Sabtu, 26 April 2014

(Manfaat Menulis) Menulislah karena itu Membuatmu Bahagia.



Watch "Writerpreneur Club" on YouTube - https://youtu.be/z-Ym1bjcEec


Menulis karena itu membuatmu bahagia.


“All good books are alike in that they are truer than if they had really happened and after you are finished reading one you will feel that all that happened to you and afterwards it all belongs to you: the good and the bad, the ecstasy, the remorse and sorrow, the people and the places and how the weather was. If you can get so that you can give that to people, then you are a writer.” 
 
Ernest Hemingway

Pada dasarnya setiap orang bisa menulis. Mungkin karena saat kecil dulu yang pertama kali diajarkan pada kita adalah membaca dan menulis.  Semua pasti ingat kan jika itu  pelajaran awal yang kita terima, hanya dalam perjalanan semua seperti tergerus. Membaca hanya sempat hingga menulis jadi sulit.  Padahal dua kegiatan itu sungguh berdampak luar biasa bagi perkembangan kecerdasan dan kepribadian  manusia sejak balita hingga tua.  Hal tersebut yang kurang disadari oleh masyarakat kita hingga dua kegiatan itu jadi membosankan. Membeli buku jika perlu, membaca jika mau ulangan atau ujian dan menulis sekedarnya. Menyedihkan sesungguhnya, apalagi saat hasil survey membuktikan jika minat baca masyarakat kita termasuk deretan terendah. Perkembangan buku terbit, toko buku, perpustakaan, dan penjualan buku tidak sebanding dengan jumlah penduduk Indonesia yang demikian besar. Kita jauh tertinggal dari negara lain.

Coba lihatlah, paradigma yang berkembang membuktikan betapa sayang mengeluarkan uang untuk membeli buku. Tetapi dengan mudah membeli mainan untuk anak, bahkan harus punya jika mainan itu lagi trend. Rasanya ketinggalan jaman jika tidak membelikan mainan yang trendi. Coba lihatlah tidak pernah berpikir untuk mengeluarkan dana membeli barang-barang konsumtif yang kadang sekali pakai dan coba pula berapa jumlah keluarga yang mengalokasikan dana bulanan untuk membeli buku. Dalam list pasti hanya kebutuhan rumah tangga, makanan, jalan-jalan dan lain sebagainya. Jika ada dana tambahan baru beli buku. Miris ya. Padahal seharusnya membeli buku sama pentingnya dengan membeli vitamin atau makanan, vitamin atau makanan adalah asupan untuk tubuh sementara buku adalah asupan untuk jiwa dan otak.

Kegiatan membaca dan menulis adalah dua kegiatan yang tidak bisa dipisahkan. Membaca membuat jiwa kita hidup, otak kita bekerja lebih efektif, merangsang sel-sel otak lebih kreatif, memberikan berbagai wawasan baru yang membuat seseorang mampu berpikir lebih cerdas. Ibaratnya tanpa membaca sesungguhnya otak kita kosong, banyak ruang kosong di sana yang tidak terisi akhirnya perlahan sel-sel akan mengeras dan sebagian mati. Membuat kita malas berpikir, cepat tua dan pikun. Sementara seorang anak yang membaca buku apa saja, satu buku satu hari saja, akan memperkaya jiwanya, merangsang sel-sel otak  tumbuh hingga membuatnya semakin cerdas. Menumbuhkan berbagai wawasan yang membuatnya berpikir hingga tumbuh beragam ide yang inovatif. Luar biasa kan? Jadi seharusnya belikan anak buku dan mainan hanya tambahan bukan sebaliknya. Dahulukan membeli buku dibanding membeli beragam barang konsumtif lainnya.

Kegiatan menulis tak kalah pentingnya. Dalam masyarakat berkembang paradigma jika menulis itu bakat, jadi kalau nggak punya bakat nggak bisa nulis. Seorang penulis itu titisan dewa yang jatuh ke manusia pilihan. Paradigma ini sungguh keliru. Bakat itu adalah sesuatu yang bisa ditimbulkan bukan semata hadir begitu saja. Ia bisa tumbuh, salah satunya karena kebiasaan, karena sering dilakukan dan akhirnya menyukai kegiatan itu. Intinya menulis adalah kegiatan yang bisa dipelajari layaknya keterampilan yang lainnya. Semakin sering berlatih menulis maka semakin berkualitas hasil tulisannya. Ide dan imaginasi bisa terus tumbuh seiring dengan proses menulis yang ditekuni.

Apakah menulis harus jadi penulis?

Seorang anak yang terbiasa menulis akan semakin cerdas karena ia terus berpikir. Ia akan lebih kreatif karena ia terus berimaginasi. Karakter positif akan tumbuh dalam dirinya karena dengan proses menulis tumbuh rasa. Ia lebih bisa merasakan berbagai nilai-nilai kehidupan yang akan berguna dalam dirinya. Jadi terlepas apapun profesinya nanti kebiasaan menulis akan membuatnya memiliki nilai lebih dalam hidup dan pekerjaannya.

Tak ada kata terlambat dalam menulis, setiap orang bisa memulai menulis saat ini juga. Mulailah menulis apa yang ingin kita bagi, apa yang kita tahu dan apa yang kita pikirkan. Perkaya dengan bacaan dan teruslah menulis. Setiap proses yang kita jalani akan memoles tulisan kita untuk bertambah baik. Dan, apa yang kita tulis memperkaya jiwa kita. Menimbulkan jejak dalam otak kita, mengisi sel-sel otak dalam diri kita untuk tetap aktif. Bahkan melatih kesabaran dan kehalusan pribadi kita.

Bagaimana menulis mempengaruhi diri kita?

Kegiatan menulis seringkali membuat kita memikirkan banyak hal untuk mencari ide, berimaginasi dengan beragam peristiwa dan menuangkannya dalam rangkaian kata. Kegiatan itu ternyata membuat otak kita bekerja dengan baik dan menghilangkan beragam penyakit sakit kepala. Menulis seperti sebuah meditasi yang menenangkan jiwa kita. Memberikan kedamaian. Karena kegiatan ini seperti katarsis yang membuang segala hal negatif yang ditimbulkan oleh beragam peristiwa yang mungkin tidak menyenangkan yang tertinggal dalam alam bawah sadar kita. Menulis membuat kita mampu berbagi berbagai hal positif, mengajak setiap orang yang membaca tulisan kita untuk bisa merasakan hal yang sama, seperti self-healing  bagi jiwa manusia. Dan, sebagai bonusnya kita akan awet muda dan tidak akan pikun.

Luar biasa sekali kan? Dua kegiatan membaca dan menulis yang kita kenal sejak bangku TK. Mari tanamkan pada anak-anak kita, mari kita sebarkan pada keluarga dan lingkungan sekitar, dan mari mulai sekarang juga.

Membaca dan menulislah karena itu membuatmu lebih bahagia.


Note ; sumber berbagai hasil penelitian ilmiah yang saya baca
Tambahan info : menurut survey masih dibutuhkan jutaan buku untuk membuat Indonesia cerdas






10 komentar:

  1. Saya menulis untuk terapi penyakit lupa saya sejak kecil, Mak. Ternyata berhasil dan malahan sekarang membuat saya jadi lebih teratur dan malah inget same ke hal2 kecil banget :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mak, bisa jadi terapi. maaf baru respon he he he

      Hapus
  2. Setuju.. Menulis itu sungguh bermanfaat... Karena jika ingin menulis tentu harus banyak membaca dan berfikir.. :)

    BalasHapus
  3. Saya selalu nulis, tapi masih selalu lupa naruh dompet di mana qiqiqi *canda*. Nice share, Mbak Deka. Yuk, terus menulis. ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. xi xi xi itu mah, biasa....yuuuk...

      Hapus
  4. sepakat mak, menulis memang menjadi obat terapi paling ampuh. bukan cuma terapi lupa, tapi juga terapi jiwa. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyesss siiiip. maaf baru respok wk wk wk

      Hapus
  5. Saya juga suka menulis. Sepertinya kalau ada yang tak tersampaikan disampaikan melalui tulisan, kadang jadi lega. Salam kenal, mba

    BalasHapus
  6. saya juga menulis sebagai terapi mbak di tengah keriuhan hidup bahkan saya menjadikannya me time ;)

    BalasHapus
  7. Bagi saya, menulis itu self-healing. Saya sepakat sekali dengan pendapat Mbak bahwa menulis dan membaca itu sangat berkaitan. Ada lagi, menurut saya menonton video-video di Youtube juga merangsang otak untuk lebih kreatif, misalnya video-videonya TedX :D Nice share mbak ^^

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan komentar dan terima kasih ya sudah meninggalkan komennya Salam hangat.
deka