Minggu, 12 April 2015

Teknik Mengolah Data untuk Review Produk



Menulis review produk adalah salah satu pekerjaan yang menyenangkan apalagi kalau dapat kontrak dari brand. Selama ini saya menulis untuk beberapa brand dan dimuat di majalah internal mereka. Atau, untuk bahan promosi di brosur, flyer, coffee book table dan sebagainya. Pembayarannya juga menyenangkan karena dapat dp dulu 50% lalu setelah setor artikel segera dilunasi. Akhirnya ini jadi salah satu pekerjaan saya.

Menulis review produk gampang-gampang sulit. Gampangnya karena data sudah ada jadi kita tinggal maramunya menjadi sebuah tulisan. Sulitnya kita tidak bisa asal meramu karena jika asal saja maka tulisan kita hanya seperti jualan saja. Tidak menarik untuk dibaca dan tidak sesuai dengan target yang diharapkan brand. Hasil tulisan kita harus memuaskan diri kita, brand dan pembaca sebagai target market brand. Kita harus merasa puas dengan apa yang kita tuliskan. Brand harus puas karena sesuai dengan yang diharapkan dan harus tepat sasaran saat dibaca oleh pembaca yang menjadi target market brand.

Kesalahan yang banyak dilakukan saat menulis review produk adalah menjejalkan semua data begitu saja hingga kesannya bertumpuk. Menggunakan kalimat yang berlebihan hingga kesannya terlalu mengada-ngada atau membandingkan dengan produk yang sama. Kadang juga menggunakan kalimat yang tidak rapi dan tidak ada kesimpulan yang bisa ditangkap oleh pembaca. Kesalahan itu harus kita hindari. 

Bagaimana caranya?

Di bawah ini adalah beberapa teknik yang biasa saya gunakan saat menulis review produk. Mungkin ada cara lain, tentu bisa saja. Karena banyak cara dan setiap orang bebas mau menggunakan cara apa.

  1. Saya berusaha mengenali produk lebih dekat ( product knowledge) dengan mencari berbagai informasi di luar apa yang diberitahukan brand pada saya. Bisa dengan membaca, melihat atau bertanya. Dari situ saya memahami brand tersebut dengan baik.
  2. Saya mencatat setiap data yang diberikan brand. Data tersebut tentu yang diharapkan brand ada dalam tulisan saya. 
  3. Saya mendengarkan dengan baik apa target yang diharapkan brand ada dalam review tersebut.
  4. Saya mencoba menggunakan produk brand tersebut agar tahu sendiri rasanya
  5. Bertanya kepada kenalan yang kebetulan menggunakan brand tersebut (testimoni)
  6. Setelah kelima poin tersebut lalu saya membuat draft tulisan. Pendahuluan apa, isi apa, data yang mana masuk kemana lalu kesimpulannya apa. Saya masukan setiap data pada setiap bagian secara menyebar. Menghindari kesan bertumpuk. Data saya gunakan  sebagai ilustrasi dari pemaparan saya.
  7. Saya lebih suka menulis dengan gaya bercerita dengan harapan pembaca tersentuh dengan apa yang saya sampaikan dan menerima review saya secara sukarela
  8. Saya masukan testimoni yang saya peroleh agar terkesan bahwa review saya sesusai kenyataan
  9. Saya sampaikan semua dengan jujur dan apa adanya
  10. Saya berikan kesimpulan di akhir tulisan agar menjadi bahan pertimbangan target market brand untuk mencoba produk tersebut dan bersedia menjadi pelanggan tetap.
  11. Cek kembali pastikan semua data yang diberikan brand sudah kita ulas dengan baik.
  12. Cek kembali setiap kalimat yang kita tulis sudah tepat atau belum
  13. Jika semua dirasa OK maka kita bisa menyetorkan tulisan tersebut atau diposting jika review tersebut untuk blog.
Hal tersebut di atas yang saya lakukan dalam mengolah data untuk review produk. Semoga bermanfaat yaa...

Salam Hangat































21 komentar:

  1. Bener mbak, kita harus mereview dengan jujur dan apa adanya...

    BalasHapus
  2. iya bener.. paling sebel emang kalu baca tulisan yang mirip banget iklan... eh.. meski sebenarnya review itu bagian dari iklan juga sih.. tapi tetep saja... kalau terlalu iklan suka diskip cepat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul Mbak Ade. Lebih enak dengan gaya bercerita jadi nggak terasa kl itu iklan...

      Hapus
  3. Kurang mak. Harus dimasukkan disclosure juga yg menyatakan kalo review itu dibayar ato mendapat kompensasi. Kalo blogger2 yg di luar kebanyakan hanya mau nulis setelah mencoba produknya dan foto2 yg ditaro adalah foto2 sendiri. Sbenernya ini lebih untuk masalah trust readers dan juga consumer protection :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi artikel di atas hanya tentang mengolah data. Makasi ya sudah menambahkan penjelasan.

      Hapus
  4. waaah trimakasih sharing ilmunya Bunda :) manfaat bgt

    BalasHapus
  5. Wah...ini ilmu baru nih utk menulis review.. Btw, colek2 aku ya kalau ada kerjaan job review..

    BalasHapus
  6. Thanks Mak infonya :D Kalau barangnya kita beli dengan uang sendiri biasanya kita bisa ceplas ceplos aja sama sisi negatifnya. Nah tapi kalo itu disponsori, kadang kita nggak bisa terlalu jujur sama jeleknya sih ya, hehehe :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul. Tapi aku lebih baik menolak me review produk yang nggak bagus atau mengecewakan kastemer.

      Hapus
  7. Salam kenal. Saya masih dalam taraf belajar tentang product review.

    Posting berbayar atau tidak, bagaimana menyusun kalimat biar manis di awal tapi gak jualan di belakang? Pengalaman saya, saya terjebak sama tulisan saya sendiri yang mencantumkan kata "untungnya bla bla bla". Saya sadar hal ini "kasar banget" untuk sebuah product review dan saya belajar terus gimana nih biar gak "kesrimpet". Kasih saya masukan dong.

    Tambahan, kalaupun kita jujur dalam mereview produk berbayar, sejauh mana dan sedalam apa kita berlaku jujur? Kita dibayar lho dan pastinya klien tetap berharap kita mereview (baca: promosi) produk mereka sesuai nilai yang telah/akan mereka berikan.

    BalasHapus
  8. menarik sekali. kebetulan saya juga menulis review dan advertorial di blog saya. hanya saja saya hanya menulis dari sudut pandang saya saja.

    thanks buat tips Nya ya

    BalasHapus
  9. ga gampang memang bikin tulisan review apalagi utk brand yg nantinya akan membayr kita.. makanya aku blm siap utk trima pekerjaan mereview berbayar gini :).. apalagi paling ga bisa disuruh mereview, tp aku nya sendiri ga pernah ngerasain produknya.. kecuali si brand nya masu ksh sample utk dicoba ya ga masalah... kalo baca tulisan org2 ttg sponsored post , aku jg lbh suka baca yg tulisannya dibikin ringan, sperti bercerita dan ga terlalu bertele2... pernah nemu tulisan yg panjaaaaaang banget, dan ujung2nya ga nangkep sebenernya poin apa yg mau dia paparkan :D.. blm selesai baca aku lgs close tab kalo nemu yg gitu

    BalasHapus
  10. Aihh..keren nih. Noted ya mbak. Buat jadi pelajaran saat bikin review produk nanti.

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan komentar dan terima kasih ya sudah meninggalkan komennya Salam hangat.
deka