Sabtu, 06 September 2014

Menulis Sebagai Terapi

Menulis Sebagai Terapi









Apa yang terlintas di pikiran kita setelah membaca judul tersebut? bisa macam-macam barangkali. Mungkin bisa jadi sesuatu yang telah diketahui atau bisa jadi tidak terpikir sebelumnya baik oleh penulis sekalipun. Karena seringkali penulis justru mengalami berbagai pergulatan emosi jika ia tidak bisa mengontrol emosinya. Mengapa? karena manusia sesungguhnya membutuhkan katarsis, pembuangan emosi dan sampah negatif yang ada dalam diri manusia. 


Perasaan kita, pikiran kita, jiwa kita tidak selalu sama dengan apa yang diimpikan. manusia selalu bermimpi yang indah-indah tetapi kenyataan seringkali sebaliknya. Banyak hal negatif yang pernah hinggap di perasaan kita, pikiran kita dan jiwa kita. Rasa sedih, sesal, iri, cemburu, marah, takut, kuatir, trauma, phobia, malu, rendah diri, tidak percaya diri  dan lain sebagainya. Jangan malu mengakui karena sangat manusiawi. semua manusia pernah merasakannya. Lalu apakah setelah tak dirasakan hilang begitu saja? tidak ternyata ia menumpuk di alam bawah sadar manusia dan bisa menjadi penyakit yang larinya ke fisik. Ada yang sering sakit kepala, sakit perut dan lain sebagainya.


Logikanya, setiap hari makanan yang kita santap dengan lezatnya pun disaring oleh tubuh. Tidak semua bermanfaat, ada yang harus dikeluarkan, dibuang. Kemana? WC adalah tempat kita membuang segala sampah yang tidak dibutuhkan oleh tubuh. Lalu kemana larinya segala sampah hati itu? apakah akan kita biarkan bertumpuk dan berkarat di alam bawah sadar kita lalu tanpa kita sadari menjadikan kita dihinggapi berbagai penyakit nantinya.
Hati perlu dibersihkan, apa yang tersimpan selama ini di alam bawah sadar perlu dikeluarkan. Kemana? salah satunya adalah dengan menjadikan proses menulis sebagai terapi. 


Karena sejak dini manusia sesungguhnya banyak menyimpan sampah hati dalam dirinya. Tidak hanya mengeluarkan sampah hati, menulis sebagai terapi juga mampu membangkitkan energi positif dalam diri manusia, mengubah segala energi negatif menjadi positif. Apa saja yang biasa dialami? ada anak yang sangat tidak percaya diri, tidak mandiri dan lain sebagainya. ada orang tua yang mengalami banyak ketakutan menyongsong hari tua dan sebagainya, ada remaja yang belum mampu memahami dirinya dan lain sebagainya. Ada para Bapak yang gamang atau para ibu yang galau dan lain sebagainya.


Atau anda merasa sehat? bisa jadi. Tapi coba tanyakan pada diri sendiri ingin lebih sehat? ingin lebih tenang? ingin lebih bahagia? ingin awet muda? ingin selalu bisa mengatasi semua masalah anda? pasti ya. Maka, menulis sebagai terapi adalah solusi yang menjawab itu semua.
Adalah James Pennebaker, Ph.D dari Texax University-USA yang mempelopori menulis sebagai terapi. Adalah karen Baiki Ph. D dari clinical psychogist university new south wales-USA yang melakukan penelitian jika menulis mampu menjadi terapi yang menyembuhkan diri sendiri. Ternyata itu telah terbukti secara ilmiah, melalui serangkaian penelitian yang mereka lakukan. 


Maka mari menulis, menulis dan menulis

11 komentar:

  1. hahahha iya bener banget aku merasakannya :))

    BalasHapus
  2. Mari mbak.. :D *semangat 45 menulis

    BalasHapus
  3. Siiip Siiip, sehat dan awet muda he he he

    BalasHapus
  4. Iya sebagai terapi plus curcol gitu :D

    BalasHapus
  5. Betul mak, saya sudah membuktikannya :D

    BalasHapus
  6. Setuju sekali Mak atas pernyataan di atas bahwa menulis sebagai terapi jiwa... Akupun menjadikan kegiatan menulis ini untuk terapi sebagai penyejuk hati... Hal ini kulakukan karena pada dasarnya aku ini orang yang introvert, orang yang tertutup, gak suka bergosip atau ngobrol nalor-ngidul gak ada ujungnya... Aku lebih senang menjadi pendengar, sesekali memberi pendapat, dan suka membaca... Kadangkala aku sering melihat fenomena orang2 yang seringkali mengeluarkan pernyataan2 yang belum tentu diterima oleh orang lain secara baik.. Contoh saja beberapa orang justru bermasalah setelah membuat status di medsos... Kadangkala juga orang2 menjadi berkonflik ketika dia terlibat adu argumen dengan lawan bicaranya... Melihat kondisi seperti itu bahwa berbicara atau mengeluarkan opini pun bisa memicu konflik maka aku punya cara aman utk mengeluarkan ide2 dan pendapat... aku menuangkannya dalam sebuah tulisan pada blog pribadi... cara ini lebih aman ketimbang aku curhat2 pada orang yang tidak tepat...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali mak, dan tulisannya bisa bermanfaat buat yang membaca juga kan....

      Hapus
  7. Senang ketemu Mbak Deka di kelas yang sama, yuk menulis secara istiqomah, walau kendala selalu ada. Tetap Semangat...Silahkan mampir Mbak di blogku, http://www.sulistyoriniberbagi.blogspot.com/2014/08/melestarikan-jamu-memajukan-budaya.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. Senang juga ketemu mbak. Siaaap saya mampir yaaa....

      Hapus
  8. Menulis membuat saya merasa lebih baik setiap harinya :D

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan komentar dan terima kasih ya sudah meninggalkan komennya Salam hangat.
deka