Selasa, 15 April 2014

Cerpen deka : Chemistry

Chemistry
Deka  Amalia

When I fall in love it will be forever,  Or I'll never fall in love 
In a restless world like this is, Love is ended before it's begun 
And too many moonlight kisses,  Seem to cool in the warmth of the sun 

Lagu Nat King Cole selalu mengiringi perjalanannya sepulang kantor. Berada di dalam mobil sendirian, di tengah belantara kota yang terjebak kemacetan. Memandang deretan mobil di hadapannya, yang entah kapan akan bergerak, dikelilingi belantara gedung dengan lampu yang berkerlip, ditambah hujan yang mengguyur sejak sore, rasanya lengkap sudah. Tak bisa berharap jam berapa ia tiba di rumah. Namun, kini tak penting jam berapa ia tiba di rumah. Tak akan ada yang ditemuinya di sana. Rumah itu kosong. Si mpok yang bekerja paruh waktu merapikan rumah pasti sudah pulang, menyalakan lampu teras dan mengunci pintu. Perempuan itu sudah ia percaya untuk membawa kunci rumahnya. Jadi tak penting lagi ia berada di dalam mobil atau di rumah itu, ia tetap sendiri.

When I give my heart it will be completely , Or I'll never give my heart 
And the moment I can feel that you feel that way too , Is when I fall in love with you
Lagu itu seperti siraman sejuk yang menghilangkan kepenatan. Berada seharian di lantai gedung tinggi dengan begitu banyak pekerjaan, kadang membuat hatinya sesak. Sesungguhnya ia sangat menyukai pekerjaannya. Dulu, ia begitu menikmati hari-harinya berada di sana. Pekerjaan bagai sesuatu yang menantang yang membuatnya bersemangat. Ia merasa hidup. Karena itu, tak heran jika ia sukses. Dalam waktu singkat, ia berhasil meraih posisi sebagai kepala cabang di sebuah Bank ternama. Profilnya pun pernah masuk liputan majalah ekonomi sebagai bankir wanita yang punya masa depan cerah. Semua itu seperti sesuai dengan cita-cita dulu saat kuliah di Fakultas Ekonomi, ia ingin seperti Ayahnya. Dulu, Ayahnya seorang bankir terkenal dan diakui semua kalangan. Meski Ayah sudah tiada, tetapi ia berharap Ayah melihat kesuksesannya.

Walau  ia belum merasa sukses, masih banyak yang ingin dikejarnya dalam berkarir. Ia ingin meraih lebih tinggi lagi. Padahal menjaga cabang yang dipimpinnya kini untuk terus meningkatkan kinerja bukan hal yang mudah juga. Persaingan di era masa kini demikian ketat. Meraih margin keuntungan yang tipis saja sangat sulit apalagi harus meraih lebih tinggi lagi. Ia dituntut untuk mampu menemukan terobosan baru, program baru, penawaran segar pada masyarakat. Menjaga mereka yang menjadi nasabahnya tetap setia, tidak pindah ke bank lain. Dan berusaha memperoleh lebih banyak lagi nasabah agar bisa terus berkembang. Semua itu bukan hal mudah. Selama ini ia kerja keras untuk bisa melakukan semua itu.


Orang tuanya sesungguhnya teladan baginya. Secara ekonomi mereka sukses dan sukses juga membangun keluarga. Ia menyaksikan kemesraan mereka hingga Ayah tiada. Dan, Mama seperti sulit memperoleh pengganti, ia memilih sendiri menghabiskan sisa usianya. Cinta abadi, bisiknya. Namun mengapa begitu sulit kini, ia memperoleh kebahagiaan seperti mereka. Rumah tangga yang baru saja berumur dua tahun, sudah tidak jelas kemana arahnya. Hatinya kosong dan hampa, ia merasa sepi.

When I fall in love it will be forever,  Or I'll never fall in love 
Ia mengenal Andra cukup lama, mereka berteman saat kuliah. Hubungan mereka baru mulai bersemi justru saat selesai kuliah. Secara tak sengaja mereka bertemu dalam sebuah training yang diadakan kantor tempat mereka masing-masing bekerja. Sejak pertemuan itu, mereka jadi akrab. Andra menyatakan cinta dan ia menerima. Saat Andra melamar. Ia sesungguhnya sempat ragu, betulkah Andra pilihan hatinya. Namun, desakan keluarga untuk menikah sangat kuat. Usianya sudah 29 tahun. Mama sudah punya anak 2 waktu seumur kamu, begitu selalu Mama mengingatkan. Lalu ia pikir, sudahlah mungkin jodoh, ada yang melamar. Lalu mereka menikah.

Awalnya semua nampak manis dan menyenangkan. Andra sangat baik. Perhatian dan romantis. Awalnya ia sempat geli, setiap kali bangun, Andra selalu menyapa, “I love you.” Ia cekikikan. “Kamu malah ketawa.” protes Andra. “Aneh, kenapa setiap pagi siih. Sudah tahu kamu cinta aku, kenapa mesti diulang setiap pagi.” gerutunya geli. “Supaya kamu ingat kalau kamu punya aku. Harusnya kamu jawab sama dong, I love  you, too.”  protesnya lagi. Ia kembali cekikikan,”Seperti di film-film saja. Kamu korban film, ah.”  Tetapi Andra tetap melakukan itu, dan ia tak pernah membalas ulang. Meski tidak lagi protes, saat Andra menyapanya dengan kata-kata itu, namun ia hanya membalas dengan senyum kecil. Sapaan itu baru berkahir saaat mereka mulai sering bertengkar.

When I fall in love it will be forever,  Or I'll never fall in love
Hujan belum berhenti. Ia masih berada di tengah kemacetan. Malam semakin pekat. Lampu jalan dan gedung terlihat makin menyala. Ia sunyi di sini. Pikirannya melayang entah kemana-mana. Hanya ada suara hatinya ditemani lagu itu yang ia putar berulang kali. Ia tak ingin mendengar lagu lain. Hanya lagu itu. Seperti mempertanyakan pada dirinya sendiri. Benarkah ia jatuh cinta pada Andra, mencintainya atau tidak. Benarkah rasa cinta itu ada. Saat ini, ia tak mampu menjawabnya. Cinta itu sederhana, kata Mama. Cinta itu hanya memberi tanpa pamrih. Begitu nasehat Mama, saat tahu jika ia dan Andra memilih berpisah untuk sementara. Kamu yang membuatnya menjadi rumit, tambah Mama lagi. Saat itu, ia hanya mampu meneteskan air mata. Kamu tetap seorang istri, meski kamu wanita karir. Kata Mama lagi. Pikirkan, jangan bercerai, jangan sampai kamu sesali. Kecuali, jika kamu yakin, ini tidak akan membuat kamu menyesal. Ia hanya memandang wajah Mama dengan derai air mata. Wanita mulia, yang ia cintai ini telah ia buat susah hati. Menyaksikan pernikahan anak gadisnya yang diambang kehancuran.

When I fall in love it will be forever,  Or I'll never fall in love
Ini lagu Ayah dan  Mama. Begitu kata Ayah saat ia bertanya, mengapa Ayah selalu memutar lagu itu. Ayah dan Mama kerap duduk di ruang baca, mereka bercakap ringan dan lagu ini mereka putar berulang. Nuansa seperti itu sangat ia sukai. Ia suka memandang mereka berdua dalam kemesraan sederhana. Terasa lebih dalam. Namun, mengapa sulit bagi ia dan Andra untuk terus bisa seperti itu. Selalu mesra dalam segala situasi apapun, mampu menyelesaikan semua masalah dengan kepala dingin, mampu menyatukan hati. Mengapa begitu sulit bagi mereka untuk bisa saling mengerti.

When I fall in love it will be forever,  Or I'll never fall in love
In a restless world like this is, Love is ended before it's begun 
Ia mendesah. Memandang kaca spion dan deretan panjang di belakang mobilnya. Nampak sepasang pria dan wanita, sepertinya mereka suami istri. Dari pantulan cahaya, ia menangkap derai tawa dan canda. Mereka menikmati suasana dalam kemacetan seperti ini. Mungkin justru berharap macet ini tak cepat terurai. Kapan terakhir kali, ia menikmati suasana seperti itu. Saat mereka bisa saling memandang mesra, bertukar cerita seharian yang mereka lakoni di kantor. Menertawakan teman sekerja yang kadang konyol atau hanya sekedar bercerita menu makan siang yang mereka santap. Ia sudah lupa kapan terakhir kali bisa menikmati suasana semanis itu. Beberapa bulan yang lalu? Rasanya sudah lama sekali suasana itu berganti dengan keheningan, saling mendiamkan atau perdebatan yang melelahkan jiwa.

Dari kaca spion, ia terhenyak. Melihat pantulan wajahnya di sana. Wajah yang pucat, mata yang sembab dan rambut yang berantakan. Kapan terakhir kali ia merawat wajahnya, ia lupa. Sudah lama ia tidak datang ke salon, atau bahkan ia lupa hanya sekedar menggunakan cream malam. Ia mengusap pipinya yang kasar. Kelembutan kulitnya yang dulu terawat tak lagi nampak. Mengapa bisa seperti ini? Dulu, ia paling peduli akan penampilan dirinya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ia selalu berusaha tampil sempurna. Baginya penampilan menentukan image diri yang harus ia jaga. Pantas, semua yang ia temui beberapa waktu terakhir mengatakan, ada apa dengan kamu? ia hanya memandang heran dan menjawab memang ada apa? kamu berubah. Begitu kata mereka dan ia tidak peduli akan semua itu. Apakah ini pengaruh perpisahannya dengan Andra? Hingga semua menjadi kacau, hatinya, dirinya dan semua yang dijalaninya sehari-hari. Seperti kehilangan semangat yang dulu menyala itu.
Via, begitu ia disapa. Perempuan berusia menjelang 33 tahun itu, sesungguhnya sangat menarik. Ia cantik, cerdas dan pribadinya menyenangkan. Sejak dulu, ia sulit jatuh hati pada pria. Hampir tidak pernah pacaran apalagi menjalin hubungan yang serius. Semua pria selalu terlihat kurang dimatanya. Hingga Andra hadir yang mungkin sudah jodoh yang disiapkan Tuhan untuknya. Waktu yang singkat saat memutuskan menikah, mungkin membuat mereka belum sempat saling mengenal. Andra sebetulnya sosok pria idaman. Secara fisik, ia tampan. Ia rasa banyak wanita yang menyukai sosok pria macam Andra. Ia sempat tak percaya saat Andra serius melamarnya. Kamu betulan apa bercanda. Begitu jawabnya saat Andra mengajaknya menikah.Sorot mata Andra saat menyatakan cinta membuatnya yakin akan perasaan Andra padanya.

When I give my heart it will be completely , Or I'll never give my heart 
And the moment I can feel that you feel that way too , Is when I fall in love with you
Waktu berjalan, semua yang awalnya manis mulai berubah. Persisnya kapan, ia lupa. Tiba-tiba saja rumah menjadi demikian hening. Jika ada keramaian, itu karena perdebatan yang berakhir dengan pertengkaran. Ia tidak tahu siapa yang memulai hingga suasana menjadi memanas. Kata-kata yang mereka lontarkan selalu saling menyakiti. Memulai pagi dalam diam, menikmati sarapan tanpa saling menatap, menuju tempat kerja tanpa kecup hangat, cukup lambaian tangan yang terasa hampa. Tak lagi saling menyapa di sela kerja meski sekedar bbm. Pulang larut malam dan tidur saling membelakangi. Ia bahkan lupa kapan terakhir kali menikmati kehangatan malam bersama Andra.  

Salah siapa jika karirnya naik lebih cepat dibanding Andra. Saat ia menduduki posisi kepala cabang, Andra masih berkutat sebagai staff pemasaran. Salah siapa jika kemudian penghasilannya lebih besar. Salah siapa jika kemudian ia ingin menikmati hasil jerih payahnya untuk sesuatu yang disukainya. Andra selalu protes jika ia membeli barang yang mahal sementara ia merasa tak ada salahnya sesekali memanjakan diri. Banyak hal kemudian yang tidak lagi bisa mereka sepakati. Puncaknya saat Andra memintanya tidak terlalu sibuk, menanyakan kapan ia bersedia hamil. Ia memang merasa belum siap akan kehadiran seorang bayi ditengah kesibukan kerjanya. Andra menuduhnya terlalu ambisius sementara ia menganggap Andra tidak realistis. Ia pun tidak mengerti mengapa belum tumbuh keinginan untuk memiliki bayi.

When I fall in love it will be forever,  Or I'll never fall in love
Suasana yang semakin tidak sehat membuat kemudian mereka memutuskan untuk berpisah sementara. Agar kita bisa berpikir mau kemana, begitu kata Andra saat mengusulkan perpisahan ini. Awalnya ia terkejut. Tak menyangka Andra punya usulan seperti itu. Lebih tidak menyangka saat kemudian Andra merapikan pakaiannya, membawa koper dan melangkah ke luar rumah. Ia terpana menyaksikan itu. Kamu mau tinggal dimana, tanyanya. Aku sudah menyewa apartemen dekat kantor, sementara aku tinggal di sana, jawabnya dingin. Ia terpaksa setuju dengan usul Andra. Saat ia melihat bayangan mobil Andra menghilang di tikungan jalan. Ia menangis, menangis dan menangis. Tangisan yang tidak ia mengerti dan yang ia rasakan kemudian hanya kehampaan. Apakah itu tandanya ia merasa kehilangan?

Hari-hari yang ia jalani setelah kepergian Andra terasa membosankan. Ia kehilangan semangat. Mira, sahabatnya berkata, itu tandanya kamu kangen. Kangen? Masa? Ia tak percaya. “Kamu cinta sama dia, Via” jelas Mira. “Kalau kamu nggak cinta kamu nggak akan berantakan seperti ini.” tambahnya lagi. Mungkin Mira benar, tampa ia sadari rasa cinta itu telah tumbuh. Lalu mengapa ia begitu keras hati mengakui itu,  jika ia membutuhkan Andra dalam hidupnya. Ia kuatir Andra tak lagi menginginkannya. Ia kuatir Andra justru memilih bercerai. Mengingat itu, matanya membasah. Pasti ia tak kuasa mencegah jika itu terjadi, ia terlalu tinggi hati untuk memohon, meski itu pada Andra.

When I fall in love it will be forever,  Or I'll never fall in love
Jakarta memang aneh. Kadang penyebab kemacetan tidak jelas awalnya dan akhirnya. Tiba-tiba saja, meski tersendat mobilnya melaju perlahan. Pandangannya masih kabur oleh hujan yang masih turun meski tidak sederas tadi. Sekilas ia memandang Blackberry di sampingnya. Lampunya menyala sejak tadi. Ia enggan membukanya. Saat melihat tanggal yang terpantul di sana, ia terhenyak. Besok tanggal yang mereka sepakati untuk bertemu dan membicarakan kelanjutan pernikahan mereka. Matanya terpejam, kuatir akan terjadi hal terburuk dalam hidupnya. Bagaimana pun ia tidak ingin ada sejarah perceraian. Hatinya pedih.

Sempat Mama bertanya, apa sebetulnya yang kamu cari. Jika kamu mau bahagia jangan menyiksa diri. Lakukan semua yang kamu inginkan sesuai isi hati kamu. Itu dikatakan Mama saat ia bertanya apa yang harus dilakukannya sekarang dalam situasi seperti ini. Mungkin Mama betul, sudah saatnya ia membuka diri, menerima Andra sepenuhnya sebagai suami. Mungkin sudah saatnya mereka mendamaikan hati. Berusaha saling membahagiakan dengan memenuhi keinginan masing-masing pasangan. Saat bertengkar dulu, sempat Andra bertanya, mau kamu apa sebetulnya? Jika mau membangun keluarga bersama aku mengapa kamu hanya memikirkan diri sendiri. Ia sempat tidak percaya, jika di mata Andra ia seperti itu.

When I fall in love it will be forever,  Or I'll never fall in love
Kini kerinduan itu muncul. Rindu canda tawa bersama Andra. Beberapa hari yang lalu bahkan ia sempat membaca berbagai artikel tentang kehamilan. Melihat gambar-gambar ibu hamil dan wajah lucu bayi. Entah menggapa hatinya tergetar. Sejenak ia mengerti kerinduan yang dimiliki Andra selama ini. Memandang wajah mungil bagai pantulan wajah mereka. Mengapa setelah perpisahan ini, justru  tumbuh keinginan itu. Sempat ia berkhayal akan memiliki momen itu bersama Andra. Dalam situasi seperti ini apakah mungkin? Tak berani ia memastikan diri.

Andra tak pernah mencoba menghubunginya selama perpisahan ini. Tak pernah sekalipun mau tahu keadaan dirinya. Ingin ia memulai bertanya, apa kabar, dimana, sedang apa tetapi itu tak pernah ia lakukan, apa yang menghalanginya, ia juga tidak mengerti. Sempat timbul rasa kuatir mungkinkah Andra menemukan pengganti dirinya secepat ini. Seseorang yang lebih baik dari dirinya. Seorang istri yang seperti diidamkan Andra. Pernah Andra berkata, ia rindu istri yang memperhatikannya. Apakah selama ini ia sangat kurang menaruh perhatian pada suaminya.

Tak sadar, ia tiba di halaman rumahnya. Rumah yang ia beli bersama Andra. Rumah bercat putih dengan teralis kayu coklat tua. Rumah itu hanya rumah mungil saja. Namun ia desain sesuai impiannya akan rumah idaman. Ia mematikan mesin mobilnya. Sudah tahu  apa yang akan dilakukannya setelah ini. Masuk rumah lalu mengunci pintu, mengambil gelas, mengisinya dengan air dingin, meminumnya perlahan. Mandi dengan cepat lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur, sendirian. Namun, saat itu tak ingin ia bersegera ke luar dari mobilnya. Wajahnya ia telungkupkan ke setir mobilnya. Tangannya memencet tombol blackberry. Nama Andra muncul di list bbmnya. Hatinya mulai mencair. Mungkinkah Andra pun mencair. Kekerasan hatinya mulai luruh.
Andra : Kamu dimana?
Nada tanya itu seperti beda dengan yang biasa ia terima beberapa waktu terakhir ini. Hatinya terasa hangat, seperti ada aliran yang Andra sampaikan padanya
Via : Di depan rumah, baru sampai.
Andra : Macet?
Via : Iya...
Andra : Cape ya?
Via : Iya, kamu dimana?
Andra : Di teras apartemen. Duduk sendirian di lantai 16. Hujan, dingin...
Ia mengela nafasnya. Sejenak bimbang apa lagi yang harus dikatakannya. Sapaan Andra betul-betul tak terduga
Via : Disana hujan juga
Andra : Iya. Hujan merata sepertinya di Jakarta
Via : iya
Andra : Kamu baik-baik saja?
Ingin ia berkata, tidak. Aku tidak baik-baik saja tampa kamu
Via: Baik, kamu
Andra : Berantakan...
Via : Maksudnya?
Andra : Hidupku kacau..
Ia memejamkan mata. Mungkinkah perasaan Andra sama seperti dirinya.
Via : Besok kita ketemu?
Andra : Ya....
Matanya terpejam, apa yang terjadi besok.
Andra : Kalau tidak menunggu besok bagaimana?
Via: Maksudnya?
Andra : Aku kangen....
Bulir air mata menetes tak terasa di pipinya. Ia ingin berteriak. Jika ia juga rindu...
Via : Sama...
Andra: Sungguh?
Via ; Sungguh...
Andra : Aku pulang ya sekarang, aku ingin memeluk kamu
Via : Aku juga, aku tunggu...
Ia merasa lega, hatinya terasa hangat. Matanya masih berkaca namun dipenuhi buncah yang tak bisa ia jelaskan. Ia ingin segera melompat ke kamar, mandi dan menunggu Andra pulang. Apapun itu, akan ia sepakati asal ia bisa bersama Andra. Saatnya ia mengakui hal terpenting dalam hidupnya. Andra dan calon bayi mereka kelak. Maafkan aku, Andra. Aku terlambat memahami ini semua. Aku akan belajar masak dan tidak keberatan menyiapkan sarapan setiap pagi. Aku tahu, kamu juga tidak akan keberatan sesekali menemani aku belanja. Bisiknya...

And the moment I can feel that you feel that way too 
Is when I fall in love with you....


Note : Masuk nominasi sebuah Lomba Menulis cerpen. Belum menang. Enjoy friends...

2 komentar:

Silahkan tinggalkan komentar dan terima kasih ya sudah meninggalkan komennya Salam hangat.
deka