiiii.”
~*~
Aku tercekat, dadaku sesak. Aku ingat, aku memeluknya sambil menangis ketika suatu masa, ia mampu mengeluarkan kata yang bermakna. Bagaimana tidak, jika selama ini yang aku dengar dari mulutnya hanya guman yang tak jelas. Kebahagiaan apa yang mampu kulukiskan untuk mengungkapkannya. Saat aku dengar sebuah kata bermakna itu keluar pertama kali dari bibir mungilnya di usia 4 tahun, setelah sesi terapi bicara yang tak lagi terhitung dijalani dengan sabar. Penantian yang membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Maka bagaimana rasanya jika kemudian hasilnya yang didapat. ”Mami, aku lapar, mau minum susu.” begitu sebuah suara merdu membuatku tercekat tak percaya. Ya, Allah. Maha besar ALLAH. Katakan lagi sayang, katakan. Mami ingin dengar, katakan lagi, Nak.”
Dengan berurai airmata kugoncang tubuhnya, dan ia memandangku dengan bingung. Aku menelepon suamiku dengan uraian airmata.
”Ia bisa bicara, ia bisa bicara, ia bisa bicara.” Hanya itu kata yang mampu kusampaikan pada suamiku.
~*~
Aku sungguh bahagia kini aku mampu mengatakan apapun yang kuinginkan pada Mami. Lebih bahagia setiap kali aku pulang sekolah, kuberikan hasil ulanganku.”Mami, aku dapat 10 lagi.” begitu kataku dan Mami selalu menyambut dengan penuh rasa bangga.
”Anak Mami yang hebat.” Begitu selalu pujinya. Aku tahu begitu besar pengorbanan Mami untukku maka aku ingin selalu membuatnya bangga padaku. Aku ingin membahagiakan Mami karena begitu banyak yang telah Mami berikan padaku. Ia mengajariku banyak hal terutama aku harus ikhas dan sabar. Aku harus bersyukur atas semua karunia-Nya. Walau, kadang aku sedih. Mengapa aku ditakdirkan seperti ini, tak mendengar. Saat ingin kudengar suara yang jelas. Yang kudengar hanya sayup, jauh dan hingar bingar yang tak jelas. Harus kutatap wajah orang yang bicara padaku, agar aku mampu menangkap maknanya dan mampu menjawab apa yang mereka tanyakan padaku.
~*~
Aku tahu, akhirnya suatu saat ia menyadari kekurangannya. Tetapi, selalu kutanamkan rasa percaya diri jika kekurangan itu tak akan menghentikan langkahnya. Selalu kusemangati ia setiap kali kutangkap rona kesedihan di wajahnya. ”Gambarmu bagus sekali, ikut lomba ya.” biasanya ia dengan senang hati menyambut tawaranku. ”Aku mau melukis yang banyak ya, Mi.” jawabnya ”Ya, melukislah yang banyak karena itu akan semakin membuatmu terampil dan bisa melukis lebih bagus lagi.”
Aku bahagia saat kulihat lukisannya yang ceria dan cerah. Lukisan yang dihasilkan melukiskan suasana hati, maka aku bersyukur ia bahagia dengan dirinya dan keadaannya.
~*~
Apapun itu, aku bahagia. Dengan kekurangan ini akan kutunjukkan jika aku punya kelebihan. Kata-kata Mami tak akan pernah kulupakan,”Kamu bisa melakukan apa saja yang kamu mau dan kamu bisa menjadi apa saja jadi jangan sedih, jangan kecil hati ya. Kamu harus bangga dengan dirimu karena kamu punya keistimewaan sama seperti semua orang, punya kelebihan dan kekurangan.”
Begitu Mami selalu menanamkam rasa percaya diri padaku dan aku tak mau mengecewakannya. Aku tahu Mami selalu menyembunyikan tangis bahagia, saat menerima raportku yang bertebar angka 9. Aku tahu, ia terharu, walau yang dilakukannya hanya membelai rambutku. Tetapi, aku bersyukur telah membuat orang yang paling aku cintai bahagia. Orang itu adalah mamiku. Ia yang paling berarti dalam hidupku. Kadang, ingin kubertanya pada Mami. Mengapa aku tak mendengar tetapi aku tak ingin membuatnya sedih. Maka kusimpan semua pertanyaan itu dalam hati.
Mungkin memang tak perlu ada jawaban atas pertanyaan itu, yang harus kulakukan adalah ikhas dengan keadaanku dan aku memang ikhlas.
~*~
Kututup buku harian itu. Air mata terus menetes, tak mampu lagi kuteruskan. Aku bahagia jika ia memahami apa yang kutanamkan padanya tentang kehidupan. Tetapi, mungkin seharusnya atau sudah saatnya kami membahas ini. Ia sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang ceria kini. Menikmati hari-harinya seperti remaja lainnya. Sekolah, berenang, mengikuti berbagai aktifitas, menjadi pengurus OSIS, ikut pramuka, dan sederetan aktifitas lainnya. Ia pun sudah modis sekarang, memilih pakaian dan perlengkapan sesuai seleranya. Bersolek dengan berbagai asesoris. Akrab dengan internet dan mall. Ah, kau tak berbeda. Kuputuskan untuk membicarakan tentang ini dengannya nanti malam.
~*~
Maka malam itu, kuketuk pintu kamarnya. ”Hi, sedang apa sayang?” kulihat ia memegang buku harian ungu itu, tergesa menutupnya dan menyembunyikannya di bawah bantal.
Aku tersenyum menghampirinya
”.Eh, Mami. Biasa, baca-baca saja.” begitu jawabnya. ”Mami mau ngobrol-ngobrol, boleh?” ia mengangguk, ”Ngobrol apa, Mi?” tanyanya.
”Kamu punya pertanyaan gak?” ia terkejut
”Pertanyaan apa?” Ia bertanya balik
”Ya, yang mau kamu tanyakan pada Mami. Kalau ada Mami siap menjawab.” Kubiarkan ia tercenung sesaat, mungkin bingung dengan hal ini, tak menduga.
”Mengapa Mami bertanya seperti itu?” ia tampak tak mengerti.
Sesaat, aku bingung juga. Kubelai rambutnya,”Ya, Mami berpikir saja barangkali selama ini kamu ingin bertanya sesuatu tetapi selalu ragu.”
Ia tersenyum, ”Ya, itu dulu. Tetapi, sekarang tidak ada lagi. Aku sudah mengerti semua.”
Aku memandangnya tak percaya.
”Dulu, aku memang selalu ingin bertanya mengapa aku tak mendengar tetapi Mami sudah menjawabnya dengan memperlakukan aku demikian istimewa.”
Kupeluk ia, kubelai hangat. Ya, Allah. Aku bersyukur dengan kasih sayang yang kau karuniakan di antara kami. Kuingat sebuah kata dalam buku harian ungu itu, yang ditulis anakku untukku, ibunya. Mami, kau membuat hidupku secerah pelangi.
~*~
*terbit dalam buku kumpulan kisah inpiratif. For The Love of Mom. Penerbit Imania. 2011
*saat ini Suci sudah kuliah semester 5 dengan Ipk 3.8.
Mau belajar? Gabung yuk.



3 komentar:

  1. Wahh 26 sudah sangat lama y bu
    saya juga alhamdulillah dari nulis ada dapet penghasilan meski tidak banyak tapi bisa nambahin buat makan hehe

    BalasHapus
  2. wahhh saya ingin sekali menjadi penulis artikel yang dibayar bahal, terutama di blog saya karena media saya saat ini hanya blog saja.

    waahhh sayangnya hari minggu ini saya sedang tidak bisaaa :(

    BalasHapus
  3. Kisah yang inspiratif ya Bunda, perlu belajar banyak lagi ne dari Bunda yang sudah menulis sejak 26 tahun yang lalu dan saat itu aku belum lahir. Terima kasih atas kisahnya, aku akan terus mencoba menulis sebaik bunda. Salam kenal aku dari Aceh.

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan komentar dan terima kasih ya sudah meninggalkan komennya Salam hangat.
deka