Selasa, 15 April 2014

Untuk sahabatku, Dyah Rinni

Dyah dalam Marginalia, sesuatu yang tak biasa...

March 18, 2013 at 11:31pm
(Review) Dyah dalam Marginalia, sesuatu yang tak biasa...

Judul                 : Marginalia, Catatan Cinta di Pinggir Hati
Penulis              : Dyah Rinni
Penerbit            : Qanita
Jumlah halaman : 304 halaman







Mengenal sosok Dyah Rinni, yang kini sudah kuanggap adikku, rasanya membanggakan. Dari saat pertama bertemu aku sudah menduga ada sesuatu yang tak biasa darinya. Diskusi panjang bersamanya meyakinkanku akan lahir sebuah karya yang tak biasa dari dirinya. Dan, saat membaca Marginalia, dugaanku benar.

Sebuah novel romance pada dasarnya tak lebih dari sebuah kisah percintaan dan penulis yang tak pandai mengolah kata akan terjebak pada kisah klise : pertemuan dua insan, ada tantangan, ada dukungan, bersatu, bahagia selamanya. Model dasar dari sebuah kisah romantis. Tetapi tidak dengan Dyah dalam marginalia, ia mengolah dengan piawai dari awal hingga akhir, dari pemilihan judul hingga penutup kisah dengan sebuah puisi Rumi, penyair yang diciptakan Dyah sebagaia pengikat kisah tokoh Aruna -Padma dan Aruna-Drupadi

Saat semua senang dengan judul puitis dan berbahasa asing, tidak dengan Dyah. Marginalia judul yang dipilihnya hanya memiliki definisi catatan di pinggir sebuah buku. Namun, catatan-catatan itu dijadikan Dyah untuk mengolah konflik, mendekatnya hati Aruna dan Padma, kekasihnya yang telah  tiada. Bahkan mempertemukan tokoh utama Aruna-Drupadi. Manis, itu kesan yang diperoleh dari tautan konflik yang tercipta diantaranya. Hingga pembaca dapat menangkap konfilk batin tokohnya bahkan hanya saat membaca catatan yang dibuat para tokoh, libatan emosi kentara disana, membuat pembaca larut meski hanya dari satu kata yang tertulis dalam marginalia-marginalia itu. 

Tekhnik pemilihan sudut pandang yang bergantian antara tokoh utama Aruna-Drupadi juga membuat konflik yang tercipta mampu terungkap dengan dalam. Pembaca mampu menyelami batin setiap tokoh. ikut larut dalam tiap peristiwa yang tertaut diantaranya. Bahkan pemikiran tokohnya, perasaan tokohnya dan motivasi tokohnya. Tekhnik ini sesungguhnya sudah banyak digunakan penulis, namun Dyah piawai mengikat peristiwa hingga tidak ada peristiwa yang tidak bermakna. Dan, itu membuat alur tercipta dengan kuat.

Pemilihan latar sebuah kafe, sebuah tempat yang menjadikan historis diantara tokoh-tokohnya melengkapi indahnya suasana kisah romantis ini. Kafe pun digambarkan bukan kafe biasa, sebuah kafe yang tersembunyi, yang membuat orang ingin mengintip dan berada disana berlama-lama. Persis seperti saat pembaca memulai membaca marginalia, tak ingin melepas hingga tamat dan bahkan mengulang membacanya.

Well, Dyah imaginasimu tidak berhenti disitu. Kamu pun membuat mataku berkaca. Perjuangan tokoh Aruna untuk mendapatkan cintanya sama seperti setiap manusia mengejar cintanya. Dyah tidak terjebak pada kisah gombal saat sang tokoh berjuang untuk mendapatkan cinta sejatinya. Tengok kalimat ini : "Aku Yudhistira, aku Arjuna, aku Bima, aku Nakula Sadewa. Berapa Bharatayudha harus kujalani demi kamu, Drupadiku"   dan, semua kalimat yag terjalin disana. 

Gambaran tokoh yang kuat, karakter yang manis, kisah yang indah, latar yang romantis, peristiwa yang terjalin padat, kata-kata yang terurai cerdas, lengkap. Aku terkesan pada karya ini, Dee. jangan pernah berhenti berkarya.....

love you, always
deka

Ps : kamu sungguh pantas menjadi pemenang.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar dan terima kasih ya sudah meninggalkan komennya Salam hangat.
deka