Jumat, 02 Mei 2014

Sebuah kata bernama “ Pendidikan” ada ditangan kita semua.


Setiap tahun di awal bulan Mei, kita membicarakan dunia pendidikan. Serta merta kita bicara tentang itu dan setelah itu kembali terlupakan. Kita juga melihat yang berwenang masih berjalan di tempat bahkan membuat kita nyaris frustasi. Sistem yang berjalan dinilai makin tidak jelas. Banyak hal yang perlu diperbaiki, tentu. Belum lagi berbagai kekerasan yang terjadi, hingga memakan korban. Semakin membuat kita menangis.

Meski kita juga tidak bisa menutup mata jika ada juga yang masih memiliki idealisme, baik guru dan sekolah. Ada di antara mereka yang berjuang untuk tetap menegakkan pendidikan yang sebenarnya. Pendidikan yang mengatasnamakan masa depan. Ingat, anak adalah yang bernama masa depan. Di tangan mereka lah kelangsungan sebuah bangsa berada. Ada sebagian dari mereka yang berusaha berjalan dengan idealisme seperti itu.

Sesungguhnya saya tidak hendak bicara tentang itu. Saya hanya ingin bicara atas nama dimana saya berada, yaitu seorang ibu dengan tiga orang putri yang mengenyam pendidikan selama ini. Saat ini mereka duduk di kelas 2 SMA, 3 SMP dan 5 SD. Karena itu, saya hanya ingin berbagi pengalaman bagaimana sikap saya dalam mendampingi anak-anak saya bersekolah. Nyaris telah berlangsung hampir 14 tahun lamanya. Waktu yang cukup lumayan. Karena itu ijinkan saya berbagi, semoga yang membaca tulisan saya ini bisa mengambil hikmahnya. Terutama ibu-ibu muda yang saat ini semakin galau dengan perkembangan dunia pendidikan.

Semua tahu rumah pertama bagi anak-anak adalah rumah dimana orang tua berada. Dengan segala daya orang tua berusaha memberikan yang terbaik, situasi rumah yang nyaman, gizi yang cukup, mainan yang pantas, dan kenyamanan lainnya. Kita sebagai orang tua berusaha memberikan yang terbaik termasuk memilih sekolah yang tepat menurut kita, yang cocok untuk anak-anak kita. Setelah itu kita menempatkan sekolah sebagai rumah kedua mereka. Guru di sekolah adalah orang tua kedua mereka. Kita yakin itu, percaya itu maka jika sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi, betapa kecewa dan sakitnya. Kita berharap guru dan sekolah memberikan perhatian yang sama besarnya seperti anak-anak kita saat berada di rumah.

Pendidikan memang ada di tangan kita semua, pemerintah, sekolah, masyarakat dan orang tua. Seharusnya kita berjalan bersama karena pendidikan adalah hal terpenting bagi seorang anak. Namun, siapa sebetulnya dari semua itu yang paling utama ada di garis depan pendidikan seorang anak? Jawabannya hanya satu, kita, orang tua mereka. Karena hanya kita lah yang paling mengenal anak kita, yang paling dekat dan tentu yang paling mencintai mereka dengan segala jiwa raga. Karena itu, teman. Jangan kita lepas tangan, jangan kita serahkan pendidkan anak kita 100 % pada sekolah, sehebat apapun sekolah itu, kita harus terlibat di sana, jangan hanya sekedar membayar uang sekolah, jangan hanya datang saat diundang. Terutama saat masa-masa emas anak kita yaitu saat TK dan SD. Karena setelah SMP, SMA dan Universitas kita sudah bisa berkomunikasi lewat anak kita.

Inilah yang saya lakukan saat mendampingi anak-anak saya bersekolah. Sebelumnya mohon maaf, saya tidak merasa sudah hebat, juga tidak merasa telah melakukan yang paling tepat, atau juga tidak merasa sudah melakukan yang terbaik. Saya yakin banyak ibu-ibu lain yang melakukan hal yang lebih hebat, lebih baik atau lebih tepat. Saya hanya ingin berbagi dan ini yang terbaik yang bisa saya lakukan, sesuai dengan kondisi saya dan anak-anak saya.

Sejak awal menikah saya memang sudah bertekad untuk tidak bekerja full time. Karena itu saat ditawari menjadi dosen, saya senang luar biasa. Karena dengan begitu, saya lebih bisa mengatur waktu lebih banyak untuk anak-anak saya. Tetapi bukan berarti seorang ibu yang bekerja full time tidak bisa melakukanya, meski tentu dengan waktu yang lebih terbatas. 

Berikut yang saya lakukan saat mendampingi anak-anak bersekolah.

  • Saya selalu berusaha berkomunikasi dengan anak saya setiap hari. Menanyakan apa yang terjadi di sekolah, pelajaran apa, main sama siapa, makan apa dan lainnya. Hingga kadang tanpa ditanya, mereka sudah memberikan laporan. Ini menjadi bahan diskusi kami setiap hari.
  • Saya selalu menekankan pada anak-anak, bahwa tak ada satu orang pun yang berhak melakukan kekerasan pada mereka, tidak teman, guru atau siapapun itu. Karena itu, mereka harus bisa membela diri dan berani bersikap jika ada yang berlaku tidak pantas padanya. Dengan begini kita membekali anak naluri membela diri sejak dini.
  • Setiap ada kesempatan datang ke sekolah, saya selalu menemui guru anak saya. Hampir setiap minggu ini saya lakukan, hanya sekedar bertanya apa kabar atau sambil lalu menanyakan perkembangan anak saya. Dengan seringnya menjalin komunikasi saya jadi bisa memberikan masukan, baik pemikiran, ide-ide dan lainnya tentang pelajaran, sistem atau apa saja yang dirasa perlu.
  • Setiap kali ada acara sekolah, baik merayakan hari besar, karyawisata atau apa saja, saya selalu menawarkan bantuan sukarela, tidak selalu berbentuk materi, lebih sering saya membantu tenaga untuk mengerjakan apa yang dibutuhkan. Kedekatan ini membuat saya bisa bicara akrab dengan pihak sekolah, sambil memberikan berbagai saran dan masukan yang dirasa perlu. Dengan begitu, pihak sekolah lebih bisa menerima.
  • Saking seringnya hadir dan berbicara di rapat, akhirya saya menjadi wakil ketua POMG bahkan untuk periode berikutnya menjadi Ketua POMG. He he he tidak harus sih terlibat sedalam ini, minimal jika ada rapat orang tua murid dengan sekolah, kita hadir. Mendengarkan dan memberikan masukan. Intinya menjalin komunikasi itu penting.
  •  Jangan bersikap seperti menjalin bisnis dengan sekolah,  kita bayar dan kita  berhak mendapat pelayanan. Materi sesungguhnya tidak berarti jika dibanding dengan pendidikan yang ditanamkan pada anak kita, terlepas murah atau mahalnya biaya sekolah. Semua cuma hitungan angka sementara anak kita tentu lebih dari sekedar angka. Karena itu kenali guru anak kita, kenali pihak sekolah dan kenali semua yang ada di sekolah. Saya bahkan kenal dengan satpam, OB dan tukang kebun. Tahu saat ada istri satpam melahirkan, lalu saya galang orang tua memberikan hadiah. Tahu saat ada OB yang anaknya meninggal, lalu kita datang kerumahnya berbela sungkawa. Jalinan seperti itu yang harus kita jalankan jika menganggap sekolah adalah rumah kedua bagi anak kita. 
  • Mungkin ada yang bersekolah di sekolah yang besar hingga terlalu sulit melakukan itu. Rasanya tidak, saat ini saya mengajar ekskul di salah satu sekolah mahal di Jakarta, saya hafal OB yang bertugas di lantai tempat saya mengajar, saya juga tahu satpam yang ada di lobby depan. Jadi sesungguhnya sebagai orang tua kita bisa mengenal mereka yang ada di lingkungan anak kita sekolah.
  • Saat menjadi Ketua POMG, saya superaktif. Mengadakan berbagai event besar di sekolah. Mungkin tidak harus seperti saya, yang mau saya tekankan, kita mempunyai kewajiban berkontribusi dengan sekolah, terlepas kecil beasarnya kontribusi itu. Karena itu mungkin setiap sekolah diwajibkan memiliki kepengurusan POMG atau yang dikenal dengan Komite Sekolah saat ini. Karena ada ditangan kita semua sebuah pendidikan itu berlangsung. Jika tidak bisa berbuat lebih besar, mulailah dengan tempat dimana anak kita bersekolah. Jika tidak bisa terlibat sebagai pengurus tetapi berusaha hadir setiap diundang rapat.
  • Melihat pelajaran anak-anak yang super saat ini karena banyak sekali pelajarannya. Setiap pelajaran kadang ada 2 buku. Beban anak-anak kita saat ini memang besar. Mereka harus mampu memahami banyak hal. Itulah yang terjadi saat ini. Bagaimana menyikapinya? Saya menanamkan jika ujian itu karena belajar bukan belajar karena ujian. Dengan begitu anak-anak tidak merasa terbebani karena belajarnya setiap hari. Sedikit tidak apa-apa, sebentar tidak apa-apa, yang penting ada yang mereka pelajari setiap hari.
  • Saat SD, saya masih mendampingi mereka belajar, namun begitu SMP dan SMA, saya ajarkan mereka mandiri dan bertanggung jawab terhadap pelajarannya. Mereka terbiasa membaca dan membuat rangkuman, hal itu membantu dalam belajar.

Begitulah, usaha saya sebagai seorang ibu. Berusaha memberikan yang terbaik. Saya merasa masih jauh dari sempurna. Saya hanya berusaha sedekat mungkin dengan anak saya dan sekolah dimana saya menitipkan anak hampir sepanjang hari. Karena, kebetulan anak saya sekolah di full day school. Dari jam 7 pagi hingga jam 16 sore. Alhamdulillah, dengan segala pencapain anak saya saat ini, saya bersyukur.
Demikian, teman. Semoga bermanfaat ya. Amin
Salam ORTU!!! He he he

Catatan: Jika ingin melakukan perbaikan mulailah dari diri sendiri. Jika ingin berbuat, lakukan lah meski sekecil apapun karena mengkritik adalah pekerjaan paling mudah. 







2 komentar:

  1. Susah ya sekarang, kalau nggak puas dikit masuk koran. Uang 100rb jadi masalah. Kasian juga dg para guru. Semestinya ortu memang byk terlibat di sekolah spy tidak suudzon & sekolahpun tidak sembarangan.

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan komentar dan terima kasih ya sudah meninggalkan komennya Salam hangat.
deka