Selasa, 15 April 2014

Tentang Suci, cinta yang tak pernah putus...




Salah satu karya Suci yang jadi ilustasi sebuah buku

Kuantarkan Kau ke Gerbang...
Oleh : Deka Amalia

Memandangi gadisku kini, seringkali mataku berkaca bahagia dan bangga. Rasa syukur atas segala karunia yang telah Tuhan berikan pada kami. Betapa kehadirannya telah memberikan begitu banyak arti akan hidup yang sesungguhnya. Ia hadir memberikan banyak pembelajaran akan kehidupan ini. Mengikat cinta kasih antara kami sekeluarga lebih dalam. Membuat kami mengerti akan kebesaran dan kasih sayang Tuhan pada umatnya. Aku yakin seandainya semua memahami akan maksud dari setiap pemberian Tuhan maka tak akan ada orang tua yang menyesal jika dikarunia anak yang menyandang disabilitas.

Semua itu tentu juga tidak serta merta aku pahami, dalam perjalanan membesarkan gadis sulung kami. Namun, semakin hari semakin aku menyadari jika ia adalah karunia terbesar dalam hidup kami. Bagi aku terutama, sebagai seorang ibu yang melahirkannya. Ia membuat aku kuat, membuat aku mampu menghadapi segala apapun dengan kebesaran hati. Segala pencapaiannya, cita-citanya, semangatnya, mimpinya, kerja kerasnya, prestasinya, semua...semua membuat kami merasa bangga. Meski perjalanan masih panjang untuknya, namun aku yakin ia mampu meraih semua mimpinya.

Teringat saat ia hadir di tengah-tengah kami. Ia bayi yang kami tunggu selama hampir 4 tahun lebih. Setelah dengan segala doa dan usaha, akhirnya kami dikarunia seorang bayi perempuan yang cantik. Selama kehamilan yang aku jaga sedemikian rupa, aku yakin akan memiliki seorang bayi yang sempurna. Namun Tuhan berkehendak lain, saat bayi kami berusia 8 bulan. Aku curiga ada sesuatu yang berbeda dengannya, karena ia terlalu anteng, tidak terpengaruh oleh berbagai suara. Betul saja, setelah melakukan serangkaian pemeriksaan,  akhirnya kami mendengar hasilnya jika ia tuna rungu.

Sejenak aku tenggelam dalam tangis, bingung menghadapi sesuatu yang tidak terduga terjadi dalam hidup kami. Bingung apa yang harus kami lakukan. Hingga suatu malam, saat memandangi wajahnya yang polos, cantik, tersenyum dalam lelap tidurnya. Batinku tersentak, mengapa aku harus menangis jika bayiku tersenyum. Maka sejak itu aku berjanji, tak akan ada lagi air mata, aku akan membuat hidupnya selalu  dihiasi senyuman. Aku akan membesarkannya dan membuatnya mandiri. Kupeluk bayiku, dalam senyap malam. Aku terpenjam dan berdoa. Ya Tuhan, ia karunia yang engkau berikan maka aku akan mencintainya tanpa batas. Mendampinya, menjaganya dan memberikan yang terbaik untuknya. Sejak itu hatiku tenang, hatiku merasa damai dalam keikhlasan akan pemberian Tuhan. Tak lagi aku mencari penyebab, tak perlu itu. Ia hadir sebagai buah cinta kasih kami. Ia hadir sebagai karunia yang luar biasa pada kami.

Akhirnya aku mencari segala informasi tentang tuna runggu. Dari berbagai sumber. Apa yang harus aku lakukan untuk bisa memberikan yang terbaik untuk bayi kami. Aku ingin bisa mengatasi dengan tepat sehingga ia bisa memperoleh yang terbaik. Dokter anak kami menyarankan untuk mulai sesi terapi bicara. Kami mendatangi akademi terapi bicara, meski lokasinya cukup jauh dari tempat tinggal kami tetapi tak mengahalangi langkahku untuk secara rutin membawanya kesana. Hingga kemudian memasukannya ke sekolah Santi Rama saat usianya masih batita.

Aku tak menyangka waktu terapi yang dijalani anakku tidak instan, butuh waktu  bertahun, butuh kesabaran yang luar biasa untuk memperolah hasil nyata. Bayangkan sejak usia satu tahun hingga usia batita ia belum bisa bicara. Belum ada satu kata bermakna yang keluar dari bibirnya. Sampai aku bermimpi ia memanggil aku, mami...mami....sebab hanya guman yang tak jelas yang keluar dari bibirnya. Badannya yang bongsor tentu kadang menarik perhatian banyak orang jika kami berada di tempat umum. Namun pandangan heran mereka saat itu yang melihat putri kami tidak bisa bicara hanya aku balas dnegan senyuman. Pernah ada seorang ibu mendekati kami dan bertanya, kenapa anaknya, tidak bisa bicara ya? Kasian, sekolah nggak? Aku hanya tersenyum, iya bu anak saya tuna rungu, masih belajar bicara dan tentu saja ia sekolah. Ibu itu tetap melihat aku dengan pandangan kasian, hinggga aku berkata, kami tidak apa-apa, tidak perlu kasian pada kami.

Apa itu menghalangi langkahku? Tidak. Aku membawanya kemana saja. Bagiku itu penting. Ia harus terbiasa berada di tempat umum, bertemu banyak orang hingga itu tentu yang akan sedikit demi sedikit memupuk rasa percaya dirinya. Aku ingin ia merasa tidak berbeda, aku tak ingin sedikit pun keterbatasan dirinya menghalangi langkahnya kelak. Kubiarkan ia bicara dengan siapa saja, karena ternyata dasarnya putriku ini senang bicara. Dan aku adalah penerjemahnya karena aku memahami apa yang ingin disampaikannya. Terutama jika ia ingin sesuatu, entah makanan atau mainan, ia akan berteriak tidak jelas sambil menunjuk benda yang diinginkannya. Dan aku akan menghampirinya, mau ini sayang? Ini bagus ya? Ia melompat kegirangan. Aku  selalu mengakhirinya dengan pelukan hangat.

Kesabaran akan membawa buah. Itu pasti ternyata. Hingga akhinya sesi terapi yang tak terhitung lagi sudah kami jalani itu mulai sedikit demi sedikit memberikan hasil yang luar biasa. Saat pertama kali satu kata bermakna keluar dari bibirnya. Aku menangis penuh keharuan. Mi...bola...bola...mi....Ya Tuhan, aku menguncang tubuhnya yang keheranan. Bilang lagi sayang, bilang lagi, mami mau dengar....bola ya...bola....dan ia terus berkata, bola...bola...bola....Aku berteriak kegirangan, anakku bisa bicara...bisa bicara....

Sejak itu, kata demi kata semakin banyak lahir dari bibir mungilnya. Dan, kemudian mulai terangkai dalam satu kalimat yang jelas. Aku mau makan, mau minum susu dan sebagainya. Tak ada yang mustahil bagi yang mau berusaha, maka sejak itu aku yakin, banyak pintu akan terbuka untuk anakku. Meski tentu tidak mudah, tetapi aku yakin pasti akan ada jalan lebar baginya. Ia semakin cerewet dan mulai banyak bertanya tentang berbagai nama benda, aku menulisnya dalam kertas-kertas kecil. Atau, menuliskan nama-nama di bawah gambar. Misalnya gambar piring, lalu aku tulis kata piring di bawahnya. Hingga kosa katanya terus bertambah. Seiring dengan itu, ia mulai bisa membaca dan menulis dengan lancar. Berhitung ternyata pelajaran yang paling dia sukai.

Saat lulus TKLB Santi Rama. Pihak sekolah merekomendasikan anakku ke sekolah umum. Menurut mereka anakku mampu jika mau. Ia cerdas, daya tangkapnya bagus, percaya dirinya tinggi dan bicaranya semakin baik. Maka, aku mencari sekolah yang cocok untuknya. Akhirnya aku menemukan sebuah Sekolah Dasar Islam yang mau menerimanya. Meski dengan syarat jika tidak bisa mengikuti bersedia pindah. Aku sampaikan pada mereka, perlakukan anakku sama saja. ia tidak butuh diistimewakan, ia hanya butuh diterima dengan tulus.

Ternyata, aku pun tak menduga saat setiap nilai ulangan harian yang ia bawa pulang selalu angka 9 atau 10. Awalnya aku berpikir, yang penting ia bisa mengikuti ternyata ia mampu lebih dari yang kuduga. Dan, saat menerima raport semester pertama ia masuk 5 besar. Semakin aku yakin akan kemampuannya. Sejak itu prestasi akademiknya selalu mendapat yang baik diantara yang terbaik. Semua berlangsung hingga ia tamat sekolah dasar dengan nilai USBN yang luar biasa. Matematikanya 9,8. Begitu juga saat lulus SMP. Hingga kini, gadisku yang bernama Suci Geulis duduk di kelas 2 SMA, jurusan IPA. Diluar prestasi akademik, ia jago menggambar. Setiap mengikuti lomba ia pasti menang. Ia menyukai manga dan jago komputer. Ia juga aktif di berbagai kegiatan sekolah. Saat SMP dulu ia pengurus OSIS. Saat ini, ia ikut berbagai kegiatan ekskul dan lainnya di sekolah. Ia berbaur dengan semua temannya yang mendengar.

Sejak SMP bahkan ia sudah mampu belajar sendiri. Berbeda saat SD dulu, aku mendampinginya belajar. Teringat aku membaca semua buku pelajaran sekolahnya, membuat rangkuman, membuat soal latihan. Karena kuatir ia tidak menyerap dengan baik penjelasan gurunya di sekolah. Aku menjelaskan satu demi satu kosa kata yang belum ia pahami yang ada dalam buku pelajaran sekolahnya. Sejak SMP, ia sudah mampu memahami semua dengan baik.

Aku ingat saat ia duduk di kelas 5 SD. Mungkin saat pertama kali,  ia menyadari kekuranganya. Jika ia tidak mendengar. Ia bertanya mengapa? Bingung bagaimana menjelaskan pada anak seusia itu. Aku hanya memeluknya dan berkata. Semua berasal dari Tuhan. Banyak kelebihan yang Tuhan berikan pada kamu yang harus kamu syukuri. Ternyata ia hanya menjawab santai, nggak apa-apa kok mi...aku hanya bertanya...

Sejak itu, seolah itu tidak lagi mengganggunya. Ia layaknya gadis remaja yang lain. Yang ceria dan aktif. Ia melakukan banyak hal. Bahkan ia terbiasa berpergian kemana saja tanpa aku dampingi saat mengikuti kegiatan sekolah. Studi tour keluar kota, misalnya. Ia juga sudah berani belanja sendiri atau melakukan apa saja tanpa perlu lagi aku dampingi. Sering kami bercakap tentang banyak hal. Tentang perasaannya jika bertemu orang baru atau berada di lingkungan baru. Tentang mimpinya dan cita- citanya. Aku hanya mencoba menanamkan, jangan ragu mengatakan saya tuna rungu. Iya mi, aku bangga pada diriku kok, jangan kuatir. Nah, sekarang malah ia yang berusaha menetramkan hatiku....

Sebagai seorang gadis yang mulai beranjak remaja, tentu tak lepas dari pemikiran. Apakah aku akan mendapat pasangan? Dalam setiap apapun aku mencoba membawanya pada Tuhan. Jika Tuhan menciptakan manusia berpasangan dan pasti akan ada pasangan yang disiapkan Tuhan untuk kamu. Yang membuat aku bahagia, jika kami sangat dekat. Bisa bercerita soal apa saja. selalu aku tegaskan jika aku aku adalah temannya kini, yang bisa diajak bicara soal apa saja.

Memandanginya kini, anak remaja kelas 2 SMA yang cantik, cerdas dan aktif. Apa pernah aku akan mengira akan seperti ini dulu saat menimangnya semasa bayi? Tak pernah terbayangkan dulu. Perjalanan yang panjang telah mengantarnya hingga seperti saat ini. Ia tidak hanya bisa bicara dalam bahasa Indonesia tetapi juga bahasa Inggris dan Arab. Tak pernah terbayangkan ini yang terjadi, dulu hanya bisa berdoa dan berusaha. Terlebih lagi, ia tumbuh menjadi gadis yang penuh percaya diri dan siap menghadapi apa pun yang harus dihadapinya. Ia tumbuh menjadi gadis yang kuat.

Kini, seolah ia tidak lagi membutuhkan banyak bantuan dari aku. Kadang, aku terbayang dulu saat mendampinginya setiap hari. Merawatnya, mengendongnya, membawanya terapi bicara, mengantar ke sekolah. Mendampinginya belajar setiap mata pelajaran sekolah. Menuliskan berbagai kata hingga memenuhi kamarnya. Memandang binar matanya saat perlahan mengucapkan satu kata....i n i b u n g a....begitu berlangsung semasa SD. Saat mengantarnya les, menemaninya mengikuti lomba atau hanya sekedar bermain. Saat dengan sabar membimbingnya untuk semakin mampu merangkai kaliamat demi kalimat.

Semua tinggal kenangan manis saat mendampingi putri yang teramat kucintai ini. Waktu yang panjang telah terlewati. Sebentar lagi ia akan melesat jauh. Saat aku mendengar cita-citanya, aku mau kuliah. Sebentar lagi kita akan jarang bertemu, menyapa lewat udara. Tak terasa air mata menitik....

Dan, ia akan bekerja nanti. Menikah. Memiliki keluarga. Semua yang dulu terasa berat dijalani itu justru kini menjadi hal yang aku rindukan. Sebuah kenangan manis bersama putriku. Maka, apa yang berat bagi seorang ibu? Tak ada sesungguhnya. Semua akan terasa ringan jika dijalani dengan penuh cinta. Aku pun beruntung suamiku bersamaku dalam setiap detik perjuangan membesarkannya. Aku yakin, ia akan merindukan saat mengantar jemput sekolah putri kami  yang telah dijalaninya bertahun lamanya.

Itulah, maka aku katakan jika kehadirannya memberikan banyak berkah bagi kami. Setiap pencapaiannya yang kami syukuri. Perjuangan ini menjadi terasa amat manis karena hasil yang kami peroleh sungguh luar biasa. Tak ada yang mustahil untuk dicapai bagi yang sabar. Bagi yang berdoa dan berusaha. Memang, masih panjang perjalanan bagi putri kami tetapi semangatnya akan mampu mengalahkan semua halangan.

Maka, terimalah setiap kelahiran dengan rasa syukur dan bahagia. Apapun kondisi anak kita adalah karunia Tuhan. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi, jangan pernah singkirkan setiap anak yang menyandang disabilitas dari kehidupan kita. Ia bukan sesuatu yang harus membuat kita malu. Ia akan memberikan kebanggaan yang sama. Darinya, kita belajar akan arti syukur dan ikhlas yang sesungguhnya. Seperti halnya aku, yang justru belajar banyak hal dari putriku. Aku belajar menjadi kuat, sabar dan ikhlas.

Aku mearasa saat ini aku telah tunai mengantarkannya ke gerbang masa depannya. Meski kadang timbul pertanyaan sudah cukupkah bekal yang aku berikan padanya? Ingin aku bisa memberi lebih banyak. Pernah aku mengintip buku hariannya, aku istimewa karena mami memperlakukan aku dengan istimewa. Maka aku sama dengan yang lain, aku tidak kekurangan apa-apa karena ada begitu banyak kelebihan dalam hidupku. Saat itu aku menangis, bahagia karena ia mampu memahami dirinya dengan baik.

Inilah sebuah perjalanan yang hampir mencapai titik akhir. Terbayang, saat nanti ia lulus SMA lalu kuliah. Maka aku hanya akan mendengar kabar darinya lewat telpon, sms, bbm, email dan sebagainya. Namun, hati kami tetap tersambung. Cinta kasih antara kami akan abadi. Dalam doa kami masing-masing. Ia yang selalu ada dalam doaku dan aku yang selalu ada  dalam doanya.

Setiap anak adalah istimewa. Meski apa pun kekurangan yang ia miliki. Pasti ada kelebihan yang ia miliki. Jangan pernah menyerah oleh sebuah kondisi. Berjuang dan terus berjuang tanpa kenal lelah.
Anakku sayang, kuantarkan kau ke gerbang...




Note : Saat ini, tahun 2016, Suci sudah kuliah di Fakultas Desain Komunikasi Visual.
IPK semester pertamanya 3,6. Saat ini, ia semester 2

14 komentar:

  1. Masya Allah......Terharu saya bacanya mba. suci punya ibu yg hebat dan sabar...Barakallah....:-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, terima kasih ya mbak...Aamiin...

      Hapus
  2. Ikut terharu bacanya :(
    Keingat anak2 saya, ngrasa diri ini belum baik jd ibu. Terima kasih mbak :)

    BalasHapus
  3. Brakallahu suci semoga selalu dilacarkan semuanya dan diberi kesehatan pada bundanya yang keren banget... TOP BGT.. ^_^

    BalasHapus
  4. Subahannalh, orangtua yg luar biasa menjadikan anaknya juga luar biasa. Jadi malu, saya masih banyak ngeluh :(

    BalasHapus
  5. bisa merasakan apa yang mbak Deka rasakan. saya juga punya anak khusus. Tapi, sampai kini saya masih harus terus erjuang untuknya. tulisan ini menambah semangat agar terus menaruh harapan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. Semangat mbak. Terus berjuang. Jangan pernah berhenti berdoa dan berharap. Insya Allah....

      Hapus
  6. Hanya orang tua istimewa yg mampu merawat anak2 istimewa menjadi lebih istimewa.

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan komentar dan terima kasih ya sudah meninggalkan komennya Salam hangat.
deka