Selasa, 15 April 2014

Cerpen

Seandainya waktu bisa kembali

Deka

Udara sore sehabis hujan menyisakan mendung, dingin. Aku duduk di teras belakang rumah menatap taman kecil, Aku mengelus kursi yang kududuki, juga terasa dingin, sedingin hatiku kini. Udara dingin meliputi hatiku dan seisi rumah ini. Pemakaman suamiku baru saja usai siang tadi diiringi hujan sepanjang hari, seluruh kerabatku telah pulang dan kedua anakku tertidur kelelahan. Aku masih tak tahu harus melakukan apa. Aku masih tak bisa percaya jika Andrian, suamiku telah pergi, Ia telah dimakamkan dan menyisakan udara dingin disekujur tubuhku, dihatiku, dijiwaku. Aku sudah tak bisa lagi menitikkan airmata,sudah kering,habis tak tersisa meski hatiku masih merintih.

Andrian…, aku mendesis memanggil lirih namamu…mengapa kau harus pergi begitu mendadak sebelum sempat segala persoalan terurai, sebelum sempat mendekatkan hati kita yang belakangan ini makin menjauh, sebelum sempat kubisikan isi hatiku yang terdalam dan sebelum sempat kuselami isi hatimu. Semua belum sempat dan aku tak pernah mengira kau pergi begitu cepat diusiamu yang masih muda dan bergairah, belum lagi genap 40 tahun. Aku selalu menunda dan ragu untuk memulai walau keinginan untuk kembali dekat denganmu begitu menggebu, selalu kutahan, selalu bimbang dan ketinggian hatiku menyisakan penyesalan. Sungguh, dihatiku yang terdalam, aku begitu mencintaimu, begitu menginginkanmu, fantasiku kadang terbawa mimpi, tak sempat kurasakan, dan kini..setelah kepergianmu, makin terasa bahwa aku sungguh membutuhkanmu, aku menyesal. Apa isi hatimu sebenarnya Andrian, bagaimana perasaanmu padaku, masihkah kau sayang, masihkah ada cintamu untukku, masih berartikah aku dihidupmu ? Adakah wanita lain dihidupmu selain aku, Setelah 15 tahun perkawinan kita, setelah lahir dua buah hati kita, setelah sekian kenangan manis dan pahit. Dan, di akhir hidupmu hanya pertengkaran demi pertengkaran yang mengisi hari-hari kita. Kini semua hanya tanda tanya yang tak sempat kudapat jawabnya, telah terbawa bersama kepergianmu. Aku makin merintih, tubuhku lemas, tak berdaya. Dingin.

Lima belas tahun yang lalu kala kita memulai hidup baru, semua terasa manis, indah. Kata-kata lembut, pujian, tatapan mesra, sentuhan hangat, ciuman membara, malam malam tak pernah lewat tanpa kemesraan. Kebahagiaan makin lengkap dengan hadirnya sepasang anak manis kita, Rama dan Nika. Semua kita lakukan berdua, penuh kebersamaan, segala persoalan diselesaikan dengan pelukan hangat, dengan belai kasih sayang. Dengan penuh tawa kita menghitung rezeki yang kita dapat, jika berlebih kita bisa nonton film, makan direstoran, memanjakan diri dengan membeli pakaian, sepatu. Dan, jika kurang kita menghemat, makan apa adanya, bikin popcorn sendiri sambil nonton TV, menghabiskan hari libur dengan membersihkan rumah. Semua kenangan manis itu masih tertinggal erat dalam sanubariku yang terdalam.

Aku tak tahu pasti kapan…kapan semua itu berubah. Aku pun sulit mencerna apa yang membuat semua berubah. Aku..kau..Kita berubah. Keadaan berubah, persoalan demi persoalan membelit hingga begitu sulit terurai satu persatu. Semua bertumpuk, menyesakan hati. Aku mencoba mengingat ingat kapan semua berawal, Aku lupa..hanya yang kuingat kita tiba-tiba menjadi dua orang asing dalam satu atap. Semua lenyap. Tak ada lagi kemesraan. Yang ada hanya caci maki, tatapan dingin, saling menghindar, bicara seperlunya, bertanya singkat, menjawab singkat,menghabiskan waktu sendiri-sendiri. Tidur saling membelakangi. Dan, diantara kita tak pernah ada yang mau mengalah, tak pernah ada yang mencoba lebih dulu meminta maaf atau mengajak bicara. Aku menunggu, mungkin kau juga menunggu dan membiarkan semua berlarut.

Apa sebenarnya persoalan kita, sebenarnya tak ada yang begitu berat, aku tak pernah berpaling, walau kerap menduga tapi rasanya masih ada keyakinan, kau tak mungkin berpaling. Lalu apa ? Ah, mungkin waktu yang tak lagi bisa kompromi. Aku kini ingat rasanya mungkin semua berawal ketika karirmu mulai menanjak, keuangan kita membaik, bisa membeli rumah, mobil dan tak pernah lagi menghitung bersama karena semua berlebih dan keinginan materi bisa terpenuhi. Tapi kau semakin tengelam dalam pekerjaan hingga tak ada waktu lagi untuk kita dan kau menuduhku tak pernah mendukung karirmu karena tuntutanku atas waktumu selalu kudesak. Kau dengan alasan ingin memberi penghidupan yang baik untuk anak kita menuntut pengertian dariku yang juga tak kuberikan. Kemudian yang terjadi hanya pertengkaran yang melelahkan.

Satu bulan sebelum kepergianmu, aku lelah. Lelah dengan pertengkaran dan keadaan yang makin memburuk, dan kulihat dampaknya yang berat untuk kedua anak kita. Rama sering membangkang, mungkin karena pertengkaran kita yang kerap dilihat dan didengarnya. Rama tak pernah mau menurut perintah, nasehat atau bujukanku. Aku sungguh merasa tak berdaya sebagai Ibu. Aku tersentak ketika guru sekolahnya memanggilku, Ibu gurunya mengatakan jika Rama kerap memulai pertengkaran dengan semua temannya, Ia tak punya teman, semua teman dimusuhinya, dan ketika gurunya bertanya pada Rama, apa sebabnya, kau tahu apa jawabnya, dirumah papa dan mama bertengkar terus, Rama benci. Pulang dari sekolah Aku menangis, kita telah melukai masa kecil anak kita sendiri, Ia tak butuh semua materi yang selama ini kita limpahkan dengan berlebihan padanya, Ia butuh suasana kasih sayang dalam rumahnya dan itu tidak kita berikan padanya. Lalu Nika, walau lebih halus dengan cara yang berbeda juga mengungkapkan kekecewaannya pada kita. Dengan bahasa sederhana pernah ia bertanya padaku…”Ma, apa Mama dan Papa nggak saling sayang, kok bertengkar terus ?” atau pernah ia mengatakan…”Ma, Tante Mercy (Tetangga depan rumah kita) kalau Om Rio ke kantor pasti dicium dulu, Mama kok nggak pernah cium papa kalau papa ke kantor ?”  dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang tak pernah bisa kujawab.

Sejak itu, aku berpikir jika kita harus berdamai. Aku tak pernah berpikir untuk bercerai, seburuk apapun persoalan kita. Karena jauh direlung hatiku, aku sadar, aku tetap mencintaimu. Aku berpikir, jika kita masih punya waktu untuk memperbaiki keadaan, untuk mengubah semuanya, walau aku sadar mungkin tidak semudah membalikan tangan karena selama ini kita telah saling melukai. Tapi, aku masih punya keyakinan jika kita mau mencoba, mau berusaha, kita bisa mendekatkan hati kita kembali dan mendapatkan kemesraan kita yang hilang. Aku mau mencoba, mau berusaha, ingin aku tanyakan padamu, maukah kau mencoba, sama-sama berusaha. Banyak kesempatan untukku memulai bicara denganmu tapi tak pernah aku lakukan. Saat kau duduk terdiam didepan TV, aku duduk disebelahmu, kau diam. Aku juga diam, ingin aku menyentuh tanganmu, membawanya ke dadaku, tapi tak aku lakukan karena aku lihat matamu tertuju pada TV, tak perduli atas kehadiranku disebelahmu. Bibirku kelu, tanganku kaku dan akhirnya kita nonton TV sambil berdiam diri. Hingga kulihat tanpa menoleh kau menuju kamar dan tidur menghadap jendela, Aku dengan diam menyusul dan tidur disebelahmu, menghadap lemari, Kita seperti biasa saling membelakangi. Ingin rasanya saat itu aku berpaling, merengkuh tubuhmu, ingin rasanya saat itu, aku membiarkan tangis sambil kubisikan, aku tetap mencintaimu, tapi hingga subuh datang tak juga aku lakukan. Dan, akhirnya kesibukan pagi menyita kita, Aku sibuk mengurus Rama dan Nika yang hendak sekolah, Kau sibuk bersiap ke kantor. Lalu dengan singkat..kau berkata seperti biasa ..”Aku pergi” tanpa menatapku, tanpa menoleh, kau melangkah ke mobilmu, melaju cepat. Aku hanya bisa termenung menatap mobilmu yang makin menjauh.

Kau tak pernah menelpon jika tak perlu dan jika menelpon kau hanya bertanya singkat, “ Nggak ada apa apa?” Aku pun menjawab singkat “Nggak” lalu telpon ditutup. Dan jika ada masalah, kau berkata dengan nada tinggi “ Kamu nggak pernah becus ngurus apa aja.’” Dan Aku menjawab tak kalah ketusnya ”Kamu ngomong seenaknya aja.” Dan seterusnya..dan seterusnya…apakah itu tidak melelahkan kita ? maka pertanyaan dan jawaban singkat adalah usaha kita untuk menghindar dari pertengkaran. Kau selalu pulang larut malam dan aku terlalu gengsi untuk bertanya darimana…Ah, kita membiarkan semua itu terjadi terus menerus.

Hingga dua minggu sebelum kepergianmu, kau mengeluh tak enak badan, kau beristirahat dirumah. Aku membuatkanmu bubur ayam dan kau makan dengan diam. Kau menolak aku suapi. Ketika kau mau ke dokter, Aku menawari mengantarmu, kau juga menolak, saat itu aku sungguh terluka, kau sudah tak ingin apa-apa dariku, tak lagi butuh aku, bagaimana mungkin aku bisa berharap kita bisa berdamai. Aku terkejut ketika satu minggu setelah itu badanmu panas menggigil, dengan tergesa aku membawamu ke rumah sakit, ketika dokter mengatakan kau harus dirawat, aku kembali menyalahkan diri sendiri, karena aku tak menyadari jika kau menyimpan penyakitmu sendiri, ternyata setahun ini kau menderita kelainan jantung dan aku istrimu tak tahu, tak menyadarinya, tak pernah kau perlihatkan rasa sakitmu, tak pernah aku cermati perubahan fisikmu yang makin kurus. Saat itu aku pikir kau hanya lelah bekerja. Aku makin merasa bersalah. Hingga akhirnya kau tak sadar. Aku menunggui hari-hari terakhirmu, sempat aku sentuh tanganmu, aku belai pipimu, aku cium bibirmu, terasa kehangatan menjalar disekujur tubuhmu, aku menangis dan kubisikan isi hatiku ditelingamu, memohon kau untuk tidak pergi, memohon kau untuk memberiku kesempatan, memberi kita kesempatan, memulai lagi hidup baru, memulai lagi cinta kita, Aku memohon padamu..pada Tuhan untuk memberi waktu bagi kita untuk memperbaiki segalanya. Tapi ternyata semua terlambat, malam itu tanpa mengucapkan sepatah kata kau pergi, kau pergi untuk selamanya

Azan magrib menyadarkan lamunanku, Aku beranjak ke kamar, aku membongkar lemari pribadimu, kutemukan kotak, baru kali ini aku membuka lemari ini, Isi kotak itu surat-surat berharga, sertifikat rumah, BPKB mobil, tabungan dan deposito. Mataku tertuju pada sebuah amplop putih bertuliskan namaku. Surat Andrian, aku membukanya……

Istriku tercinta…..,
Aku yakin saat kau membuka surat ini, aku sudah pergi. Maafkan aku atas semua kesalahanku dan percayalah…, aku juga memaafkanmu. Setelah semua peristiwa yang kita alami, aku tetap mencintaimu dan aku yakin pasti kau pun tetap mencintaiku. Sungguh, aku ingin di saat kepergianku, kita kembali merasakan manisnya cinta kita, tapi aku berpikir itu akan membuatmu lebih terluka. Jadi biarlah, begini. Aku pergi dan semoga kau bisa melanjutkan hidupmu, membesarkan kedua anak kita. aku mencintaimu, selalu.

Aku terduduk kelu, kuremas surat itu, kudekap. Seandainya waktu bisa kembali, aku ingin kembali ke masa lalu bersamamu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar dan terima kasih ya sudah meninggalkan komennya Salam hangat.
deka