Senin, 08 September 2014

Menanti Buah Hati




Menanti Buah Hati

Saat saya memandang ketiga gadis saya kini, saya selalu ingat bertahun lalu. Saat saya belum memiliki anak. Perjuangan panjang untuk memiliki buah hati pernah saya lalui. Saya menikah saat berusia 25 tahun dan baru memiliki anak pertama saat usia menginjak 29 tahun. Penantian 4 tahun saya lalui dengan berbagai usaha.

Saat baru menikah, saya sudah ingin memiliki anak. Karena saya memang menyukai anak kecil. Saya suka melihat bayi, apalagi perempuan. Terlihat lucu, menggemaskan dan gaya. Namun, waktu berlalu hingga menginjak usia pernikahan satu tahun, belum ada tanda kehamilan. Saya mulai gusar, saat banyak teman sudah hamil, melahirkan dan menggendong anak. Saya menengok setiap ada teman yang melahirkan sambil berharap saya ketularan hamil.

Tetapi sampai tahun kedua, belum juga ada tanda-tanda itu. setiap mendapat tamu bulanan, rasanya hati sedih. Akhirnya setelah berbicara dari hati kehati dengan suami dan dorongan memiliki anak begitu kuat, kami memutuskan untuk mendatangi dokter kandungan.

Serangkain pemeriksaan pun dilakukan. Kesimpulan dokter kami berdua kurang subur jadi tidak ada sel telur yang bisa dibuahi. Sel telur cepat sekali hancur sebelum bisa dibuahi. Penyebabnya bisa karena lelah, karena makanan atau beberapa faktor lainnya. Dokter memberi kami vitamin dan obat penyubur. Beberapa bulan lamanya , kami meminum obat-obatan dari dokter tetapi tetap belum membuahkan hasil. Hingga kami memutuskan untuk menghentikan meminum obat-obatan tersebut karena kuatir efek samping jika meminumnya dalam jangka waktu panjang.

Dokter menyarankan kami mengikuti program inseminasi jika ingin cepat hamil. Suami saya tertawa, katanya dulu ayahnya memelihara ikan dan sering melakukan inseminasi pada ikan, agar ikan cepat bertelur. Saya ikut  tertawa. Setelah kami pikirkan masak-masak, kami memutuskan untuk tidak mengikuti saran dokter tersebut. Selain karena biaya yang cukup mahal, faktor keberhasilannya juga kecil sekali. Bahkan kami kemudian memutuskan untuk berhenti menemui dokter, rasanya lelah juga bolak balik ke Rumah Sakit.

Suami saya mengajak saya untuk pasrah pada Allah, memperbanyak doa dan zikir. Mungkin kita memang belum dipercaya untuk mendapat amanah itu, katanya. Akhirnya saya mengikuti saran suami saya. Pasrah dan tidak stress. Saya jadi lebih santai melewati hari-hari tanpa anak. Menghabiskan waktu berdua suami saat akhir pekan. Pacaran terus. Walaupun, bete juga setiap kali bertemu siapa saja, mereka selalu bertanya, anaknya berapa? sudah hamil? oh, belum ya....he he he tapi ya,sudah santai saja, menjawab dengan senyum, belum dikasi sama Allah...

Namun, saking rindunya saya untuk menyalurkan naluri keibuan saya. Seringkali saya meminjam anak batita Om saya, yang memang usia istrinya tidak terpaut jauh dari saya. Saya ajak menginap di rumah saya, dan saya rawat seperti anak sendiri. Saya bawa jalan-jalan, sampai orang mengira itu anak saya. Bahkan saya meminta ia memanggil kami,  Mami dan Papi. Lucu ya....

Dan, tanpa disangka saya kemudian hamil. Rasanya tidak percaya, hingga saya melihat hasil USG. Memang ada bayi dalam kandungan saya. Kami menangis bahagia. Akhirnya Allah menjawab doa-doa kami. Bayi yang lahir anak perempuan yang lucu sekali. Cantik dan menggemaskan. 

Awalnya, saya hanya meminta satu anak saja pada Allah. Jika diberi lebih Alhamdulillah. Namun selang 3 tahun kemudian saya hamil kembali, Kali ini tanpa usaha apa-apa. Dan, kehamilan yang ketiga malahan tidak diduga sama sekali. 

Begitulah, kini ketiga gadis kami membuat hidup kami sangat bermakna. Allah memang maha kuasa jika sudah berkehendak. Jadi, bagi pasangan yang belum dikaruniai anak, jangan pernah berhenti berharap ya. 

*foto bayi anak kedua saya.











8 komentar:

  1. Aku senang sekali membaca artikel ini...penantian panjang telah membuahkan hasil dengan kehadiran gadis2 kecil yang mengisi hari2 indah keluarga Mbak Deka... Akupun demikian....lama menantikan hadirnya sang buah hati....namun apa dikata kalau Allah belum mengijinkan walau apapun cara telah kita lakukan ...namun belum juga berujung manis... Hingga kini tangisan si buah hati tak jua meramaikan rumah mungilku... Namun aku percaya mungkin ada sesuatu rahasia Allah yang akan menjawabnya... Aku dan suami telah melakukan berbagai pengobatan, baik medis maupun non medis...herbal..jamu...refleksi...hingga aku harus menjalani terapi PLI di sebuah klinik imunologi yang berada di kawasan Pondok Kopi Jakarta... Selama delapan bulan aku harus bolak-balik Palembang Jakarta hanya untuk mengambil darah suami lalu dipisahkan sel darah putih dan sel darah merah selama 1,5 jam... Setelah itu sel darah putih disuntikkan pada tubuhku... Ya, aku harus melakukan terapi ini karena darah dalam tubuhku melakukan "penolakan" terhadap unsur asing yang bernama "sperma"... Setelah hasilnya bagus lalu kami melakukan inseminasi di Palembang pada 15 Des 2012... Lagi2 hasilnya gagal... Aku dan suami hanya bisa pasrah mengingat usiaku tak muda lagi.... Namun Allah memberi sinyal jawaban atas masalah ini... Ketika 4 bulan yll adikku pergi selamanya dan meninggalkan 2 anak yang masih kecil2 (kini 3 dan 5 tahun)...akankah ini jawaban atas semuanya ini? Mungkin Allah lebih mempercayai kami untuk ikut merawat dua keponakan yang telah ditinggal papanya pergi tuk selamanya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya Allah, mbak. Subhanalah. Semua rahasia Allah ya, mbak. Semoga keikhlasan mbak, merawat ponakan berbuah manis. Amiin.

      Hapus
  2. Mbak terharu membacanya.alhamdulillah ya mbak. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. Terima kasih ya mbak...

      Hapus
  3. Subhanallah, sungguh perjuangan dan keikhlasan seorang Ibu amatlah luar biasa yaa...

    BalasHapus
  4. Mbak saya sudah 4 tahun, doaian ya, saya jadi semangat baca ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Nunu, jangan putus asa. Terus berdoa dan berusaha. Semoga segera terkabul ya, Amiin...

      Hapus

Silahkan tinggalkan komentar dan terima kasih ya sudah meninggalkan komennya Salam hangat.
deka