Selasa, 15 April 2014

Bagaimana sebuah karya imajinasi dinilai?

Bagaimana sebuah karya imajinasi dinilai?

Tulisan sederhana ini berdasarkan pengalaman belasan tahun mengajar di Fakultas Sastra dan membimbing skripsi mahasiswa S1. seringkali pertanyaan yang timbul bagaimana sebuah karya imajinasi seperti novel, puisi maupun drama dinilai? wajar saja pertanyaan ini timbul karena seringkali timbul pemikiran jika sebuah karya imajinasi sungguh sangat kental aura subjektifnya dibanding objektifnya. Sedikit yang akan saya uraikan disini, semoga bermanfaat bagi kita saat membuat sebuah tulisan  hingga mampu mengira-ngira bagaimana respon pembaca terhadap kualitas tulisan kita. Apakah ini penting? Menurut saya bisa penting, bisa juga tidak penting, namun setidaknya kita bisa punya ukuran mau seperti apa kualitas kita dalam menulis.

Dalam dunia tulisan kita mengenal ada tiga kategori  yang terlibat didalamnya yaitu penulis, pembaca dan pengamat atau kritikus. Penulis adalah yang menghasilkan sebuah tulisan, pembaca terbatas pada menikmati dan  pengamat memberi penilaian  terhadap karya yang dihasilkan. Ketiganya saling berinteraksi dan memberi  reaksi. Penulis berharap karyanya mendapat respon  positif dari pembaca dan dihargai oleh pengamat.

Meski karya imajinasi seperti novel, puisi dan drama merupakan karya yang seringkali diukur secara subjektif yaitu seseorang bebas mengatakan suka atau tidak suka, atau  hanya menyampaikan perasaaannya saat menikmati sebuah tulisan namun ada beberapa perangkat ukuran yang bisa dijadikan patokan untuk dapat dinilai secara objektif.

Unsur yang secara umum ada dalam sebuah karya imajinasi ada dua yaitu apa yang disebut unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah apa yang ada didalam karya tersebut, misanya kalau novel itu ada tokoh, penokohon/karakterisasi, latar, tema, dan alur. Kalau puisi ada rima, pilihan kata, grafologi, symbol, dan gaya bahasa sementara drama hampir sama dengan novel namun drama mengandung unsur dramatis seperti pengolahan dialog.

Sementara unsur ekstrinsik adalah unsur diluar karya tersebut yang kita hubungkan dengan kehidupan seperti gaya hidup, bahasa yang digunakan tokoh atau kita menulis mengenai sesuatu yang berkaitan dengan politik, ekonomi, hukum, psikologi dan semua unsur yang ada di dunia ini atau semua yang ada kaitannya dengan kehidupan bisa kita gambarkan. Bisa dibayangkan sesungguhnya karya imajinasi itu sangat kaya karena bercerita mengenai hidup dan kehidupan itu sendiri.

Lalu bagaimana penilaiannya?

Jika pembaca tentu menilai sebatas pengetahuan dan pengalamannya dalam menikmati, kadang juga sesuatu yang menyentuh sisi hidupnya. Contoh, saat ia membaca kisah seorang ibu yang mendambakan anak maka ia bisa sangat tersentuh dan menilai tulisan ini menggugah, karena ternyata saat itu ia sedang mendambakan kehadiran seorang anak. Maka dapat dikatakan pembaca menilai lebih terbatas pada pengetahuan dan pengalaman hidupnya.

Sementara pengamat menggunakan berbagai teori untuk memberikan penilaian. Ada banyak teori, tetapi intinya sebuah tulisan dinilai baik jika memenuhi unsur-unsur tadi diatas. Mampu mengolah unsur intrinsik dengan manis, ide yang biasa tapi ditulis dengan gaya yang beda, dan mampu mengetengahkan sebuah tulisan yang bermanfaat dalam salah satu sisi hidup saja. Contohnya, mengapa LASKAR PELANGI dikatakan bagus? Karena karya ini mampu mengolah semua unsur intrinsic dengan baik dan mampu memberi sisi yang berbeda dalam hidup dari segi budaya dan lain sebagainya, misalnya seperti itu.

Nah, bagaimana kita mampu mengolah semua itu dengan baik tentu membutuhkan proses. Maka nikmati saja prosesnya dengan tiada henti belajar. Karena menulis intinya adalah belajar tentang hidup dan memberikan sesuatu untuk hidup itu sendiri.
Semoga bermanfaat ya, ringkas dan padat, bukan mau ngasi kuliah lho he he he

deka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar dan terima kasih ya sudah meninggalkan komennya Salam hangat.
deka