Jumat, 20 Juni 2014

Pentingnya "Second Opinion" saat mengalami masalah kesehatan

Pentingnya "Second Opinion" saat mengalami masalah kesehatan

Saat sehat memang harus disyukuri karena begitu kita mengalami masalah kesehatan, tentu sangat tidak menyenangkan. Apalagi bagi seorang ibu, saat anak sakit adalah saat yang paling membuat kita sedih. Tetapi begitulah, tidak ada yang sehat terus. Semua pernah mengalami sakit, baik terkena penyakit atau mengalami kecelakaan. Bagi seorang ibu seperti saya yang memiliki tiga orang anak, tentu sudah beragam pengalaman dalam menangani anak sakit. Kadang bergantian, sembuh satu, yang satunya sakit. Karena itu mungkin mengapa seorang ibu, selalu merasa sehat, kalau pusing-pusing sedikit, flu sedikit, diare sedikit, nggak pernah dirasa. Karena ia harus selalu sehat untuk anak-anaknya.

Kejadian seperti itu belum lama saya alami, bulan kemarin anak bungsu saya bolong kedua giginya, gusi kiri dan kanan, jadi kita bolak balik ke dokter gigi sepanjang bulan kemarin. Setiap minggu untuk merawat gigi bolongnya yang bengkak, sembuh bengkaknya lalu ditambal. Jadinya setiap malam mingguan kita ke dokter gigi. Alhamdulillah selesai juga. Giginya sudah nyaman dipakai untuk makan.

Gnatian awal bulan ini hingga sekarang belum tuntas, anak sulung saya. Nah, pengalaman ini yang mau saya ceritakan. Jika sebagai pasien kita harus cerdas. Tidak langsung percaya saran yang diberikan dokter, tetapi berpikir apakah saran tindakan itu betul atau tidak. Apakah masuk akal atau tidak, apakah memang harus seperti itu penanganannya? apakah itu tepat dilakukan? Apakah itu menyembuhkan atau bahkan malahan memperburuk. Itu mungkin gunanya kita mencari second opinion sebelum menyetujui tindakan yang tepat untuk menangani masalah kesehatan yang kita alami. Dengan begitu kita punya pertimbangan, mana yang harus kita setujui. 

Karena kita sebagai pasien punya hak untuk itu, yang dilindungi oleh undang-undang. Jika kita harus mendapat informasi yang tepat tentang masalah kesehatan yang kita alami. Mendapat penjelasan kenapa tindakan itu harus dilakukan dan apakah ada resiko dengan tindakan yang disarankan itu. Karena itulah kita harus menandatangani surat persetujuan jika memang kita setuju. Nah, sebelum setuju, cari tahu dengan jelas hingga kita yakin langkah yang kita ambil benar. Jangan sampai kita menyesal dan malahan menjadi korban malpraktek.

Ini pengalaman yang baru saja saya alami. Anak sulung saya mengeluh ada mata ikan di telapak kakinya. Awalnya kecil, saya beli obat bebas untuk mata ikan di apotik. tetapi tidak mempan, mata ikan itu malahan membesar dan beranak. Ada sekitar 2 titik yang besar dan 3 titik yang kecil. Total 5 titik. Akhirnya karena membesar dan kelihatan berakar, saya membawa ke Rumah Sakit A menemui dokter bedah X. setelah diperiksa, ia menyarankan untuk mengangkat ke 5 titik mata ikan itu sekaligus. Dan, karena sekaligus maka harus dilakukan standar operasi kategori sedang. Artinya dibius setengah badan di ruang operasi dan setelah itu harus rawat inap. 

Saya tertegun, masa mata ikan saja harus ditangani seserius itu. Dan, biaya yang dibutuhkan untuk tindakan operasi sekitar 6 juta, kalau rawat inap beberapa hari, saya taksir sekitar 10 juta. Saya masih bertanya pada dokter tersebut, ini kan hanya mata ikan, harusnya hanya bedah ringan. Karena saya juga pernah mengalami saat kuliah dulu, ada mata ikan, cukup dibedah ringan. Tetapi ia tetap menyatakan bahwa sarannya tepat. Saya tentu menolak. Saya menelpon suami saya, dan kami sepakat untuk datang ke rumah sakit yang lain.

Akhirnya saya membawa anak saya ke rumah sakit B, menemui dokter bedah Z. Dan, ia menyarankan cukup 2 mata ikan yang besar, yang tumbuh berdekatan yang dibedah ringan, untuk yang kecil-kecil cukup diberi obat saja. Singkatnya, 2 mata ikan anak saya hanya dibedah ringan, di ruang dokter. Tidak di ruang operasi. Dibius lokal lalu dibedah. Sekitar 15 menit saja selesai diangkat. Memang lumayan besar, sudah masuk kedalam. Dokter itu mengangkat hingga keakarnya. Setelah itu pulang, 3 hari kemudian datang untuk mengganti perban dan seminggu setelah itu datang kembali untuk mengangkat benangnya. Biaya yang saya keluarkan untuk dokter, tindakan bedah ringan dan obat sekitar 2 juta saja. 

Pengalaman itu membuat saya merasa jika mencari "second opinion" untuk masalah kesehatan yang kita alami sangatlah penting. Kalau perlu kita mencari sumber informasi dari internet juga. Agar kita yakin jika kita mendapat penanganan yang tepat. Terutama untuk anak-anak kita. Dan, dana yang kita keluarkan memang dana yang sesuai dengan apa yang seharusnya. 





















Selasa, 17 Juni 2014

Perempuan dan gaya hidup


Derrida (Derridean)
Mempertajam fokus pada bekerjanya bahasa (semiotika) dimana bahasa membatasi cara berpikir kita dan juga menyediakan cara-cara perubahan. Menekankan bahwa kita selalu berada dalam teks (tidak hanya tulisan di kertas, tapi juga termasuk dialog sehari-hari) yang mengatur pikiran-pikiran kita dan merupakan kendaraan untuk megekspresikan pikiran-pikiran kita tersebut. 






Perempuan dan gaya hidup

Mungkin terlalu berat jika mengutip Derrida untuk tulisan ringan ini, tetapi hal yang berat juga bisa dibuat ringan, tergantung darimana sudut pandang kita memahaminya. Saya mencoba memahami secara sederhana jika kata-kata yang keluar dari pemikiran dan ungkapan perasaan perempuan itu luar biasa. Mengapa? karena bisa membawa perubahan paradigma berpikir banyak perempuan lainnya. Apa yang tertuang dalam sebuah tulisan tidak hanya di atas kertas tetapi bisa  mempengaruhi kehidupan itu sendiri.
Perempuan sebagai individu, sebagai istri dan sebagai ibu, sebuah peran yang hampir bisa dipastikan mampu menggerakkan dunia.  Dengan segala aspek kehidupan yang terus bergerak. Segala nilai yang kadang berbenturan. Lalu dimana sesungguhnya terletak peran perempuan itu? apakah hanya bermanfaat untuk dirinya dan keluarganya saja? tanpa keluar dari ruang privat dan domestik?
Saya merasa sudah saatnya perempuan saling berbagi cerita, berbagi rasa dan berbagi pemikiran. Karena dari situ lah kita bisa saling belajar. Bisa lebih memahami banyak hal. Terutama memahami perannya yang utama dan menjadi filter berbagai nilai yang masuk bagi keluarganya. Hingga berbagai nilai yang negatif dapat tertangkal dan hanya nilai positif yang bisa masuk. Memang sudah banyak perempuan yang melakukan ini tetapi alangkah luar biasanya jika lebih banyak lagi yang bisa melakukannya. 
Jadi dapat dikatakan jika gaya hidup itu bisa digerakkan oleh perempuan. Bagaimana memandang sesuatu, bagaimana memanfaatkan sesuatu sesuai dengan manfaatnya, bagaimana memilih sesuatu dengan tepat, dan lain sebagainya. Banyak hal yang bisa digali, banyak hal yang bisa diungkapkan dan banyak hal bisa dibagi. 
Hal tersebut juga membuat kita terus belajar dengan menggali berbagai sumber, membaca dan memahami sesuatu dengan benar. Hal itu juga membuat kita lebih hidup karena kita aktif berpikir. Dan semua itu tentu makin membuat kita dewasa dalam berpikir sekaligus memahami hidup dengan lebih baik. Kita bisa tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri karena kita memiliki banyak hal yang bisa kita bagikan pada sesama perempuan. Bukankah itu luar biasa? 
Karena itu banyak sekali yang bisa kita tuangkan dalam tulisan, terlepas itu hanya tulisan ringan, sederhana atau mungkin ulasan yang lebih dalam. Kita bisa menulis apa saja yang kita rasa itu memberi manfaat bagi sesama perempuan. Bagaimana caranya? untuk itu kita perlu belajar dengan tepat, bagaimana membuat tulisan yang baik sekaligus memberi manfaat.
Bagaimana pembaca dapat menangkap pesan yang ingin kita sampaikan dan bagaimana agar tulisan kita itu menarik saat dibaca. Pembaca bisa menikmati tulisan kita sekaligus bisa menangkap pesan yang ingin kita sampaikan. Apa saja yang bisa kita tuangkan dalam tulisan dan bagaimana agar ide terus mengalir. Termasuk bagaiamana merangkai kata dan kalimat dengan baik.
Semua itu bisa kita pelajari, dan kali ini editor dari salah satu majalah wanita ternama akan berbagi ilmunya untuk kita semua. Karena itu, ini adalah kesempatan manis untuk berkembang. Mencoba hal baru, atau bagi yang sudah suka menulis tentu lebih membutuhkan tambahan ilmu. Belajar adalah vitamin yang akan menutrisi kita untuk bisa berkembang dengan lebih baik. Seseorang yang berhenti belajar maka sesungguhnya dia berhenti berkembang,
Apalagi yang didapat? tentu reward yang luar biasa karena nama kita juga akan dikenal dan honor akan mengalir ke rekening kita. Bisa membuat kita lebih berdaya, produktif dan pastinya memberi manfaat untuk keluarga kita.
Maka, terlalu sayang kan jika kesempatan ini dilewatkan. Perempuan dan gaya hidup adalah bagian yang tidak terpisahkan. Persis seperti kata Derrida yang saya kutip di atas.

Mengalir bagai mata air, bergulir bagai bola salju. Tulisan akan tiba pada tempat dan saat yang tepat











Sabtu, 14 Juni 2014

Mengajar itu Membahagiakan

Mengajar itu Membahagiakan


Mengajar adalah seni, keterampilan dan ilmu pengetahuan yang dapat dilatih serta dipelajari.


Sejak kuliah saya suka mengajar. Awalnya karena banyak teman yang bertanya dan minta diajari. Dari situ tumbuh rasa suka berbagi ilmu. Hingga akhirnya saya mengajar di lembaga kursus dan les privat Bahasa Inggris. Saya merasa bahagia jika bisa membuat seseorang memahami apa yang saya ajarkan dan jika ilmu yang saya berikan bermanfaat bagi mereka. Rasa itu sudah tumbuh hingga semua saya lakukan dengan perasaan senang. Apalagi kalau saat dapat honor, tentu lebih bahagia lagi.

Mungkin sudah perjalanan hidup jika kemudian begitu lulus saya ditawari mengajar di almamater saya. Dan, terlebih yang meminta saya menjadi asisten dosen adalah Dekan saya sekaligus pembimbing skripsi saya, yaitu Prof. Riris K. Toha-Sarumpaet, M.Sc., Ph.D, yang saat ini menjadi salah satu Profesor Sastra di Universitas Indonesia. Beliau adalah dosen yang saya kagumi. Maka tentu saya menerima tawaran itu dengan rasa bahagia. Selama satu tahun, saya menjadi asisten Ibu Riris, sekaligus saya menimba banyak ilmu dari beliau. Sosok beliau tidak pernah saya lupakan hingga kini. Kami menjadi sangat akrab, saya sudah seperti anak bagi beliau. Saya tidak pernah lupa, saat saya menikah beliau datang dengan hadiah istimewa yang sampai saat ini masih saya simpan.

Hingga kemudian saya mengabdi sebagai dosen, tidak hanya di almamater saya tetapi juga di beberapa Universitas lainnya. Terlibat dalam berbagai penelitian dan kegiatan di kampus sungguh menyita waktu. Dan, saya menjalaninya dengan rasa bahagia. Menjadi bagian dalam hidup saya, di antara hidup saya yang utama sebagai istri dan ibu. Tanpa terasa semua berlangsung dalam kurun waktu yang lama, hampir 23 tahun lamanya. Waktu berjalan, hingga saya mengenal dunia menulis lewat pertemanan di dunia maya. Itulah, yang membuat saya memutuskan pensiun dini sebagai dosen tahun lalu. Saya memutuskan untuk menggeluti dunia menulis menjadi dunia baru saya. Saya tinggalkan kampus dan bekerja dari rumah. Mulai menulis.

Namun, dunia mengajar terlalu lekat dalam darah saya. Hingga saya tidak bisa berhenti. Karena itulah, saya mendirikan Writing Training Center. Bersama beberapa teman penulis lainnya, saya mengelolanya. Mengadakan pelatihan menulis secara online maupun offline. Bahagia bisa memberikan jalan bagi banyak orang untuk belajar dan mulai produktif menulis. Buku dan menulis manjadi bagian dalam hidup saya sejak lama sebetulnya. Saat menjadi dosen, saya juga menulis.

Ternyata membaca dan menulis masih merupakan masalah bagi Indonesia. Kita jauh tertinggal di banding negara lain. Berdasarkan hasil survey, di Indonesia perbandingan yang suka baca 1:1000. Jadi di antara 1000 orang hanya 1 orang yang suka membaca. Sementara Malaysia saja 1;2. Jadi diantara 2 orang, 1 yang suka membaca. Sungguh memprihatinkan. Karena itulah, saya tergerak untuk menebarkan virus menulis pada anak-anak di sekolah. Karena itu, kami menawarkan program ekskul menulis kreatif pada sekolah-sekolah. Untuk langkah awal kami coba wilayah Jabodetabek. Dan, beberapa sekolah tertarik untuk bekerja sama. Rasanya bahagia bisa menumbuhkna minat baca tulis pada anak-anak.

Kami sudah memiliki program lengkap sap silabus dan modul. Manfaat membaca dan menulis bagi anak sungguh luar biasa. Membuat anak tumbuh lebih kreatif. Karena dilatih untuk menemukan ide dan berimaginasi. Dari kegiatan ini, terbentuk juga karakter yang positif. Anak terbiasa mencari tahu berbagai hal, berpikir lalu menuliskan apa yang ia rasakan dan pikirkan. Kebiasaan seperti ini tentu sangat baik bagi anak-anak secara akademik, yang akan terbawa hingga dewasa. Kami juga mengundang sponsor untuk bekerja sama memberikan pelatihan gratis bagi sekolah dhufa.

Program kami juga dilengkapi dengan program Training the Trainers. Yaitu pelatihan untuk menjadi trainer. Sebelum teman-teman diajak untuk mengajar di program ekskul, mereka bisa mengikuti pelatihan ini. Untuk belajar tentang metode mengajar, berkomunikasi yang tepat dalam mentransfer ilmu, bersikap yang tepat sebagai pengajar, cara berpikir sebagai pengajar dan praktek mengajar sekaligus menguasai materi ajar. Setelah pelatihan, teman-teman diberi kesempatan untuk berlatih sebelum terjun sebagai pengajar yaitu magang atau asistensi.

Semua itu berawal dari kecintaan saya terhadap dunia mengajar karena mengajar membuat saya bahagia. Karena yang diajar juga merasa bahagia. Kebahagiaan yang ditularkan lewat dunia belajar dan mengajar. Karena itu untuk bisa mengajar tidak perlu banyak syarat, cukup kemauan. Yaitu kemauan untuk belajar tiada henti. Karena proses itu yang membuat seorang pengajar makin berisi. Kemauan untuk mau memulai dan menjalani semua proses akan menjadikan sesorang menjadi pengajar yang profesional.


Mari berbagi untuk anak bangsa. Mengajar adalah kerja nyata, sumbangsih nyata bagi bangsa ini.
Yang berminat menjadi trainer, teamwork atau mau kerjasama sila hub saya di akun fb deka amalia ridwan atau mention twitter@dekamalia