Kamis, 19 Februari 2015

Lomba merangkai kata romantis, berhadiah maksi di Resto.


Dulu pernah bikin lomba Mini FF. Sekarang mau bikin kuis merangkai kata romantis khusus untuk female ya. Tersedia Hadiah :
Hadiah Spesial untuk pemenang utama : Aku traktir makan siang untuk yang domisili Jabodetabek. Di Restoran yang ada di foto aku itu, supaya bisa makan sepuasnya sampai kenyang he he he 
 Untuk luar kota diganti dengan hadiah cantik senilai menu makan siang di sana ya.
Pemenang 1 : Paket buku senilai Rp.250.000 dan Sovenir
Pemenang 2 : Paket buku senilai Rp.250. 000
Kuis Merangkai Kata Romantis: Ikutan kuis seru yuuk. Periode kuis mulai hari ini sampai sabtu, 28 Februari 2015. Mudah saja. Lanjutkan kalimat aku di bawah ini ya :
‪#‎rangkaian‬ kata romantis
Bertahun telah berlalu, hari berganti dan jam yang berdetak. Rasa ini tetap sama. Meski apa yang terjadi, tak ada yang bisa mengubahnya. Ia tinggal di sana, menetap dan tak mau pergi. Rasa ini hanya padamu...@deka amalia ridwan Writing Training Center
Posting seperti contoh ya.
Lanjutkan kalimat itu ya, dengan rangkaian kata versi kamu. Ayo, sambil berlatih menulis status romantis he he he
Syarat :
Tulis di wall fb kamu dengan #merangkaikataromantis
Like page Writing Training Center
https://www.facebook.com/pages/Writing-Training-Center/118940281608370
Tag ke fb saya (deka amalia ridwan) dan Writing Training Center. 
Bila tidak di tag, tidak dinilai ya.
Hadiah ini disponsori oleh Writing Training Center.
‪#‎seru‬-seruan
‪#‎supaya‬ wall penuh dengan rangkaian kata
‪#‎rame‬ ajah
Only for Women.
salam
deka

Minggu, 15 Februari 2015

Cerpen :Di Sudut Waktu

Di Sudut Waktu
Deka Amalia.

Kutemukan kau disudut waktu
Dengan rindu yang masih tetap sama
Dengan kata yang tak sempat terucap
Dengan hati yang tetap kujaga...

Bagas tercenung membaca kalimat pertama dari sebuah naskah cerpen yang baru saja masuk ke alamat emailnya. Rentetan kalimat itu seperti menyambar ingatannya ke beberapa tahun silam, berapa lama ya, mungkin sekitar sepuluh tahun. Waktu yang cukup lama. Ia melirik nama penulisnya “RAIS” nama yang singkat untuk seorang penulis. Apakah mungkin nama asli atau nama pena? Dari Risa...? Bagas serasa tercekat mengingat nama itu, nama yang telah berusaha dilupakannya beberapa tahun silam. Apakah mungkin ini Risa nya yang dulu? batinnya...

Ia membaca cerpen itu, sangat menyentuh. Cukup piawai untuk seorang penulis pemula. Kata-katanya terjalin rapi, ide yang unik dan penggambaran karakter yang kuat. Bukan karena puisi di awal kalimat cerpen itu, juga bukan karena nama penulisnya yang mengingatkan Bagas akan sebuah nama. Ia memutuskan untuk memilih cerpen ini untuk edisi terbaru majalahnya yang akan terbit minggu depan. Ia memanggil staff nya dan memberikan naskah itu.

“Bisa kamu telpon penulisnya untuk datang ke kantor kita besok?’ tanya Bagas pada Muti, salah seorang staff redaksi. Muti agak terkejut karena tak biasanya Bagas memberi perhatian pada penulis pemula. “ Saya mau menulis profil tentang penulis pemula yang berbakat, melihat dari cerpen itu, keliatannya dia cocok.”  Bagas memberi penjelasan tanpa diminta, seperti mengerti pikiran staff nya itu, Muti hanya mengangguk dan keluar dari ruangan Bagas. Ntah mengapa ia seperti ingin memastikan apakah Rais itu Risa.

Kalimat puisi itu pernah menyentuh hatinya sama seperti saat ini. Mengapa kini ia masih merasakan getar yang sama, apakah hatinya memang hanya untuk Risa? Sehingga itu yang membuatnya tetap melajang hingga usia diatas 35 ini. Dengan wajah tampan yang semakin matang dan karir yang mapan, bukan hal yang sulit bagi Bagas untuk mencari pendamping. Mudah mungkin tetapi hatinya tak pernah tergetar seperti saat ini, seperti saat dulu ia menyatakan cinta pada Risa. Semasa SMA, ya Tuhan...masa itu telah berabad lewat rasanya.
Dulu, ia menemukan bait puisi yang sama di agenda harian Risa yang tertinggal di perpustakaan. Tak sengaja ia membuka dan membacanya. Ia begitu tersentuh, ntah lah sebuah rasa yang sulit dimengerti tetapi itulah awal ia tertarik akan seraut wajah cantik, anggun dan cerdas. Risa, teman sekelasnya. Setelah semakin akrab, ia memberanikan diri menyatakan cinta dan Risa menyambutnya. Maka kisah kasih mereka menjadi kisah indah selama masa di SMA.

Jadi apakah Rais ini Risa? mana mungkin seseorang bisa menulis kalimat yang persis sama. Atau Risa tahu, editor dari majalah ini adalah dirinya, Bagas, mantan kekasihnya semasa SMA lalu ia sengaja mengirim cerpen ini. Dari mana ia tahu itu adalah Bagas nya yang dulu. Tiba-tiba Bagas merasa geli sendiri, mengapa ia menjadi galau seperti ini. Apakah ia berharap cerita lama terulang lagi? Apakah Risa sendiri saat ini? Semua kemungkinan bisa terjadi, bisik Bagas. Sedikit tak percaya, ia menyimpan harapan seperti itu. Bagaimana jika Rais itu nama asli dan kebetulan ia menulis puisi yang persis sama dengan Risa bertahun silam?
“Mb.Rais besok bisa datang sekitar jam 10 pagi” suara Muti mengagetkannya. Anak ini gemar sekali bicara tiba-tiba tanpa basa basi. Bagas hanya mengangguk dan Muti kembali berlalu. Tak hirau akan kehadiran Muti, Bagas kembali terbawa imaginasi tentang penulis cerpen ini. Rais....Risa....seketika ia merasa sedang melakukan hal yang konyol, sudahlah lihat besok saja, batinnya...

Namun nyatanya nama itu terbawa hingga ia pulang kerumah.  Wajah Risa nya yang dulu seperti jelas terbayang, kenangan bersamanya seperti sebuah rekaman  yang tiba-tiba muncul semua. Risa adalah cinta pertamanya, ia seorang gadis yang baik, pintar dan sangat aktif, ia suka sekali menulis puisi, pernah menjuarai berbagai perlombaan menulis, cerpennya kerap menghiasai majalah sekolah. Cerita-ceritanya menjadi saksi perjalanan mereka selama di SMA. Semua menyukainya, karena ia sangat ramah pada setiap orang. Itu kadang yang suka bikin Bagas cemburu, Risa tak pernah bisa menolak kebaikan temannya. Jika Bagas protes, mereka kan teman kita juga, begitu jawabnya. Lucu ya masa itu...dan, Bagas pun bermimpi tentang Risa...

~*~

Risa bersorak kegirangan saat staff majalah itu mengabarkan cerpennya akan dimuat minggu depan dan ia diminta datang ke kantor mereka besok, akan dimuat profilnya juga. Ia akan diwawancara dan di fhoto. Risa sedikit gamang. Wah, ia kan penulis pemula, belum pantas seperti itu. Baru beberapa cerpen dan 1 novel yang terbit. Novelnya juga masih  biasa-biasa saja, bukan novel best seller. Ia merasa belum pantas. Namun kata mb dari majalah itu tadi, mereka mau menampikan penulis pemula yang berbakat. Ya, mungkin itu ya....bisik batin Risa.
Ping!!!
Mas, cerpenku dimuat
Wah, selamat ya. Pasti kamu senang..
Senang banget mas. Oya besok aku ijin pergi mas, aku di undang ke majalah itu. Katanya mau ada wawancara lalu di fhoto untuk profil penulis pemula berbakat.
Wah, itu tandanya sebentar lagi kamu ngetop
Ah, mas bisa ajah, masih jauh mas...
Ya sudah, boleh pergi, tapi Ayu kamu bawa atau titip..
Aku titipkan mamah, nggak apa-apa kan mas? Kalau aku ajak kasian, nanti Ayu cape..
Oh ya sudah, kamu telpon mamah supaya besok mamah tidak keluar rumah
Ok, mas baik deh, terima kasih ya sayang
Iya sayang....he he he

Risa merasa sangat bahagia, memiliki seorang suami yang baik dan mendukung cita-citanya. Mereka juga telah dikaruniai seorang anak gadis cilik, Ayu. Buah hati yang kini mengisi hari-hari mereka. Rasanya dunia sangat cerah bagi Risa kini, walaupun pada masa awal pernikahan ia merasa sungguh kesulitan. Pernikahannya dengan Heru karena perjodohan kedua orang tua mereka. Agak aneh untuk jaman sekarang ya, tapi ia mengambil sisi baiknya. Saat dilihatnya Heru seorang pria yang baik, tampan dan cukup mapan maka ia menerima pilihan orang tuanya itu.

Walaupun saat itu ia dihadapkan pada pilihan yang sulit karena ia sudah memiliki kekasih yang sangat dicintainya tetapi ia tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya. Ia tak sanggup menikah tanpa restu orang tuanya. Ia memilih menjadi anak yang berbakti daripada mempertahankan keinginannya. Mungkin, ini jodohnya dan orang tuanya menjadi perantaranya. Ia mencoba ikhlas dan belajar mencintai Heru.

Ternyata tak membutuhkan waktu lama, Heru seorang suami yang sangat baik. Orang tuanya tak salah memilihkan jodoh untuknya. Risa pun jatuh cinta dan bisa merasakan cinta yang tulus dari Heru. Waktu berjalan dan ia merasa bersyukur atas semua karunia Tuhan kepadanya. Heru tidak melarang apapun  yang bisa membahagiakannya termasuk menulis. Maka ia memutuskan untuk datang memenuhi undangan itu, siapa tahu ini jalan yang baik untuknya.
~*~

Tiba di kantor majalah tersebut tepat jam 10 pagi. Salah seorang staff menunjukan ruangan tempat ia menemui editor majalah ini. Dari kaca ruangan itu, ia melihat seorang pria yang tampak gelisah, hilir mudik tidak jelas. Apa yang ia kerjakan? Bisiknya heran. Namun, ia melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu. Sebuah ruangan yang sangat macho, rapi dan wangi.

Mereka terpana saat saling memandang.  Sebuah pertemuan yang tidak mereka duga, terutama bagi Risa.
Risa????
Bagas????
Dan, mereka tertawa saling bersalaman...hangat.
“Aku sudah menduga saat membaca cerpen kamu kemarin, Rais...Risa...dekat sekali.”  Bagas memulai pembicaraan.
“Aku sama sekali tak menyangka itu kamu.” Tanggap Risa
“Oya? Kamu nggak perhatikan nama-nama editor di majalah yang akan kamu kirimi tulisan kamu?”
“Perhatikan, tetapi tak menyangka Bagas itu ya kamu, karena kamu dulu bercita-cita jadi pilot kenapa bisa jadi editor?”
Bagas tertawa lepas, “ Ya, perjalanan nasib” sanggahnya
“Bagaimana keadaan kamu sekarang,Risa?” Bagas bertanya dengan mimik serius
Dan, Risa tercekat saat mereka bertemu pandang. Sorot mata itu sama seperti sorot mata yang biasa ia temukan di wajah Bagas bertahun silam. Ia menghindar dari tatapan itu, kini membuatnya jengah.
“Saya punya seorang putri, Gas. Usinya 5 tahun, sedang lucu-lucunya. Hei, bagaimana dengan kamu, berapa anakmu? “ Risa mencoba mencairkan suasana
“Aku belum menikah, jadi ya belum punya anak he he he “ Bagas menjawab dengan mimik lucu. Namun jawaban Bagas menimbulkan rasa bersalah di hati Risa.
“Maafkan aku, Bagas....” Risa berbisik lirih..
Bagas tersenyum, “ Aku sudah memaafkan,Ris...”
“Apa kamu bahagia dengan kehidupan kamu saat ini?” lanjut Bagas...
Tak terasa mata Risa berkaca, mengingat bagaimana dulu ia meninggalkan Bagas karena tak bisa menolak perjodohan orang tuanya, saat itu sangat berat bagi Risa. Bagas menerima meski Risa pun tahu itu berat baginya. Kisah ini tampak klise,  tetapi itu yang terjadi dan kini Bagas memikirkan kebahagiaannya?
“Aku bahagia,”  Risa menjawab pasti
Bagas tersenyum, “Syukurlah, aku juga bahagia, Risa, hanya belum ketemu gadis seperti kamu.”
“Itu karena kamu nggak serius mencari, Gas” Risa mencoba mengalihkan.
“Kamu mencintai suamimu?” tanya Bagas sambil menatap tajam
“Tentu, Gas. Maaf, sesungguhnya ini kah tujuan kamu meminta Aku datang?” nada suara Risa berubah, baru menyadari semua ini.
“Karena cerpen itu....yang kamu kirim, ada puisi yang kamu tulis, puisi yang dulu pernah kamu tuliskan untukku”
Jelas Bagas
Risa tiba- tiba tertawa lepas
“Jadi semua ini karena puisi itu lalu kamu pikir aku masih mencintai kamu?”
Risa menghentikan tawanya saat dilihatnya wajah Bagas yang tetap serius
“Apa salah, Risa? Kamu lihat Aku masih sendiri hingga kini, Aku tidak bisa melupakan kamu. Hatiku tidak pernah bergetar seperti saat membaca puisi yang kamu kirim, tolong jangan tertawakan aku.”
“Maafkan aku, Bagas. Tapi itu semua sudah berlalu, Aku sudah menikah, punya seorang putri dan Aku bahagia. Aku tak berpikir sejauh itu, Aku hanya menulis dan kebetulan puisi itu menjadi pembuka kisah yang Aku tulis.” Jelas Risa
“Bukan karena ingat Aku?” Bagas memastikan
Risa hanya mampu menggeleng
“Baiklah, kalau begitu, sekarang waktunya wawancara ya Mb.Rais. profil Anda akan dimuat minggu depan” 
Risa terpana Bagas mampu mengalihkan semua dengan santai
“Jangan bengong, Aku tidak apa-apa. puisi itu mengingatkan Aku pada Kamu, dan maafkan kalau Aku salah menduga, Aku akan lanjutkan hidupku, doakan segera ketemu jodoh ya.” canda Bagas
“Kita berteman?” lanjut Bagas
Risa tersenyum, hatinya sungguh lega...
Mungkin pertemuan ini sudah ada dalam rencananya-Nya, untuk saling melegakan keduanya dalam melanjutkan hidup masing-masing.
~*~


Senin, 02 Februari 2015

Aku dan Suci

Buku Harian Ungu

Oleh Deka Amalia

Sebuah buku harian bersampul ungu menarik perhatianku,tergeletak manis,rupanya ia lupa merapikannya kembali Karena ini pertama kali aku melihatnya,belum pernah kulihat tiap kali aku memasuki kamarnya. Rasa ingin tahu membuatku mengambilnya,ragu sesaat antara ingin membaca tetapi seharusnya kuhargai privasinya dan tak boleh kubaca. Tetapi rasa ingin tahu mengalahkan keraguanku. Ah,tak apa kan kalau hanya ingin tahu sedikit saja,pikirku. Maka kuputuskan untuk melihatnya,membuka dan akhirnya kubaca.

Kata mereka diriku selalu dimanja,kata mereka diriku selalu ditimang. Oh,bunda... ada dan tiada dirimu selalu ada didalam hatiku...
Baik lagu itu mengawali buku harian ini,keharuan menyergap manakala kau sadari betapa berartinya dirimu dalam hidupnya. Sebuah fhoto tertempel diatas bait lagu itu, seraut wajah manis dengan senyum hangat. Kuseka airmataku yang perlahan mulai menitik.

Hari itu aku pergi dengan mami,senang rasa hatiku. Mami mengatakan jika aku akan melihat sekolah baruku dengan teman-teman baru. Ada rasa takut sesaat kurasakan,rupanya mami membaca kekuatiranku. ”Kamu pasti dapat teman yang baik dan banyak ya juga guru-guru yang menyenangkan.” ia memelukku hangat,”Jangan kuatir,mami akan selalu mendampingi kamu sampai kau merasa nyaman.”  Aku mengangguk dan tersenyum meyakinkan mami jika aku tidak apa-apa. Selalu begitu, setiap aku merasa takut,mami pasti menenangkan aku dengan pelukan hangat yang selalu membuat aku merasa nyaman.  Betapa tidak akan kumasuki dunia baru yang ntah mengapa aku merasa berbeda denganku dan dengan sekolah lamaku. Tetapi belum bisa kumengerti apa perbedaannya.

Kuseka airmataku, rupanya ia menyadari perbedaan itu, saat aku memindahkannya dari santi rama,sekolah khusus untuk anak tuna runggu ke sekolah umum. Kulakukan ini karena aku yakin akan kemampuannya,kecerdasannya dan rasa percaya dirinya. Itulah yang selama ini kulakukan menumbuhkan rasa percaya diri jika ia sama dengan yang lain. Memiliki kelebihan disamping kekuranganya. Ingin kukatakan padanya selalu bahwa ia mampu melakukan apa saja yang diinginkanya sama seperti yang lain. Bagiku, ia teristimewa yang telah mengajarkan banyak hal tentang kehidupan.

Aku ingat, saat kecil dulu,mami selalu jongkok jika bicara denganku,menatap mataku dengan penuh kasih. ” Kamu lapar?” ”Mau minum susu?” ” Capai ya?” pertanyaan-pertanyaan sederhana itu lama-lama mampu aku mengerti ingin aku menjawab tetapi sulit sekali kukeluarkan suara, maka aku tahu saat itu yang bisa kulakukan hanya mengangguk atau menggeleng. Kulihat gurat kesedihan dimatanya tetapi ia tetap tersenyum,memandangku hangat dan memelukku erat. Sikapnya yang membuatku semangat setiap kali mami mengajakku terapi bicara, sikapnya yang membuatku semangat untuk mampu bercakap dengannya. Ingin kupanggil namanya dengan keras,”Mamiiiiii.”

Aku tercekat, dadaku sesak. Aku ingat, aku memeluknya sambil menangis ketika suatu masa,ia mampu mengeluarkan kata yang bermakna. Bagaimana tidak, jika selama ini yang kau dengar dari mulutnya hanya guman yang tak jelas. Kebahagiaan apa yang mampu ku lukiskan untuk mengungkapkannya saat kau dengar sebuah kata bermakna itu keluar pertama kali dari bibir mungilnya di usia 4 tahun,setelah sesi terapi bicara yang tak lagi terhitung kau jalani dengan sabar selama 2 tahun lebih. Penantian yang membutuhkan kesabaran yang luar biasa, maka.bagaimana rasanya jika kemudian hasilnya kau dapat. ”Mami,aku lapar,mau minum susu.” begitu sebuah suara merdu membuatku tercekat tak percaya.” Ya,Allah. Maha besar ALLAH. Katakan lagi sayang, katakan. Mami ingin dengar, katakan lagi,nak.” dengan berurai airmata kugoncang tubuhnya, dan ia memandangku dengan bingung. Aku menelepon suamiku dengan uraian airmata.” Ia bisa bicara, ia bisa bicara, ia bisa bicara.” Hanya itu kata yang mampu kujelaksan pada suamiku.

Aku sungguh bahagia kini aku mampu mengatakan apapun yang kuinginkan pada mami. Lebih bahagia setiap kali aku pulang sekolah, kuberikan hasil ulanganku.”Mami,aku dapat 10 lagi.” begitu kataku dan mami selalu menyambut dengan penuh rasa bangga.” Anak mami yang hebat.” Begitu selalu pujinya. Aku tahu begitu besar pengorbanan mami untukku maka aku ingin selalu membuatnya bangga padaku. Aku ingin membahagiakan mami karena begitu banyak yang telah mami berikan padaku. Ia mengajariku banyak hal terutama aku harus ikhas dan sabar. Aku harus bersyukur atas semua karunia-Nya. Walau, kadang aku sedih. Mengapa aku ditakdirkan seperti ini, tak mendengar. Walau,aku kini bisa bicara, tetapi sangat ingin kudengar suara yang jelas. Yang kudengar hanya sayup,jauh dan hingar bingar yang tak jelas. Harus kutatap wajah orang yang bicara padaku,agar aku mampu menangkap maknanya dan mampu menjawab apa yang mereka tanyakan padaku.

Aku tahu,akhirnya suatu saat ia menyadari kekurangannya. Tetapi, selalu kutanamkan  rasa percaya diri jika kekurangan itu tak akan menghentikan langkahnya. Selalu kusemangati ia setiap kali kutangkap rona kesedihan di wajahnya. ”Gambarmu bagus sekali, ikut lomba ya.” biasanya ia dengan senang hati menyambut tawaranku. ”Aku mau melukis yang banyak ya mi.” jawabnya ”ya,melukislah yang banyak karena itu akan semakin membuatmu terampil dan bisa melukis lebih bagus lagi.” Aku bahagia saat kulihat lukisannya yang ceria dan cerah. Lukisan yang dihasilkan melukiskan suasana hati, maka aku bersyukur ia bahagia dengan dirinya dan keadaannya.

Apapun itu,aku bahagia. Dengan kekurangan ini akan kutunjukkan jika aku punya kelebihan. Kata-kata mami tak akan pernah kulupakan,”Kamu bisa melakukan apa saja yang kamu mau dan kamu bisa menjadi apa saja jadi jangan sedih,jangan kecil hati ya. Kamu harus bangga dengan dirimu karena kamu punya keistimewaan sama seperti semua orang,punya kelebihan dan kekurangan.” begitu mami selalu menanamkam rasa percaya diri padaku dan aku tak mau mengecewakannya. Aku tahu mami selalu menyembunyikan tangis bahagia,saat menerima raportku yang bertebar angka 9. Aku tahu,ia terharu,walau yang dilakukannya hanya membelai rambutku. Tetapi,aku bersyukur telah membuat orang yang paling aku cintai bahagia. Orang itu adalah mamiku. Ia yang paling berarti dalam hidupku. Kadang,ingin kubertanya pada mami. Mengapa aku tak mendengar tetapi aku tak ingin membuatnya sedih. Maka kusimpan semua pertanyaan itu dalam hati, mungkin memang tak perlu ada jawaban atas pertanyaan itu, yang harus kulakukan adalah ikhas dengan keadaanku dan aku memang ikhlas.

Kututup buku harian itu. Air mata terus menetes, tak mampu lagi kuteruskan. Aku bahagia jika ia memahami apa yang kutanamkan padanya tentang kehidupan. Tetapi,mungkin seharusnya atau sudah saatnya kami membahas ini. Ia sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang ceria kini. Menikmati hari-harinya seperti remaja lainnya. Sekolah,berenang.mengikuti berbagai aktifitas,menjadi pengurus OSIS,ikut pramuka, dan sederetan aktifitas lainnya. Ia pun sudah modis sekarang, memilih pakaian dan perlengakapan sesuai selearanya. Bersolek dengan berbagai asesoris. Akrab dengan internet dan mall. Ah,kau tak berbeda. Kuputusakan untuk membicarakan tentang ini dengannya nanti malam.

Maka malam itu, kuketuk pintu kamarnya. ”Hi,sedang apa sayang.” kulihat ia menggemgam buku harian ungu itu,tergesa menutupnya dan menyembunyikannya dibawah bantal.Aku tersenyum,” Eh,mami.biasa mi baca-baca saja.” begitu jawabnya. ”Mami mau ngobrol-ngobrol,boleh?” ia mengangguk, ”Ngobrol apa,mi?” tanyanya.  ”Kamu punya pertanyaan ga?”  ia terkejut   ”Pertanyaan apa?” bertanya balik    ” Ya, yang mau kamu tanyakan pada mami. Kalau ada mami siap menjawab”  Kubiarkan ia tercenung sesaat,mungkin bingung dengan hal ini,tak menduga.”Mengapa mami bertanya seperti itu?” ia tampak tak mengerti. Sesaat,aku bingung juga. Kubelai rambutnya,”Ya,mami berfikir saja barangkali selama ini kamu ingin bertanya sesuatu tetapi selalu ragu.” Ia tersenyum,”Ya,itu dulu mi. Tetapi,sekarang tidak ada lagi,aku sudah mengerti semua.” aku memandangnya tak percaya. ”Dulu, aku memang selalu ingin bertanya mengapa aku tak mendengar tetapi mami sudah menjawabnya dengan memperlakukan aku demikian istimewa.”

Kupeluk ia,kubelai hangat. Ya,Allah. Aku bersyukur dengan kasih sayang yang kau karuniakan diantara kami. Kuingat sebuah kata dalam buku harian ungu itu,yang ditulis anakku untukku,ibunya. Mami,kau membuat hidupku secerah pelangi.


Ilustrasi oleh Suci

*naskah ini masuk ke dalam buku terbit