Selasa, 16 September 2014

Sebuah buku karya anak-anak Dhuafa, mengharukan...




Saat kita ke toko buku, banyak kita temukan karya-karya yang ditulis oleh anak-anak. Sangat menggembirakan. Rasanya senang melihat banyak anak yang suka membaca dan menulis. Saya selalu ajarkan anak-anak saya untuk membaca minimal 2 buku dalam 1 minggu, diluar buku pelajaran sekolah. Karena menurut saya, apa yang mereka baca akan memperkaya jiwa mereka dan itu pun terbukti dengan penelitian ilmiah.

Hanya kemudian kita lihat, hanya anak-anak dari kalangan kelas menengah ke atas yang punya kesempatan untuk bisa menulis dan membaca. Memang kini, sudah banyak Taman Bacaan untuk anak-anak dari kelas bawah. Dan, itu menjadikan mereka hanya sebagai penikmat. Terbatas sebagai pembaca.

Bagaimana jika mereka diajarkan menulis? bagaimana perasaan mereka dan apa hasilnya?

Saya sering memikirkan itu dan percaya atau tidak ternyata apa yang kita pikirkan dengan dalam akan mendapat jalannya. Maka, tanpa diduga saya dihubungi Dompet Dhuafa untuk memberikan kesempatan pada anak-anak dhuafa belajar menulis dan menerbitkan karyanya.

Dompet Dhuafa memiliki Sanggar Literasi yang membawa anak-anak untuk mengikuti field trip lalu menuliskan pengalamannya. Mereka dibawa ke berbagai tempat yang rasanya tidak mungkin mereka kunjungi. Istana Bogor, Kebun Raya Bogor, Senayan City dan lain sebagainya. Jadi saat mengikuti field trip tersebut itulah pengalaman pertama mereka melihat tempat-tempat yang mungkin selama ini hanya mereka dengar atau bahkan bisa jadi mereka belum pernah dengar.

Maka, saat mereka belajar menulis dan sebagai latihan menulis mereka diminta menuliskan pengalamannya saat mengunjungi tempat-tempat tersebut sungguh mengharukan. Saat saya menerima hasil tulisan mereka, memilahnya, mengedit kemudian membukukannya. Rasa haru rasanya tak bisa saya tahan. Mata saya selalu membasah. Ada degup hangat bernama harapan.

Mereka anak-anak yang selama ini tersingkirkan dari segala hiruk pikuk kemajuan modernitas. Jangan tanya mereka menulis dimana, hanya di kertas dengan menggunakan pinsil. Bukan di laptop, notebook atau Tablet seperti anak-anak kita. Entah kekuatan darimana tetapi saya mengetik hasil tulisan mereka sendirian. Begitu bersemangat jika buku ini harus jadi.  

Apa yang mereka tuliskan betul-betul apa yang terlintas di hati mereka. Ada yang menulis jika kebahagiaannya hanya ada di kelas yang ia miliki. Karena sebelumnya sekolah hanya impian, saat mendapat kesempatan sekolah gratis di bawah binaan Dompet Dhuafa, itulah berkah bagi hidupnya. Maka kelasnya adalah menjadi kelas yang ia cintai. Ada yang menulis kecintaan terhadap Indonesia sebagai negaranya, penghormatan terhadap guru dan keinginan berbakti pada orang tua. Mereka tahu betapa orang tua mereka bekerja keras untuk sesuap nasi saja. Mereka bangga terhadap orang tua mereka, meski orang tua mereka hanya sopir angkot, pembantu rumah tangga, penjual asongan dan sebagainya. Mereka bangga dengan apa yang mereka miliki. 

Mereka tetap menggantungkan cita-cita setinggi langit, ingin sekolah tinggi dan sukses. Ingin hidup lebih baik bahkan ada yang ingin punya mall. Meski, ada yang bertanya dengan keheranan terhadap mereka yang kaya tetapi masih buang sampah sembarangan, atau bertanya mengapa harga barang mahal sekali dan mereka tidak punya uang untuk membelinya. Juga keheranan terhadap semua kemewahan yang hanya bisa mereka saksikan saja.

Dan, masih banyak kisah lainnya. Intinya berisi  kepolosan hati mereka, harapan mereka akan masa depan dan mereka tetap bahagia dengan apa yang mereka miliki. Semua itu membuat apapun menjadi berharga. Sesuatu yang mungkin juga tidak pernah terpikir oleh anak-anak kita. Dari mereka lah sesungguhnya kita belajar tentang kehidupan. Oleh karena itu, saya meminta anak-anak saya membaca buku ini. Agar mereka bersyukur dengan apa yang mereka miliki. 

Buku ini dicetak oleh Dompet Dhuafa sebanyak 1500 eks dan diedarkan terbatas untuk sekolah-sekolan binaan Dompet Dhuafa di seluruh Indonesia. Semoga anak-anak yang membaca buku ini memahami jika mereka mampu melakukan apa saja, sepanjang mereka punya kemauan. Harapan selalu ada dimana pun. Setiap orang tidak boleh kehilangan harapan, apapun keadaan mereka saat ini. Karena hanya harapan yang membuat kita tetap bisa berdiri tegak dan tersenyum

Semoga bisa lahir lagi buku-buku lain dari tangan mereka. Semoga ada pihak lain selain Dompet Dhuafa yang tergerak untuk memfasilitasi mereka untuk berkarya. Amin. 


Dan, saya bangga menjadi bagian yang melahirkan karya mereka. 

*resensi buku ini dimuat di harian Republika.














8 komentar:

  1. Balasan
    1. Iya, sayang nggak dijual bebas. Nanti, mau sy upayakan tawarkan ke penerbit.

      Hapus
  2. Balasan
    1. Makasih mb.Nunu, senangnya mb Nunu mau mampir....

      Hapus
  3. semoga menginspirasi anak2 dhuafa lain mak....bukunya gak dijual bebas ya

    BalasHapus
  4. Amin YRA. Iya, nggak dijual bebas mak...

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan komentar dan terima kasih ya sudah meninggalkan komennya Salam hangat.
deka