Selasa, 15 April 2014

Kartini dulu dan kini

Teringat dulu pernah mengikuti simposium ini, masih relevan kah? 




PEREMPUAN DIGITAL : KARTINI NEXT GENERATION

April 21, 2012 at 7:13pm
Yang tertinggal dari SIMPOSIUM KARTINI NEXT GENERATION : 19 april 2012. Bidakara, Jakarta.
Catatan deka

Raga kartini memang tidak bersama kita, tetapi inspirasinya dan aspirasinya tumbuh dan berkembang dengan subur memperkaya khasanah perjuangan perempuan Indonesia.
Begitu kalimat yang tertera di leaflet acara yang digelar disebuah tempat yang mewah diprakasai oleh KEMKOMINFO (ribet ya nyebutnya he..he..) BNI syariah, Telkom Indonesia dan Majalah NOOR. Sebuah simposium yang membahas perempuan di era digital, dengan pembicara yang tidak hanya perempuan tetapi laki-laki. Semua pembicara adalah perwakilan dari yang memprakasai acara ini, dari Telkom, dari BNI Syariah, dari Kominfo, dan Pakar IT.
Seperti lazimnya acara-acara formal di Indonesia dibuka dengan menyanyikan Indonesia Raya, pembacaan doa, sambutan-sambutan. Pemukulan gong sebagai tanda dibukanya sebuah acara dan ditutup oleh dua menteri sekaligus, menteri pemberdayaan wanita dan menteri Kominfo, ditutup dengan peresmian website IT untuk pemberdayaan wanita.  Sebuah acara yang sempurna mulus, dengan kehadiran peserta yang berkiprah di berbagai bidang, wangi, keren dan cerdas. Mereka yang sukses di bidang masing-masing lengkap dengan pemberian anugerah untuk yang berhasil membuka sebuah usaha yang dirintisnya. Well, tidak ketinggalan lho BAZAR khas perempuan ( kalau gak belanja bukan perempuan namanya he..he..) yang paling enak tentu menu makanan yang bisa bikin bolak balik makan he..he..he..lagi.
Dari semua pemaparan diatas memang tidak ada hal yang berbeda atau luar biasa dari sebuah perayaan Kartini. Perempuan berpakaian tradisional atau batik lengkap dengan make up. Aku juga sama sempat repot pengen tampil beda dengan jilbab beda dari yang kupakai sehari hari, karena itu seorang umiqdar repot ngelilit-lilit jilbab yang baru kubeli untuk tampil beda (wk..wk..wk..wk ) di toilet gedung itu. Heeem….terfikir seratus tahun sudah kita merayakan Kartini dengan format yang sama…mengapa ya? Apa mungkin karena baru raga Kartini yang mengendap dihati kita tetapi nyawa yang sesungguhnya belum, meski sudah 100 tahun waktu yang terlewati…ntahlah..
Apa yang dipaparkan para pembicara itu juga bukan sesuatu yang baru apalagi luar biasa. Masih tetap format sama, bagaimana perempuan berdaya secara ekonomi, tidak tergantung laki-laki, tidak tertindas, melek tekhnologi, mampu menjalankan kewajibannya sebagai istri, ibu dan anggota masyarakat dengan baik. Ajakannya pun masih tetap sama, mari berbagi dengan sesama perempuan, mari menularkan semangat tinggi untuk perempuan marjinal di sekitar kita dan mari melahirkan generasi generasi penerus bangsa yang lahir dari tangan-tangan ibu yang luar biasa, sungguh heroik ya…
Aku sempat lemas karena terlalu berharap, sebelumnya dihimbau membawa laptop fullycharge karena akan diberikan bimbingan tekhnologi, wah..pasti sesuatu yang luar biara ya, tetapi ternyata hanya bagaimana membuat email, set up facebook, twitter…walah…ga jadi buka laptop. Sepertinya bimbingan ini salah sasaran, hampir semua yang hadir aku yakin adalah ibu-ibu yang menggunakan tekhnologi IT dalam kehidupan sehari hari. Ketika ditanya siapa yang belum punya email? Hanya ada 1 ibu dari seluruh ibu yang hadir.
Pertanyan para peserta pun masih berkutat di hal-hal yang sama, bagaimana peran IT dalam kehidupan perempuan, bagaimana kebijakan media yang menghadirkan kekerasan dan pornografi kerumah, bahkan ada pertanyaan kenapa speedy lebih mahal biaya langganannya dibandingkan dengan provider lainnya. Aku sengaja bertanya karena sambil PROMO LOVE ASSET he..he..tetep. Karena bagaimanapun LOVE ASSET adalah sebuah karya yang dihasilkan secara digital maka ketika ada pembicara yang menjelaskan ayoook kita manfatkan IT untuk berkreasi, berkarya dan menghasilkan heeem….sudah ibu..
Mungkin satu satunya yang baru adalah launching WEBSITE ICT FOR WOMAN, sebuah website khusus dari perempuan untuk perempuan. Diharapkan dengan adanya website itu bisa menjembatani perberdayaan perempuan lintas daerah yang bisa mencakup seluruh wilayah. Melalui website ini kaum perempuan juga diharapkan mampu meningkatkan kiprahnya diberbagai bidang. Semoga.
Terlepas dari semua pemaparan diatas tentu patut kita hargai diadakannya sebuah simposium seperti ini. Yang pasti tentu akan meninggalkan pemikiran masing-masing dibenak para perempuan yang hadir. Pemikiran tersebut semoga memberi energi positif untuk terus berkiprah dibidangnya, menyulut motivasi untuk terus berkembang lebih baik lagi sekaligus mengevaluasi diri apa-apa yang kurang dan apa-apa yang perlu diperbaiki. Tentu sebuah acara seperti ini patut digelar setiap tahun, ibaratnya suntikan vitamin agar tidak loyo. Satu hal sebetulnya yang paling penting bagaimana menularkan semua itu kepada perempuan di sekitar kita. Tak bisa kita pungkiri begitu banyak perempuan berada pada kondisi yang tidak seberuntung kita, jauh dari wangi, jauh dari IT. Merekalah sesungguhnya yang patut diperhatikan. Sesuatu yang secara kasat mata kita lihat ada tidak jauh dari kehidupan kita sehari hari.
Apa yang tertinggal dalam benakku setelah menghadiri acara ini? Well, ternyata aku juga sudah menjadi perempuan digital, yang menghabiskan waktu sehari hari bersentuhan dengan laptop, buka email, buka FB, buka mbah gugel dan lain-lainya. Saat ini aku berkreasi dan menghasilkan uang lewat IT.  Terfikir, sempat rindu dengan teman semasa kecil, teman lama yang ada dalam kehidupan lamaku…kemana mereka? Karena saat ini yang menjadi sahabat dekat, keluarga dekat adalah yang kukenal di dunia maya, bersama mereka aku berkreasi, berkarya dan menghasilkan sesuatu. Begitukah perbedaanya perempuan masa kini, kartini next generation, perempuan dunia maya, yang setiap hari melototi layar laptop he..he..he..
Perempuan berdagang bukan hal baru, sejak dulu perempuan berdagang. Perempuan yang setiap hari berkutat di lapak-lapak pasar, di kios-kios maupun di butik-butik mewah. Aku tidak pernah mengalami semua itu, dunia dagang justru kukenal setelah aku jadi perempuan digital, awalnya sekedar iseng tetapi setelah merasakan nikmatnya setiap hari ada uang masuk ke rekening…well, mengapa tidak? Tahu apa yang terjadi, aku berniat pensiun dari pekerjaan lamaku yang sungguh nyaman..sebagai dosen…mengapa? Bukannya pekerjaan dosen sudah tidak menyenangkan tetapi perjalanan di Jakarta yang semakin tidak nyaman. Waktu tempuh semakin panjang. Macet dimana mana, membuat aku menghabiskan waktu hampir 4 jam dijalan hanya untuk bolak balik rumah-kampus. Belum lagi kalau aku harus ngajar ke tempat lain yang lebih jauh. Jalan sungguh tidak ramah bagi seorang ibu seperti aku, yang masih harus memikirkan anak-anak dirumah.
Kesimpulannya apa? Menjadi perempuan digital adalah kartini next generation. Segala sesuatu bisa dilakukan dirumah, dekat dengan anak, bisa siap kapan saja untuk suami he..he.. tetapi sebuah pertanyaan timbul, apakah mungkin bagi mereka yang memiliki karir di dunia kerja? Tentu kehadiran mereka secara fisik dibutuhkan. Ataupun perempuan yang berdagang, ataupu perempuan yang menjadi buruh, apakah mungkin mereka menjadi perempuan digital? Mungkin saja, mereka tetap bisa menggunakan IT di lingkungan kerja mereka untuk mempermudah pekerjaan, itu pasti…
Itulah, masih membutuhkan pemikiran panjang untuk merumuskan apakah itu kartini next generation, butuh berapa lama lagi untuk itu juga masih belum pasti..
Well, sudahlah ini hanya pemikiran di minggu pagi…
Hepi wiken temans, selamat menjadi perempuan digital ya…
Be the best, be the first, be different for kartini next generation ( salah satu topik dari perempuan yang menjadi pembicara di symposium ini)
Can U be? Will U be? U the only one who can answer that…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar dan terima kasih ya sudah meninggalkan komennya Salam hangat.
deka