Minggu, 15 Februari 2015

Cerpen :Di Sudut Waktu

Di Sudut Waktu
Deka Amalia.

Kutemukan kau disudut waktu
Dengan rindu yang masih tetap sama
Dengan kata yang tak sempat terucap
Dengan hati yang tetap kujaga...

Bagas tercenung membaca kalimat pertama dari sebuah naskah cerpen yang baru saja masuk ke alamat emailnya. Rentetan kalimat itu seperti menyambar ingatannya ke beberapa tahun silam, berapa lama ya, mungkin sekitar sepuluh tahun. Waktu yang cukup lama. Ia melirik nama penulisnya “RAIS” nama yang singkat untuk seorang penulis. Apakah mungkin nama asli atau nama pena? Dari Risa...? Bagas serasa tercekat mengingat nama itu, nama yang telah berusaha dilupakannya beberapa tahun silam. Apakah mungkin ini Risa nya yang dulu? batinnya...

Ia membaca cerpen itu, sangat menyentuh. Cukup piawai untuk seorang penulis pemula. Kata-katanya terjalin rapi, ide yang unik dan penggambaran karakter yang kuat. Bukan karena puisi di awal kalimat cerpen itu, juga bukan karena nama penulisnya yang mengingatkan Bagas akan sebuah nama. Ia memutuskan untuk memilih cerpen ini untuk edisi terbaru majalahnya yang akan terbit minggu depan. Ia memanggil staff nya dan memberikan naskah itu.

“Bisa kamu telpon penulisnya untuk datang ke kantor kita besok?’ tanya Bagas pada Muti, salah seorang staff redaksi. Muti agak terkejut karena tak biasanya Bagas memberi perhatian pada penulis pemula. “ Saya mau menulis profil tentang penulis pemula yang berbakat, melihat dari cerpen itu, keliatannya dia cocok.”  Bagas memberi penjelasan tanpa diminta, seperti mengerti pikiran staff nya itu, Muti hanya mengangguk dan keluar dari ruangan Bagas. Ntah mengapa ia seperti ingin memastikan apakah Rais itu Risa.

Kalimat puisi itu pernah menyentuh hatinya sama seperti saat ini. Mengapa kini ia masih merasakan getar yang sama, apakah hatinya memang hanya untuk Risa? Sehingga itu yang membuatnya tetap melajang hingga usia diatas 35 ini. Dengan wajah tampan yang semakin matang dan karir yang mapan, bukan hal yang sulit bagi Bagas untuk mencari pendamping. Mudah mungkin tetapi hatinya tak pernah tergetar seperti saat ini, seperti saat dulu ia menyatakan cinta pada Risa. Semasa SMA, ya Tuhan...masa itu telah berabad lewat rasanya.
Dulu, ia menemukan bait puisi yang sama di agenda harian Risa yang tertinggal di perpustakaan. Tak sengaja ia membuka dan membacanya. Ia begitu tersentuh, ntah lah sebuah rasa yang sulit dimengerti tetapi itulah awal ia tertarik akan seraut wajah cantik, anggun dan cerdas. Risa, teman sekelasnya. Setelah semakin akrab, ia memberanikan diri menyatakan cinta dan Risa menyambutnya. Maka kisah kasih mereka menjadi kisah indah selama masa di SMA.

Jadi apakah Rais ini Risa? mana mungkin seseorang bisa menulis kalimat yang persis sama. Atau Risa tahu, editor dari majalah ini adalah dirinya, Bagas, mantan kekasihnya semasa SMA lalu ia sengaja mengirim cerpen ini. Dari mana ia tahu itu adalah Bagas nya yang dulu. Tiba-tiba Bagas merasa geli sendiri, mengapa ia menjadi galau seperti ini. Apakah ia berharap cerita lama terulang lagi? Apakah Risa sendiri saat ini? Semua kemungkinan bisa terjadi, bisik Bagas. Sedikit tak percaya, ia menyimpan harapan seperti itu. Bagaimana jika Rais itu nama asli dan kebetulan ia menulis puisi yang persis sama dengan Risa bertahun silam?
“Mb.Rais besok bisa datang sekitar jam 10 pagi” suara Muti mengagetkannya. Anak ini gemar sekali bicara tiba-tiba tanpa basa basi. Bagas hanya mengangguk dan Muti kembali berlalu. Tak hirau akan kehadiran Muti, Bagas kembali terbawa imaginasi tentang penulis cerpen ini. Rais....Risa....seketika ia merasa sedang melakukan hal yang konyol, sudahlah lihat besok saja, batinnya...

Namun nyatanya nama itu terbawa hingga ia pulang kerumah.  Wajah Risa nya yang dulu seperti jelas terbayang, kenangan bersamanya seperti sebuah rekaman  yang tiba-tiba muncul semua. Risa adalah cinta pertamanya, ia seorang gadis yang baik, pintar dan sangat aktif, ia suka sekali menulis puisi, pernah menjuarai berbagai perlombaan menulis, cerpennya kerap menghiasai majalah sekolah. Cerita-ceritanya menjadi saksi perjalanan mereka selama di SMA. Semua menyukainya, karena ia sangat ramah pada setiap orang. Itu kadang yang suka bikin Bagas cemburu, Risa tak pernah bisa menolak kebaikan temannya. Jika Bagas protes, mereka kan teman kita juga, begitu jawabnya. Lucu ya masa itu...dan, Bagas pun bermimpi tentang Risa...

~*~

Risa bersorak kegirangan saat staff majalah itu mengabarkan cerpennya akan dimuat minggu depan dan ia diminta datang ke kantor mereka besok, akan dimuat profilnya juga. Ia akan diwawancara dan di fhoto. Risa sedikit gamang. Wah, ia kan penulis pemula, belum pantas seperti itu. Baru beberapa cerpen dan 1 novel yang terbit. Novelnya juga masih  biasa-biasa saja, bukan novel best seller. Ia merasa belum pantas. Namun kata mb dari majalah itu tadi, mereka mau menampikan penulis pemula yang berbakat. Ya, mungkin itu ya....bisik batin Risa.
Ping!!!
Mas, cerpenku dimuat
Wah, selamat ya. Pasti kamu senang..
Senang banget mas. Oya besok aku ijin pergi mas, aku di undang ke majalah itu. Katanya mau ada wawancara lalu di fhoto untuk profil penulis pemula berbakat.
Wah, itu tandanya sebentar lagi kamu ngetop
Ah, mas bisa ajah, masih jauh mas...
Ya sudah, boleh pergi, tapi Ayu kamu bawa atau titip..
Aku titipkan mamah, nggak apa-apa kan mas? Kalau aku ajak kasian, nanti Ayu cape..
Oh ya sudah, kamu telpon mamah supaya besok mamah tidak keluar rumah
Ok, mas baik deh, terima kasih ya sayang
Iya sayang....he he he

Risa merasa sangat bahagia, memiliki seorang suami yang baik dan mendukung cita-citanya. Mereka juga telah dikaruniai seorang anak gadis cilik, Ayu. Buah hati yang kini mengisi hari-hari mereka. Rasanya dunia sangat cerah bagi Risa kini, walaupun pada masa awal pernikahan ia merasa sungguh kesulitan. Pernikahannya dengan Heru karena perjodohan kedua orang tua mereka. Agak aneh untuk jaman sekarang ya, tapi ia mengambil sisi baiknya. Saat dilihatnya Heru seorang pria yang baik, tampan dan cukup mapan maka ia menerima pilihan orang tuanya itu.

Walaupun saat itu ia dihadapkan pada pilihan yang sulit karena ia sudah memiliki kekasih yang sangat dicintainya tetapi ia tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya. Ia tak sanggup menikah tanpa restu orang tuanya. Ia memilih menjadi anak yang berbakti daripada mempertahankan keinginannya. Mungkin, ini jodohnya dan orang tuanya menjadi perantaranya. Ia mencoba ikhlas dan belajar mencintai Heru.

Ternyata tak membutuhkan waktu lama, Heru seorang suami yang sangat baik. Orang tuanya tak salah memilihkan jodoh untuknya. Risa pun jatuh cinta dan bisa merasakan cinta yang tulus dari Heru. Waktu berjalan dan ia merasa bersyukur atas semua karunia Tuhan kepadanya. Heru tidak melarang apapun  yang bisa membahagiakannya termasuk menulis. Maka ia memutuskan untuk datang memenuhi undangan itu, siapa tahu ini jalan yang baik untuknya.
~*~

Tiba di kantor majalah tersebut tepat jam 10 pagi. Salah seorang staff menunjukan ruangan tempat ia menemui editor majalah ini. Dari kaca ruangan itu, ia melihat seorang pria yang tampak gelisah, hilir mudik tidak jelas. Apa yang ia kerjakan? Bisiknya heran. Namun, ia melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu. Sebuah ruangan yang sangat macho, rapi dan wangi.

Mereka terpana saat saling memandang.  Sebuah pertemuan yang tidak mereka duga, terutama bagi Risa.
Risa????
Bagas????
Dan, mereka tertawa saling bersalaman...hangat.
“Aku sudah menduga saat membaca cerpen kamu kemarin, Rais...Risa...dekat sekali.”  Bagas memulai pembicaraan.
“Aku sama sekali tak menyangka itu kamu.” Tanggap Risa
“Oya? Kamu nggak perhatikan nama-nama editor di majalah yang akan kamu kirimi tulisan kamu?”
“Perhatikan, tetapi tak menyangka Bagas itu ya kamu, karena kamu dulu bercita-cita jadi pilot kenapa bisa jadi editor?”
Bagas tertawa lepas, “ Ya, perjalanan nasib” sanggahnya
“Bagaimana keadaan kamu sekarang,Risa?” Bagas bertanya dengan mimik serius
Dan, Risa tercekat saat mereka bertemu pandang. Sorot mata itu sama seperti sorot mata yang biasa ia temukan di wajah Bagas bertahun silam. Ia menghindar dari tatapan itu, kini membuatnya jengah.
“Saya punya seorang putri, Gas. Usinya 5 tahun, sedang lucu-lucunya. Hei, bagaimana dengan kamu, berapa anakmu? “ Risa mencoba mencairkan suasana
“Aku belum menikah, jadi ya belum punya anak he he he “ Bagas menjawab dengan mimik lucu. Namun jawaban Bagas menimbulkan rasa bersalah di hati Risa.
“Maafkan aku, Bagas....” Risa berbisik lirih..
Bagas tersenyum, “ Aku sudah memaafkan,Ris...”
“Apa kamu bahagia dengan kehidupan kamu saat ini?” lanjut Bagas...
Tak terasa mata Risa berkaca, mengingat bagaimana dulu ia meninggalkan Bagas karena tak bisa menolak perjodohan orang tuanya, saat itu sangat berat bagi Risa. Bagas menerima meski Risa pun tahu itu berat baginya. Kisah ini tampak klise,  tetapi itu yang terjadi dan kini Bagas memikirkan kebahagiaannya?
“Aku bahagia,”  Risa menjawab pasti
Bagas tersenyum, “Syukurlah, aku juga bahagia, Risa, hanya belum ketemu gadis seperti kamu.”
“Itu karena kamu nggak serius mencari, Gas” Risa mencoba mengalihkan.
“Kamu mencintai suamimu?” tanya Bagas sambil menatap tajam
“Tentu, Gas. Maaf, sesungguhnya ini kah tujuan kamu meminta Aku datang?” nada suara Risa berubah, baru menyadari semua ini.
“Karena cerpen itu....yang kamu kirim, ada puisi yang kamu tulis, puisi yang dulu pernah kamu tuliskan untukku”
Jelas Bagas
Risa tiba- tiba tertawa lepas
“Jadi semua ini karena puisi itu lalu kamu pikir aku masih mencintai kamu?”
Risa menghentikan tawanya saat dilihatnya wajah Bagas yang tetap serius
“Apa salah, Risa? Kamu lihat Aku masih sendiri hingga kini, Aku tidak bisa melupakan kamu. Hatiku tidak pernah bergetar seperti saat membaca puisi yang kamu kirim, tolong jangan tertawakan aku.”
“Maafkan aku, Bagas. Tapi itu semua sudah berlalu, Aku sudah menikah, punya seorang putri dan Aku bahagia. Aku tak berpikir sejauh itu, Aku hanya menulis dan kebetulan puisi itu menjadi pembuka kisah yang Aku tulis.” Jelas Risa
“Bukan karena ingat Aku?” Bagas memastikan
Risa hanya mampu menggeleng
“Baiklah, kalau begitu, sekarang waktunya wawancara ya Mb.Rais. profil Anda akan dimuat minggu depan” 
Risa terpana Bagas mampu mengalihkan semua dengan santai
“Jangan bengong, Aku tidak apa-apa. puisi itu mengingatkan Aku pada Kamu, dan maafkan kalau Aku salah menduga, Aku akan lanjutkan hidupku, doakan segera ketemu jodoh ya.” canda Bagas
“Kita berteman?” lanjut Bagas
Risa tersenyum, hatinya sungguh lega...
Mungkin pertemuan ini sudah ada dalam rencananya-Nya, untuk saling melegakan keduanya dalam melanjutkan hidup masing-masing.
~*~


7 komentar:

  1. Endingnya bagus mbak....dari pacaran...putus...lalu set back ke teman lagi. walau sangat jarang terjadi, tapi bagus mb cerpennya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasi Bunda. Iya jarang ya he he he

      Hapus
  2. Balasan
    1. Makasi mbak Fita. uhuuuy dibilang bagus sama mbak fita, rasanya sesuatu bangeet....

      Hapus
  3. Pengin bisa menulis fiksi
    Ajari donk Mbak
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
  4. Bagus te..... kalo jadi novel juga,hihi

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan komentar dan terima kasih ya sudah meninggalkan komennya Salam hangat.
deka