Senin, 02 Februari 2015

Aku dan Suci

Buku Harian Ungu

Oleh Deka Amalia

Sebuah buku harian bersampul ungu menarik perhatianku,tergeletak manis,rupanya ia lupa merapikannya kembali Karena ini pertama kali aku melihatnya,belum pernah kulihat tiap kali aku memasuki kamarnya. Rasa ingin tahu membuatku mengambilnya,ragu sesaat antara ingin membaca tetapi seharusnya kuhargai privasinya dan tak boleh kubaca. Tetapi rasa ingin tahu mengalahkan keraguanku. Ah,tak apa kan kalau hanya ingin tahu sedikit saja,pikirku. Maka kuputuskan untuk melihatnya,membuka dan akhirnya kubaca.

Kata mereka diriku selalu dimanja,kata mereka diriku selalu ditimang. Oh,bunda... ada dan tiada dirimu selalu ada didalam hatiku...
Baik lagu itu mengawali buku harian ini,keharuan menyergap manakala kau sadari betapa berartinya dirimu dalam hidupnya. Sebuah fhoto tertempel diatas bait lagu itu, seraut wajah manis dengan senyum hangat. Kuseka airmataku yang perlahan mulai menitik.

Hari itu aku pergi dengan mami,senang rasa hatiku. Mami mengatakan jika aku akan melihat sekolah baruku dengan teman-teman baru. Ada rasa takut sesaat kurasakan,rupanya mami membaca kekuatiranku. ”Kamu pasti dapat teman yang baik dan banyak ya juga guru-guru yang menyenangkan.” ia memelukku hangat,”Jangan kuatir,mami akan selalu mendampingi kamu sampai kau merasa nyaman.”  Aku mengangguk dan tersenyum meyakinkan mami jika aku tidak apa-apa. Selalu begitu, setiap aku merasa takut,mami pasti menenangkan aku dengan pelukan hangat yang selalu membuat aku merasa nyaman.  Betapa tidak akan kumasuki dunia baru yang ntah mengapa aku merasa berbeda denganku dan dengan sekolah lamaku. Tetapi belum bisa kumengerti apa perbedaannya.

Kuseka airmataku, rupanya ia menyadari perbedaan itu, saat aku memindahkannya dari santi rama,sekolah khusus untuk anak tuna runggu ke sekolah umum. Kulakukan ini karena aku yakin akan kemampuannya,kecerdasannya dan rasa percaya dirinya. Itulah yang selama ini kulakukan menumbuhkan rasa percaya diri jika ia sama dengan yang lain. Memiliki kelebihan disamping kekuranganya. Ingin kukatakan padanya selalu bahwa ia mampu melakukan apa saja yang diinginkanya sama seperti yang lain. Bagiku, ia teristimewa yang telah mengajarkan banyak hal tentang kehidupan.

Aku ingat, saat kecil dulu,mami selalu jongkok jika bicara denganku,menatap mataku dengan penuh kasih. ” Kamu lapar?” ”Mau minum susu?” ” Capai ya?” pertanyaan-pertanyaan sederhana itu lama-lama mampu aku mengerti ingin aku menjawab tetapi sulit sekali kukeluarkan suara, maka aku tahu saat itu yang bisa kulakukan hanya mengangguk atau menggeleng. Kulihat gurat kesedihan dimatanya tetapi ia tetap tersenyum,memandangku hangat dan memelukku erat. Sikapnya yang membuatku semangat setiap kali mami mengajakku terapi bicara, sikapnya yang membuatku semangat untuk mampu bercakap dengannya. Ingin kupanggil namanya dengan keras,”Mamiiiiii.”

Aku tercekat, dadaku sesak. Aku ingat, aku memeluknya sambil menangis ketika suatu masa,ia mampu mengeluarkan kata yang bermakna. Bagaimana tidak, jika selama ini yang kau dengar dari mulutnya hanya guman yang tak jelas. Kebahagiaan apa yang mampu ku lukiskan untuk mengungkapkannya saat kau dengar sebuah kata bermakna itu keluar pertama kali dari bibir mungilnya di usia 4 tahun,setelah sesi terapi bicara yang tak lagi terhitung kau jalani dengan sabar selama 2 tahun lebih. Penantian yang membutuhkan kesabaran yang luar biasa, maka.bagaimana rasanya jika kemudian hasilnya kau dapat. ”Mami,aku lapar,mau minum susu.” begitu sebuah suara merdu membuatku tercekat tak percaya.” Ya,Allah. Maha besar ALLAH. Katakan lagi sayang, katakan. Mami ingin dengar, katakan lagi,nak.” dengan berurai airmata kugoncang tubuhnya, dan ia memandangku dengan bingung. Aku menelepon suamiku dengan uraian airmata.” Ia bisa bicara, ia bisa bicara, ia bisa bicara.” Hanya itu kata yang mampu kujelaksan pada suamiku.

Aku sungguh bahagia kini aku mampu mengatakan apapun yang kuinginkan pada mami. Lebih bahagia setiap kali aku pulang sekolah, kuberikan hasil ulanganku.”Mami,aku dapat 10 lagi.” begitu kataku dan mami selalu menyambut dengan penuh rasa bangga.” Anak mami yang hebat.” Begitu selalu pujinya. Aku tahu begitu besar pengorbanan mami untukku maka aku ingin selalu membuatnya bangga padaku. Aku ingin membahagiakan mami karena begitu banyak yang telah mami berikan padaku. Ia mengajariku banyak hal terutama aku harus ikhas dan sabar. Aku harus bersyukur atas semua karunia-Nya. Walau, kadang aku sedih. Mengapa aku ditakdirkan seperti ini, tak mendengar. Walau,aku kini bisa bicara, tetapi sangat ingin kudengar suara yang jelas. Yang kudengar hanya sayup,jauh dan hingar bingar yang tak jelas. Harus kutatap wajah orang yang bicara padaku,agar aku mampu menangkap maknanya dan mampu menjawab apa yang mereka tanyakan padaku.

Aku tahu,akhirnya suatu saat ia menyadari kekurangannya. Tetapi, selalu kutanamkan  rasa percaya diri jika kekurangan itu tak akan menghentikan langkahnya. Selalu kusemangati ia setiap kali kutangkap rona kesedihan di wajahnya. ”Gambarmu bagus sekali, ikut lomba ya.” biasanya ia dengan senang hati menyambut tawaranku. ”Aku mau melukis yang banyak ya mi.” jawabnya ”ya,melukislah yang banyak karena itu akan semakin membuatmu terampil dan bisa melukis lebih bagus lagi.” Aku bahagia saat kulihat lukisannya yang ceria dan cerah. Lukisan yang dihasilkan melukiskan suasana hati, maka aku bersyukur ia bahagia dengan dirinya dan keadaannya.

Apapun itu,aku bahagia. Dengan kekurangan ini akan kutunjukkan jika aku punya kelebihan. Kata-kata mami tak akan pernah kulupakan,”Kamu bisa melakukan apa saja yang kamu mau dan kamu bisa menjadi apa saja jadi jangan sedih,jangan kecil hati ya. Kamu harus bangga dengan dirimu karena kamu punya keistimewaan sama seperti semua orang,punya kelebihan dan kekurangan.” begitu mami selalu menanamkam rasa percaya diri padaku dan aku tak mau mengecewakannya. Aku tahu mami selalu menyembunyikan tangis bahagia,saat menerima raportku yang bertebar angka 9. Aku tahu,ia terharu,walau yang dilakukannya hanya membelai rambutku. Tetapi,aku bersyukur telah membuat orang yang paling aku cintai bahagia. Orang itu adalah mamiku. Ia yang paling berarti dalam hidupku. Kadang,ingin kubertanya pada mami. Mengapa aku tak mendengar tetapi aku tak ingin membuatnya sedih. Maka kusimpan semua pertanyaan itu dalam hati, mungkin memang tak perlu ada jawaban atas pertanyaan itu, yang harus kulakukan adalah ikhas dengan keadaanku dan aku memang ikhlas.

Kututup buku harian itu. Air mata terus menetes, tak mampu lagi kuteruskan. Aku bahagia jika ia memahami apa yang kutanamkan padanya tentang kehidupan. Tetapi,mungkin seharusnya atau sudah saatnya kami membahas ini. Ia sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang ceria kini. Menikmati hari-harinya seperti remaja lainnya. Sekolah,berenang.mengikuti berbagai aktifitas,menjadi pengurus OSIS,ikut pramuka, dan sederetan aktifitas lainnya. Ia pun sudah modis sekarang, memilih pakaian dan perlengakapan sesuai selearanya. Bersolek dengan berbagai asesoris. Akrab dengan internet dan mall. Ah,kau tak berbeda. Kuputusakan untuk membicarakan tentang ini dengannya nanti malam.

Maka malam itu, kuketuk pintu kamarnya. ”Hi,sedang apa sayang.” kulihat ia menggemgam buku harian ungu itu,tergesa menutupnya dan menyembunyikannya dibawah bantal.Aku tersenyum,” Eh,mami.biasa mi baca-baca saja.” begitu jawabnya. ”Mami mau ngobrol-ngobrol,boleh?” ia mengangguk, ”Ngobrol apa,mi?” tanyanya.  ”Kamu punya pertanyaan ga?”  ia terkejut   ”Pertanyaan apa?” bertanya balik    ” Ya, yang mau kamu tanyakan pada mami. Kalau ada mami siap menjawab”  Kubiarkan ia tercenung sesaat,mungkin bingung dengan hal ini,tak menduga.”Mengapa mami bertanya seperti itu?” ia tampak tak mengerti. Sesaat,aku bingung juga. Kubelai rambutnya,”Ya,mami berfikir saja barangkali selama ini kamu ingin bertanya sesuatu tetapi selalu ragu.” Ia tersenyum,”Ya,itu dulu mi. Tetapi,sekarang tidak ada lagi,aku sudah mengerti semua.” aku memandangnya tak percaya. ”Dulu, aku memang selalu ingin bertanya mengapa aku tak mendengar tetapi mami sudah menjawabnya dengan memperlakukan aku demikian istimewa.”

Kupeluk ia,kubelai hangat. Ya,Allah. Aku bersyukur dengan kasih sayang yang kau karuniakan diantara kami. Kuingat sebuah kata dalam buku harian ungu itu,yang ditulis anakku untukku,ibunya. Mami,kau membuat hidupku secerah pelangi.


Ilustrasi oleh Suci

*naskah ini masuk ke dalam buku terbit


6 komentar:

  1. salam sama suci dan lukisannya ya bundaa :)

    BalasHapus
  2. Apik cerpennya Jeng
    Saya pontang-panting belajar menulis cerpen
    Buku saya umumnya non fiksi
    Semoga bisa menulis fiksi.
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasi Pakde.
      Amiiiin Pakde....
      Salam juga....

      Hapus

Silahkan tinggalkan komentar dan terima kasih ya sudah meninggalkan komennya Salam hangat.
deka