Sabtu, 26 April 2014

(Manfaat Menulis) Menulislah karena itu Membuatmu Bahagia.



Watch "Writerpreneur Club" on YouTube - https://youtu.be/z-Ym1bjcEec


Menulis karena itu membuatmu bahagia.


“All good books are alike in that they are truer than if they had really happened and after you are finished reading one you will feel that all that happened to you and afterwards it all belongs to you: the good and the bad, the ecstasy, the remorse and sorrow, the people and the places and how the weather was. If you can get so that you can give that to people, then you are a writer.” 
 
Ernest Hemingway

Pada dasarnya setiap orang bisa menulis. Mungkin karena saat kecil dulu yang pertama kali diajarkan pada kita adalah membaca dan menulis.  Semua pasti ingat kan jika itu  pelajaran awal yang kita terima, hanya dalam perjalanan semua seperti tergerus. Membaca hanya sempat hingga menulis jadi sulit.  Padahal dua kegiatan itu sungguh berdampak luar biasa bagi perkembangan kecerdasan dan kepribadian  manusia sejak balita hingga tua.  Hal tersebut yang kurang disadari oleh masyarakat kita hingga dua kegiatan itu jadi membosankan. Membeli buku jika perlu, membaca jika mau ulangan atau ujian dan menulis sekedarnya. Menyedihkan sesungguhnya, apalagi saat hasil survey membuktikan jika minat baca masyarakat kita termasuk deretan terendah. Perkembangan buku terbit, toko buku, perpustakaan, dan penjualan buku tidak sebanding dengan jumlah penduduk Indonesia yang demikian besar. Kita jauh tertinggal dari negara lain.

Coba lihatlah, paradigma yang berkembang membuktikan betapa sayang mengeluarkan uang untuk membeli buku. Tetapi dengan mudah membeli mainan untuk anak, bahkan harus punya jika mainan itu lagi trend. Rasanya ketinggalan jaman jika tidak membelikan mainan yang trendi. Coba lihatlah tidak pernah berpikir untuk mengeluarkan dana membeli barang-barang konsumtif yang kadang sekali pakai dan coba pula berapa jumlah keluarga yang mengalokasikan dana bulanan untuk membeli buku. Dalam list pasti hanya kebutuhan rumah tangga, makanan, jalan-jalan dan lain sebagainya. Jika ada dana tambahan baru beli buku. Miris ya. Padahal seharusnya membeli buku sama pentingnya dengan membeli vitamin atau makanan, vitamin atau makanan adalah asupan untuk tubuh sementara buku adalah asupan untuk jiwa dan otak.

Kegiatan membaca dan menulis adalah dua kegiatan yang tidak bisa dipisahkan. Membaca membuat jiwa kita hidup, otak kita bekerja lebih efektif, merangsang sel-sel otak lebih kreatif, memberikan berbagai wawasan baru yang membuat seseorang mampu berpikir lebih cerdas. Ibaratnya tanpa membaca sesungguhnya otak kita kosong, banyak ruang kosong di sana yang tidak terisi akhirnya perlahan sel-sel akan mengeras dan sebagian mati. Membuat kita malas berpikir, cepat tua dan pikun. Sementara seorang anak yang membaca buku apa saja, satu buku satu hari saja, akan memperkaya jiwanya, merangsang sel-sel otak  tumbuh hingga membuatnya semakin cerdas. Menumbuhkan berbagai wawasan yang membuatnya berpikir hingga tumbuh beragam ide yang inovatif. Luar biasa kan? Jadi seharusnya belikan anak buku dan mainan hanya tambahan bukan sebaliknya. Dahulukan membeli buku dibanding membeli beragam barang konsumtif lainnya.

Kegiatan menulis tak kalah pentingnya. Dalam masyarakat berkembang paradigma jika menulis itu bakat, jadi kalau nggak punya bakat nggak bisa nulis. Seorang penulis itu titisan dewa yang jatuh ke manusia pilihan. Paradigma ini sungguh keliru. Bakat itu adalah sesuatu yang bisa ditimbulkan bukan semata hadir begitu saja. Ia bisa tumbuh, salah satunya karena kebiasaan, karena sering dilakukan dan akhirnya menyukai kegiatan itu. Intinya menulis adalah kegiatan yang bisa dipelajari layaknya keterampilan yang lainnya. Semakin sering berlatih menulis maka semakin berkualitas hasil tulisannya. Ide dan imaginasi bisa terus tumbuh seiring dengan proses menulis yang ditekuni.

Apakah menulis harus jadi penulis?

Seorang anak yang terbiasa menulis akan semakin cerdas karena ia terus berpikir. Ia akan lebih kreatif karena ia terus berimaginasi. Karakter positif akan tumbuh dalam dirinya karena dengan proses menulis tumbuh rasa. Ia lebih bisa merasakan berbagai nilai-nilai kehidupan yang akan berguna dalam dirinya. Jadi terlepas apapun profesinya nanti kebiasaan menulis akan membuatnya memiliki nilai lebih dalam hidup dan pekerjaannya.

Tak ada kata terlambat dalam menulis, setiap orang bisa memulai menulis saat ini juga. Mulailah menulis apa yang ingin kita bagi, apa yang kita tahu dan apa yang kita pikirkan. Perkaya dengan bacaan dan teruslah menulis. Setiap proses yang kita jalani akan memoles tulisan kita untuk bertambah baik. Dan, apa yang kita tulis memperkaya jiwa kita. Menimbulkan jejak dalam otak kita, mengisi sel-sel otak dalam diri kita untuk tetap aktif. Bahkan melatih kesabaran dan kehalusan pribadi kita.

Bagaimana menulis mempengaruhi diri kita?

Kegiatan menulis seringkali membuat kita memikirkan banyak hal untuk mencari ide, berimaginasi dengan beragam peristiwa dan menuangkannya dalam rangkaian kata. Kegiatan itu ternyata membuat otak kita bekerja dengan baik dan menghilangkan beragam penyakit sakit kepala. Menulis seperti sebuah meditasi yang menenangkan jiwa kita. Memberikan kedamaian. Karena kegiatan ini seperti katarsis yang membuang segala hal negatif yang ditimbulkan oleh beragam peristiwa yang mungkin tidak menyenangkan yang tertinggal dalam alam bawah sadar kita. Menulis membuat kita mampu berbagi berbagai hal positif, mengajak setiap orang yang membaca tulisan kita untuk bisa merasakan hal yang sama, seperti self-healing  bagi jiwa manusia. Dan, sebagai bonusnya kita akan awet muda dan tidak akan pikun.

Luar biasa sekali kan? Dua kegiatan membaca dan menulis yang kita kenal sejak bangku TK. Mari tanamkan pada anak-anak kita, mari kita sebarkan pada keluarga dan lingkungan sekitar, dan mari mulai sekarang juga.

Membaca dan menulislah karena itu membuatmu lebih bahagia.


Note ; sumber berbagai hasil penelitian ilmiah yang saya baca
Tambahan info : menurut survey masih dibutuhkan jutaan buku untuk membuat Indonesia cerdas






Kamis, 17 April 2014

Dunia Baru Bernama Komunitas


Pernah baca Brave New World karya Aldous Huxley?  Beragam presepsi mengenai buku ini sudah ditulis, berkaitan dengan politik, perlawanan, kritik terhadap penguasa dan lainnya.  Namun bagi saya pribadi memiliki makna membangun dunia baru, sebuah dunia yang bisa jadi memberikan kehidupan baru.  Tidak hanya bagi banyak orang tetapi bagi masing-masing pribadi.  Seringkali kita membutuhkan sesuatu yang baru, yang mampu memberikan kita semangat baru atau bisa jadi malahan manfaat yang tidak pernah kita duga sebelumnya.

Di era digital dan teknologi yang terus berkembang ini, orang mengenal kehidupan sosial media. Dunia bagai tidak lagi bersekat. Setiap orang mampu menyerap informasi dengan cepat dan bisa terhubung kemana saja dan dengan siapa saja. Orang pun menemukan, bertemu dan terhubung begitu saja. Percaya atau tidak? saat ini saya bekerja, bergaul dan berinteraksi lebih banyak dengan teman-teman yang saya kenal di dunia maya. Mungkin anda juga.

Semua sudah tahu itu. Lalu apa pentingnya tulisan saya ini? tulisan ini bermula dari reaksi yang saya terima saat bertemu teman lama. Entah itu sesama alumni, tetangga, bekas tetangga, teman sejawat saya dulu. Umumnya mereka heran, saya memutuskan pensiun dini dan membangun sebuah komunitas di dunia maya. Walau itu hanya salah satu alasan yang membuat saya bertekad bulat, yang utama tentu adalah soal kenyamanan lebih banyak berada di rumah ketimbang setiap hari harus keluar rumah. Ini tentu hanya soal pilihan yang saya ambil. Namun, reaksi itu karena tentu mereka semua menganggap apa sih komunitas itu? penting sekali ya? atau apa ada masa depan di sana? itu kan sesuatu yang bisa dilakukan dimana saja sambil lalu, tidak perlu serius. Semua pendapat itu bisa jadi benar.

Namun, lihatlah kini. kenyataan kehidupan yang ada di depan mata kita. Apa yang mudah saat ini? semua sulit. Mau sekolah sulit, sudah lulus cari kerja sulit, membangun karir sulit, memasarkan prodak sulit, persaingan ketat, harga mahal, semua naik, dunia politik makin kacau, mau ke pasar saja sudah tarik nafas panjang-panjang dulu, menyikapi acara TV pun juga sulit, bahkan mau mengantri tiket juga sulit, semua sulit.  Bisa jadi kemudian kita bilang, semua sulit tetapi solusi selalu ada. Tentu itu betul dan itu butuh perjuangan.

Sebagai generasi masa lalu, saya tentu sempat menikmati kemudahan saat Jakarta belum sesesak sekarang. Bisa sepeda an dengan tenang, bisa jalan kaki dan duduk dengan udara segar di sekitar Melawai, bisa pergi kemana saja keliling Jakarta naik bis tingkat dengan riang gembira tanpa macet, bahkan saya ingat saat kelas 6 SD, ibu saya santai saja membiarkan saya naik bis dari ciputat ke rumah tante saya di Setia Budi naik bis berdua dengan adik saya yang kelas 3 SD. Sekarang? saya tak akan melepas anak saya yang SMP  menempuh perjalanan  jauh di Jakarta tanpa orang tua.

Begitulah, dunia berubah. Pasti. Dan, akan terus berubah. Saat ini membangun sebuah dunia, cukup anda lakukan dengan laptop di depan mata, pakai daster, dengan secangkir kopi sambil sesekali ke dapur. Di selingi mengepel, cuci piring dan lainnya. Itulah dunia baru yang saya bangun bernama komunitas. Saya membangun dunia di sana, merancang program, berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai belahan dunia, berbagi pikiran, dan bekerja. Well, itu bukan saya sendiri lho. Banyak orang melakukan itu sekarang. Coba tengok, ada berapa komunitas yang tumbuh, berkembang dan berjaya di dunia maya? banyak sekali.

Beragam komunitas tumbuh, ada berdasarkan hobi, minat, persamaan pikiran, persamaan profesi, wirausaha, dan lain sebagainya. pendek kata, semua ada. Mau ikutan komunitas apa? anda tinggal cari, klik dan anda bisa bergabung. Pemilik/pendiri komunitas sudah menyiapkan semua untuk ada, aturan, peraturan, program yang bermanfaat, kesempatan berkembang bahkan kesempatan mendapatkan keuntungan  materi alias pemasukan. Anda bisa berkembang dan barkarir di sana.
Keuntungan lainnya, apa yang ada butuhkan, yang ada ingin tahu, bisa dengan mudah anda dapatkan dalam hitungan menit. Anda tinggal curhat lalu semua memberi masukan yang bisa memberikan ragam pilihan solusi. Lalu tumbuhlah solider, saling empati, rasa memiliki, persaudaraan dan nilai positif lainnya. Banyak kemudahan lainnya, membuat program dengan mudah bisa anda informasikan. Mau memasarkan prodak juga lebih mudah karena sesuai dengan yang dibutuhkan anggota. Dan, masih banyak keuntungan lainnya. Karena itu, banyak sekali orang kini bergabung dengan beberapa komunitas.
Namun, hati-hati ternyata dunia memang hitam putih. Selalu ada yang baik dan tidak baik, selalu ada negatif dan positif.  Meski begitu tetaplah selektif memilih komunitas karena tak dapat dipungkiri komunitas yang negatif pun bermunculan. Selalu ada lawan tanding dimana pun kita berada. Jadi pastikan anda mengikuti komunitas yang tepat dan bisa memberikan manfaat postif bagi hidup anda bahkan kalau bisa memberikan masa depan yang lebih baik. Bisa lebih baik dalam segala hal, kehidupan pribadi dan karir, bahkan juga merasakan kepuasan dan kebahagiaan.

Begitulah, teman. Pada akhirnya saya mengasuh dan mengembangkan dunia baru yang bernama komunitas di dunia maya. Hasilnya sungguh di luar dugaan saya. Banyak hal positif yang saya dapatkan. Yang paling penting saya memiliki keluarga baru, energi baru untuk terus berkembang dan menebarkan hal-hal positif bagi anggota. Dan, berusaha menularkannya ke masyarakat yang lebih luas.
Maka, bisa dikatakan komunitas adalah dunia baru. Dunia yang akan terus berkembang dan berkembang lagi. Sebuah dunia yang nyata ada dan tidak bisa ditampik. Itu bisa dibuktikan banyaknya media yang memberikan tempat bagi komunitas untuk menebar virusnya. Jadi, jangan segan-segan untuk bergabung dengan komunitas dan pilihlah yang tepat. Yang sesuai dengan anda dan bisa menjadi rumah bagi anda. Menjadi tempat anda belajar, berbagi, bahkan berkarir.
Selamat datang dunia baru. My Brave New World.

Selasa, 15 April 2014

Cerpen deka : Chemistry

Chemistry
Deka  Amalia

When I fall in love it will be forever,  Or I'll never fall in love 
In a restless world like this is, Love is ended before it's begun 
And too many moonlight kisses,  Seem to cool in the warmth of the sun 

Lagu Nat King Cole selalu mengiringi perjalanannya sepulang kantor. Berada di dalam mobil sendirian, di tengah belantara kota yang terjebak kemacetan. Memandang deretan mobil di hadapannya, yang entah kapan akan bergerak, dikelilingi belantara gedung dengan lampu yang berkerlip, ditambah hujan yang mengguyur sejak sore, rasanya lengkap sudah. Tak bisa berharap jam berapa ia tiba di rumah. Namun, kini tak penting jam berapa ia tiba di rumah. Tak akan ada yang ditemuinya di sana. Rumah itu kosong. Si mpok yang bekerja paruh waktu merapikan rumah pasti sudah pulang, menyalakan lampu teras dan mengunci pintu. Perempuan itu sudah ia percaya untuk membawa kunci rumahnya. Jadi tak penting lagi ia berada di dalam mobil atau di rumah itu, ia tetap sendiri.

When I give my heart it will be completely , Or I'll never give my heart 
And the moment I can feel that you feel that way too , Is when I fall in love with you
Lagu itu seperti siraman sejuk yang menghilangkan kepenatan. Berada seharian di lantai gedung tinggi dengan begitu banyak pekerjaan, kadang membuat hatinya sesak. Sesungguhnya ia sangat menyukai pekerjaannya. Dulu, ia begitu menikmati hari-harinya berada di sana. Pekerjaan bagai sesuatu yang menantang yang membuatnya bersemangat. Ia merasa hidup. Karena itu, tak heran jika ia sukses. Dalam waktu singkat, ia berhasil meraih posisi sebagai kepala cabang di sebuah Bank ternama. Profilnya pun pernah masuk liputan majalah ekonomi sebagai bankir wanita yang punya masa depan cerah. Semua itu seperti sesuai dengan cita-cita dulu saat kuliah di Fakultas Ekonomi, ia ingin seperti Ayahnya. Dulu, Ayahnya seorang bankir terkenal dan diakui semua kalangan. Meski Ayah sudah tiada, tetapi ia berharap Ayah melihat kesuksesannya.

Walau  ia belum merasa sukses, masih banyak yang ingin dikejarnya dalam berkarir. Ia ingin meraih lebih tinggi lagi. Padahal menjaga cabang yang dipimpinnya kini untuk terus meningkatkan kinerja bukan hal yang mudah juga. Persaingan di era masa kini demikian ketat. Meraih margin keuntungan yang tipis saja sangat sulit apalagi harus meraih lebih tinggi lagi. Ia dituntut untuk mampu menemukan terobosan baru, program baru, penawaran segar pada masyarakat. Menjaga mereka yang menjadi nasabahnya tetap setia, tidak pindah ke bank lain. Dan berusaha memperoleh lebih banyak lagi nasabah agar bisa terus berkembang. Semua itu bukan hal mudah. Selama ini ia kerja keras untuk bisa melakukan semua itu.


Orang tuanya sesungguhnya teladan baginya. Secara ekonomi mereka sukses dan sukses juga membangun keluarga. Ia menyaksikan kemesraan mereka hingga Ayah tiada. Dan, Mama seperti sulit memperoleh pengganti, ia memilih sendiri menghabiskan sisa usianya. Cinta abadi, bisiknya. Namun mengapa begitu sulit kini, ia memperoleh kebahagiaan seperti mereka. Rumah tangga yang baru saja berumur dua tahun, sudah tidak jelas kemana arahnya. Hatinya kosong dan hampa, ia merasa sepi.

When I fall in love it will be forever,  Or I'll never fall in love 
Ia mengenal Andra cukup lama, mereka berteman saat kuliah. Hubungan mereka baru mulai bersemi justru saat selesai kuliah. Secara tak sengaja mereka bertemu dalam sebuah training yang diadakan kantor tempat mereka masing-masing bekerja. Sejak pertemuan itu, mereka jadi akrab. Andra menyatakan cinta dan ia menerima. Saat Andra melamar. Ia sesungguhnya sempat ragu, betulkah Andra pilihan hatinya. Namun, desakan keluarga untuk menikah sangat kuat. Usianya sudah 29 tahun. Mama sudah punya anak 2 waktu seumur kamu, begitu selalu Mama mengingatkan. Lalu ia pikir, sudahlah mungkin jodoh, ada yang melamar. Lalu mereka menikah.

Awalnya semua nampak manis dan menyenangkan. Andra sangat baik. Perhatian dan romantis. Awalnya ia sempat geli, setiap kali bangun, Andra selalu menyapa, “I love you.” Ia cekikikan. “Kamu malah ketawa.” protes Andra. “Aneh, kenapa setiap pagi siih. Sudah tahu kamu cinta aku, kenapa mesti diulang setiap pagi.” gerutunya geli. “Supaya kamu ingat kalau kamu punya aku. Harusnya kamu jawab sama dong, I love  you, too.”  protesnya lagi. Ia kembali cekikikan,”Seperti di film-film saja. Kamu korban film, ah.”  Tetapi Andra tetap melakukan itu, dan ia tak pernah membalas ulang. Meski tidak lagi protes, saat Andra menyapanya dengan kata-kata itu, namun ia hanya membalas dengan senyum kecil. Sapaan itu baru berkahir saaat mereka mulai sering bertengkar.

When I fall in love it will be forever,  Or I'll never fall in love
Hujan belum berhenti. Ia masih berada di tengah kemacetan. Malam semakin pekat. Lampu jalan dan gedung terlihat makin menyala. Ia sunyi di sini. Pikirannya melayang entah kemana-mana. Hanya ada suara hatinya ditemani lagu itu yang ia putar berulang kali. Ia tak ingin mendengar lagu lain. Hanya lagu itu. Seperti mempertanyakan pada dirinya sendiri. Benarkah ia jatuh cinta pada Andra, mencintainya atau tidak. Benarkah rasa cinta itu ada. Saat ini, ia tak mampu menjawabnya. Cinta itu sederhana, kata Mama. Cinta itu hanya memberi tanpa pamrih. Begitu nasehat Mama, saat tahu jika ia dan Andra memilih berpisah untuk sementara. Kamu yang membuatnya menjadi rumit, tambah Mama lagi. Saat itu, ia hanya mampu meneteskan air mata. Kamu tetap seorang istri, meski kamu wanita karir. Kata Mama lagi. Pikirkan, jangan bercerai, jangan sampai kamu sesali. Kecuali, jika kamu yakin, ini tidak akan membuat kamu menyesal. Ia hanya memandang wajah Mama dengan derai air mata. Wanita mulia, yang ia cintai ini telah ia buat susah hati. Menyaksikan pernikahan anak gadisnya yang diambang kehancuran.

When I fall in love it will be forever,  Or I'll never fall in love
Ini lagu Ayah dan  Mama. Begitu kata Ayah saat ia bertanya, mengapa Ayah selalu memutar lagu itu. Ayah dan Mama kerap duduk di ruang baca, mereka bercakap ringan dan lagu ini mereka putar berulang. Nuansa seperti itu sangat ia sukai. Ia suka memandang mereka berdua dalam kemesraan sederhana. Terasa lebih dalam. Namun, mengapa sulit bagi ia dan Andra untuk terus bisa seperti itu. Selalu mesra dalam segala situasi apapun, mampu menyelesaikan semua masalah dengan kepala dingin, mampu menyatukan hati. Mengapa begitu sulit bagi mereka untuk bisa saling mengerti.

When I fall in love it will be forever,  Or I'll never fall in love
In a restless world like this is, Love is ended before it's begun 
Ia mendesah. Memandang kaca spion dan deretan panjang di belakang mobilnya. Nampak sepasang pria dan wanita, sepertinya mereka suami istri. Dari pantulan cahaya, ia menangkap derai tawa dan canda. Mereka menikmati suasana dalam kemacetan seperti ini. Mungkin justru berharap macet ini tak cepat terurai. Kapan terakhir kali, ia menikmati suasana seperti itu. Saat mereka bisa saling memandang mesra, bertukar cerita seharian yang mereka lakoni di kantor. Menertawakan teman sekerja yang kadang konyol atau hanya sekedar bercerita menu makan siang yang mereka santap. Ia sudah lupa kapan terakhir kali bisa menikmati suasana semanis itu. Beberapa bulan yang lalu? Rasanya sudah lama sekali suasana itu berganti dengan keheningan, saling mendiamkan atau perdebatan yang melelahkan jiwa.

Dari kaca spion, ia terhenyak. Melihat pantulan wajahnya di sana. Wajah yang pucat, mata yang sembab dan rambut yang berantakan. Kapan terakhir kali ia merawat wajahnya, ia lupa. Sudah lama ia tidak datang ke salon, atau bahkan ia lupa hanya sekedar menggunakan cream malam. Ia mengusap pipinya yang kasar. Kelembutan kulitnya yang dulu terawat tak lagi nampak. Mengapa bisa seperti ini? Dulu, ia paling peduli akan penampilan dirinya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ia selalu berusaha tampil sempurna. Baginya penampilan menentukan image diri yang harus ia jaga. Pantas, semua yang ia temui beberapa waktu terakhir mengatakan, ada apa dengan kamu? ia hanya memandang heran dan menjawab memang ada apa? kamu berubah. Begitu kata mereka dan ia tidak peduli akan semua itu. Apakah ini pengaruh perpisahannya dengan Andra? Hingga semua menjadi kacau, hatinya, dirinya dan semua yang dijalaninya sehari-hari. Seperti kehilangan semangat yang dulu menyala itu.
Via, begitu ia disapa. Perempuan berusia menjelang 33 tahun itu, sesungguhnya sangat menarik. Ia cantik, cerdas dan pribadinya menyenangkan. Sejak dulu, ia sulit jatuh hati pada pria. Hampir tidak pernah pacaran apalagi menjalin hubungan yang serius. Semua pria selalu terlihat kurang dimatanya. Hingga Andra hadir yang mungkin sudah jodoh yang disiapkan Tuhan untuknya. Waktu yang singkat saat memutuskan menikah, mungkin membuat mereka belum sempat saling mengenal. Andra sebetulnya sosok pria idaman. Secara fisik, ia tampan. Ia rasa banyak wanita yang menyukai sosok pria macam Andra. Ia sempat tak percaya saat Andra serius melamarnya. Kamu betulan apa bercanda. Begitu jawabnya saat Andra mengajaknya menikah.Sorot mata Andra saat menyatakan cinta membuatnya yakin akan perasaan Andra padanya.

When I give my heart it will be completely , Or I'll never give my heart 
And the moment I can feel that you feel that way too , Is when I fall in love with you
Waktu berjalan, semua yang awalnya manis mulai berubah. Persisnya kapan, ia lupa. Tiba-tiba saja rumah menjadi demikian hening. Jika ada keramaian, itu karena perdebatan yang berakhir dengan pertengkaran. Ia tidak tahu siapa yang memulai hingga suasana menjadi memanas. Kata-kata yang mereka lontarkan selalu saling menyakiti. Memulai pagi dalam diam, menikmati sarapan tanpa saling menatap, menuju tempat kerja tanpa kecup hangat, cukup lambaian tangan yang terasa hampa. Tak lagi saling menyapa di sela kerja meski sekedar bbm. Pulang larut malam dan tidur saling membelakangi. Ia bahkan lupa kapan terakhir kali menikmati kehangatan malam bersama Andra.  

Salah siapa jika karirnya naik lebih cepat dibanding Andra. Saat ia menduduki posisi kepala cabang, Andra masih berkutat sebagai staff pemasaran. Salah siapa jika kemudian penghasilannya lebih besar. Salah siapa jika kemudian ia ingin menikmati hasil jerih payahnya untuk sesuatu yang disukainya. Andra selalu protes jika ia membeli barang yang mahal sementara ia merasa tak ada salahnya sesekali memanjakan diri. Banyak hal kemudian yang tidak lagi bisa mereka sepakati. Puncaknya saat Andra memintanya tidak terlalu sibuk, menanyakan kapan ia bersedia hamil. Ia memang merasa belum siap akan kehadiran seorang bayi ditengah kesibukan kerjanya. Andra menuduhnya terlalu ambisius sementara ia menganggap Andra tidak realistis. Ia pun tidak mengerti mengapa belum tumbuh keinginan untuk memiliki bayi.

When I fall in love it will be forever,  Or I'll never fall in love
Suasana yang semakin tidak sehat membuat kemudian mereka memutuskan untuk berpisah sementara. Agar kita bisa berpikir mau kemana, begitu kata Andra saat mengusulkan perpisahan ini. Awalnya ia terkejut. Tak menyangka Andra punya usulan seperti itu. Lebih tidak menyangka saat kemudian Andra merapikan pakaiannya, membawa koper dan melangkah ke luar rumah. Ia terpana menyaksikan itu. Kamu mau tinggal dimana, tanyanya. Aku sudah menyewa apartemen dekat kantor, sementara aku tinggal di sana, jawabnya dingin. Ia terpaksa setuju dengan usul Andra. Saat ia melihat bayangan mobil Andra menghilang di tikungan jalan. Ia menangis, menangis dan menangis. Tangisan yang tidak ia mengerti dan yang ia rasakan kemudian hanya kehampaan. Apakah itu tandanya ia merasa kehilangan?

Hari-hari yang ia jalani setelah kepergian Andra terasa membosankan. Ia kehilangan semangat. Mira, sahabatnya berkata, itu tandanya kamu kangen. Kangen? Masa? Ia tak percaya. “Kamu cinta sama dia, Via” jelas Mira. “Kalau kamu nggak cinta kamu nggak akan berantakan seperti ini.” tambahnya lagi. Mungkin Mira benar, tampa ia sadari rasa cinta itu telah tumbuh. Lalu mengapa ia begitu keras hati mengakui itu,  jika ia membutuhkan Andra dalam hidupnya. Ia kuatir Andra tak lagi menginginkannya. Ia kuatir Andra justru memilih bercerai. Mengingat itu, matanya membasah. Pasti ia tak kuasa mencegah jika itu terjadi, ia terlalu tinggi hati untuk memohon, meski itu pada Andra.

When I fall in love it will be forever,  Or I'll never fall in love
Jakarta memang aneh. Kadang penyebab kemacetan tidak jelas awalnya dan akhirnya. Tiba-tiba saja, meski tersendat mobilnya melaju perlahan. Pandangannya masih kabur oleh hujan yang masih turun meski tidak sederas tadi. Sekilas ia memandang Blackberry di sampingnya. Lampunya menyala sejak tadi. Ia enggan membukanya. Saat melihat tanggal yang terpantul di sana, ia terhenyak. Besok tanggal yang mereka sepakati untuk bertemu dan membicarakan kelanjutan pernikahan mereka. Matanya terpejam, kuatir akan terjadi hal terburuk dalam hidupnya. Bagaimana pun ia tidak ingin ada sejarah perceraian. Hatinya pedih.

Sempat Mama bertanya, apa sebetulnya yang kamu cari. Jika kamu mau bahagia jangan menyiksa diri. Lakukan semua yang kamu inginkan sesuai isi hati kamu. Itu dikatakan Mama saat ia bertanya apa yang harus dilakukannya sekarang dalam situasi seperti ini. Mungkin Mama betul, sudah saatnya ia membuka diri, menerima Andra sepenuhnya sebagai suami. Mungkin sudah saatnya mereka mendamaikan hati. Berusaha saling membahagiakan dengan memenuhi keinginan masing-masing pasangan. Saat bertengkar dulu, sempat Andra bertanya, mau kamu apa sebetulnya? Jika mau membangun keluarga bersama aku mengapa kamu hanya memikirkan diri sendiri. Ia sempat tidak percaya, jika di mata Andra ia seperti itu.

When I fall in love it will be forever,  Or I'll never fall in love
Kini kerinduan itu muncul. Rindu canda tawa bersama Andra. Beberapa hari yang lalu bahkan ia sempat membaca berbagai artikel tentang kehamilan. Melihat gambar-gambar ibu hamil dan wajah lucu bayi. Entah menggapa hatinya tergetar. Sejenak ia mengerti kerinduan yang dimiliki Andra selama ini. Memandang wajah mungil bagai pantulan wajah mereka. Mengapa setelah perpisahan ini, justru  tumbuh keinginan itu. Sempat ia berkhayal akan memiliki momen itu bersama Andra. Dalam situasi seperti ini apakah mungkin? Tak berani ia memastikan diri.

Andra tak pernah mencoba menghubunginya selama perpisahan ini. Tak pernah sekalipun mau tahu keadaan dirinya. Ingin ia memulai bertanya, apa kabar, dimana, sedang apa tetapi itu tak pernah ia lakukan, apa yang menghalanginya, ia juga tidak mengerti. Sempat timbul rasa kuatir mungkinkah Andra menemukan pengganti dirinya secepat ini. Seseorang yang lebih baik dari dirinya. Seorang istri yang seperti diidamkan Andra. Pernah Andra berkata, ia rindu istri yang memperhatikannya. Apakah selama ini ia sangat kurang menaruh perhatian pada suaminya.

Tak sadar, ia tiba di halaman rumahnya. Rumah yang ia beli bersama Andra. Rumah bercat putih dengan teralis kayu coklat tua. Rumah itu hanya rumah mungil saja. Namun ia desain sesuai impiannya akan rumah idaman. Ia mematikan mesin mobilnya. Sudah tahu  apa yang akan dilakukannya setelah ini. Masuk rumah lalu mengunci pintu, mengambil gelas, mengisinya dengan air dingin, meminumnya perlahan. Mandi dengan cepat lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur, sendirian. Namun, saat itu tak ingin ia bersegera ke luar dari mobilnya. Wajahnya ia telungkupkan ke setir mobilnya. Tangannya memencet tombol blackberry. Nama Andra muncul di list bbmnya. Hatinya mulai mencair. Mungkinkah Andra pun mencair. Kekerasan hatinya mulai luruh.
Andra : Kamu dimana?
Nada tanya itu seperti beda dengan yang biasa ia terima beberapa waktu terakhir ini. Hatinya terasa hangat, seperti ada aliran yang Andra sampaikan padanya
Via : Di depan rumah, baru sampai.
Andra : Macet?
Via : Iya...
Andra : Cape ya?
Via : Iya, kamu dimana?
Andra : Di teras apartemen. Duduk sendirian di lantai 16. Hujan, dingin...
Ia mengela nafasnya. Sejenak bimbang apa lagi yang harus dikatakannya. Sapaan Andra betul-betul tak terduga
Via : Disana hujan juga
Andra : Iya. Hujan merata sepertinya di Jakarta
Via : iya
Andra : Kamu baik-baik saja?
Ingin ia berkata, tidak. Aku tidak baik-baik saja tampa kamu
Via: Baik, kamu
Andra : Berantakan...
Via : Maksudnya?
Andra : Hidupku kacau..
Ia memejamkan mata. Mungkinkah perasaan Andra sama seperti dirinya.
Via : Besok kita ketemu?
Andra : Ya....
Matanya terpejam, apa yang terjadi besok.
Andra : Kalau tidak menunggu besok bagaimana?
Via: Maksudnya?
Andra : Aku kangen....
Bulir air mata menetes tak terasa di pipinya. Ia ingin berteriak. Jika ia juga rindu...
Via : Sama...
Andra: Sungguh?
Via ; Sungguh...
Andra : Aku pulang ya sekarang, aku ingin memeluk kamu
Via : Aku juga, aku tunggu...
Ia merasa lega, hatinya terasa hangat. Matanya masih berkaca namun dipenuhi buncah yang tak bisa ia jelaskan. Ia ingin segera melompat ke kamar, mandi dan menunggu Andra pulang. Apapun itu, akan ia sepakati asal ia bisa bersama Andra. Saatnya ia mengakui hal terpenting dalam hidupnya. Andra dan calon bayi mereka kelak. Maafkan aku, Andra. Aku terlambat memahami ini semua. Aku akan belajar masak dan tidak keberatan menyiapkan sarapan setiap pagi. Aku tahu, kamu juga tidak akan keberatan sesekali menemani aku belanja. Bisiknya...

And the moment I can feel that you feel that way too 
Is when I fall in love with you....


Note : Masuk nominasi sebuah Lomba Menulis cerpen. Belum menang. Enjoy friends...

Kiat sukses menerbitkan buku indie

Dunia berkembang dengan pesat, begitu juga dengan teknologi dan dunia buku. Namun menurut beberapa sumber, minat membaca dan menulis bangsa kita masih jauh tertinggal dengan bangsa-bangsa lain di belahan dunia sana. Patut kita akui dengan kasat mata, hal ini jelas terlihat. Maka sudah sepatutnya kita semua berperan serta untuk terus mendorong tumbuhnya budaya membaca dan menulis. Membaca dan menulis adalah sebuah kegiatan yang sangat positif. Jika minat ini tumbuh subur, maka sudah bisa dipastikan kita akan mampu memperbaiki kualitas hidup bangsa kita dan generasi mendatang tentunya.
Hanya tidak dapat kita pungkiri jika dunia buku juga sebuah industri. Industri yang tentu saja erat kaitannya dengan bisnis. Sehingga tentu banyak pertimbangan yang dilakukan penerbit saat memutuskan untuk menerbitkan sebuah buku. Apalagi nilai konsinyasi di toko buku sangat tinggi, berkisar antara 35 % - 45 %. Dengan kondisi tersebut di atas, tentu harus ada alternatif  lain yang mampu memperkaya dunia buku. Untuk terus berkembang dan turut mendorong budaya baca pada masyarakat.  Saya yakin, minat menulis dan membaca pada masyarakat terutama generasi  muda sangat besar.  Hanya tinggal mendorong lebih keras lagi. Untuk itulah peran kita semua dibutuhkan.
Salah satu alternatif yang sudah cukup dikenal adalah self publisihing atau menerbitkan buku secara indie. Hanya alternatif ini belum populer, masih sedikit penulis yang berani menerbitkan bukunya sendiri atau bisa jadi ragu atau mungkin belum tahu. Padahal peluang untuk menerbitkan buku secara indie sangat besar. Sehingga tidak tergantung 100% pada penerbit mayor. Menerbitkan buku secara indie bisa menjadi sebuah pilihan.
Saya sendiri bersama komunitas Women Script & Co telah menerbitkan 3 buah buku secara indie dan sukses. Yang pertama adalah Novel LOVE ASSET, Endless Love dan Buku 101 Perempuan Berkisah. Mengapa saya sanggup mengatakan ketiga buku tersebut sukses? apa ukurannya? tentu diterima oleh pembaca, di resensi oleh semua media cetak. Untuk Love Asset di ulas di Kompas, Koran Jawa Post, Tabloid Wanita Indonesia, Tabloid Nova, majalah Sekar, majalah Femina, majalah Noor, majalah Annisa, dll. Talk show berbagai radio, dan masuk program 8-11Metro TV. Untuk Endless Love juga sama dan menyusul buku yang baru saja terbit yaitu 101 Perempuan Berkisah. Begitu juga dari segi penjualan, meski hanya Love Asset yang dijual di toko buku, sedang yang lain secara online tetapi mampu menarik minat banyak pembaca.
Mungkin kita mengenal nama Jack Canfield untuk penulis luar dan Asma Nadia dan Dewi Lestari untuk penulis Indonesia yang juga pernah menerbitkan buku secara indie dan sukses.  Yang perlu kita ketahui adalah bagaimana caranya menerbitkan buku secara indie dengan sukses. Artinya buku tersebut harus berkualitas, tidak kalah dengan buku yang diterbitkan oleh penerbit mayor.  Mengapa? karena jika kita asal-asalan dalam menerbitkan buku maka kita akan ditinggalkan pembaca. Tentu sayang dana yang sudah kita keluarkan untuk investasi dalam mencetak buku jika hilang begitu saja. Yang patut menjadi target, buku kita laris dan kita juga dikenal dan diakui oleh pembaca. Jika kita gagal tentu,untuk mencoba menerbitkan buku yang berikutnya akan lebih berat.  Jadi pastikan buku kita berkualitas.
Bagaimana caranya?
1. Naskah
Tentu hal yang utama, anda memiliki naskah yang baik. Jika anda punya ide yang sama,  yang pernah ditulis banyak orang, cari pembedanya. Apa yang membuat naskah anda berbeda dengan yang lain, bisa dari tema, tokoh, alur,latar atau lainnya.  Atau, kalau bisa anda menulis sesuatu yang belum banyak ditulis oleh banyak orang. Apapun pilihan anda, pastikan naskah anda  menarik dan ditulis dengan kaidah-kaidah penulisan. Jika belum yakin, bisa mengikuti berbagai pelatihan menulis baik online maupun offlline. Seringkali minat besar tetapi anda belum mengasah keterampilan menulis dengan baik. Judul juga merupakan penentu, temukan judul yang menarik dan menjadi jiwa dari naskah anda.
2. Editor
Editor merupakan peran yang penting dalam sebuah naskah. Saat ini banya editor freelance yang berkualitas yang bisa kita minta bantuan untuk menilai, memperbaiki dan memoles naskah kita agar tampil baik, menarik dan berkulitas. Editor juga bisa berfungsi sebagai proof reader, yang memastikan naskah kita layak terbit, layak baca dan layak diterima oleh masyarakat luas. Fee editor beragam, namun berkisar antara 3000 - 8000 rupiah per halaman. Dengarkan kata editor dan jangan menyerah jika banyak revisi. Biasanya editor yang baik akan merasa bertanggung jawab penuh terhadap naskah tersebut.
3. Pra cetak
Setelah editor sudah menyatakan naskah anda layak baca maka mulai lah melakukan pra cetak, ini hanya masalah tekhnis tetapi sangat mendukung kualitas buku anda. Dari segi desain cover, lay out dan lain-lainnya. Pastikan tampil menarik karena ini menambah nilai jual.
3.Cetak
Maka anda tinggal memilih mencetak yang sesuai dengan nilai investasi yang anda miliki. Jangan ragu, dana yang anda keluarkan bernilai investasi. Karena dana ini akan kembali jika buku anda terjual, malahan seluruh profit yang anda dapat tentu untuk anda semua. Dan, jika buku sold out anda bisa cetak ulang dengan dana yang sama.
4. Promosi dan penjualan
Saat ini banyak media yang bisa anda pakai untuk promosi gratis. Berbagai sosial media bisa anda pakai. Lakukan cara promosi yang manis dan menjual. Anda juga bisa membuat event lomba atau lainnya untuk membantu buku anda dikenal. Jika buku anda berkualiats maka akan ramai pembaca merespon dan promosi  dari pembaca ke pembaca lainnya akan membuat buku anda laris. Sebuah buku yang baik akan membuat media melirik buku anda dan tanpa menunggu waktu buku anda akan tampil dimana-mana. Jika anda ingin buku anda terpampang di toko buku bahkan sekelas Gramedia, juga tidak sulit sepanjang anda mau berkonsinyasi alias berbagi keuntungan.
5. Percaya diri
Di atas itu semua, kunci yang paling utama adalah percaya diri. Seringkali kita merasa sulit untuk memulai karena kurang percaya diri, ragu dan takut. Buang itu semua dan mulai melangkah.
6. Tidak punya dana
Bagaimana jika ini menjadi kendala utama? Cari lah sponsor yang bersedia mendanai atau berinvestasi di buku anda. Anda bisa berbagi keuntungan dengan investor.
Jadi tunggu apa lagi? jika sudah berniat, ayook lakukan. Mari perkaya dunia baca.
salam sukses
Deka
book publishing consultant
(telah menjadi  konsultan buku untuk perorangan, beberapa Lembaga dan perusahaan)


Tags:

Makalah Parenting

Belajar untuk mendidik dan mencintai buah hati kita

Makalah untuk presentasi, minggu 22 November 2009.
MASJID BAITUSSALAM





I. PENDAHULUAN

Saat ini satu hal yang pasti kita semua adalah orang tua bagi anak-anak kita. Kita mencintai mereka mungkin sudah tidak perlu dipertanyakan lagi,semua orang tua pasti mencintai anak-anaknya dengan cara masing-masing.
Sebuah pertanyaan penting,sudahkan kita mencintai mereka dengan benar? Mendidik mereka dengan benar? 
Setiap orang tua seharusnya mengevaluasi diri dan belajar bagaimana seharusnya mendidik dan mencintai anak.
Kadang kita merasa cukup mengandalkan perasaan dan fikiran kita atau kadang kita merasa cukup tau, cukup mengerti dan cukup bisa. Tetapi kemudian mengapa masalah masih timbul ?
Kita menyadari banyak anak dan orang tua yang memiliki masalah dari hal yang sederhana sampai yang komplex. Mungkin jika kita renungkan kita sendiripun sedikit banyak memiliki masalah. Untuk itu pada kesempatan ini,saya akan membahas bagaimana mendidik dan mencintai anak-anak kita. Sudut pandang yang saya gunakan adalah beberapa hadist (dalil-dalil kewajiban orang tua kepada anak-anaknya) dan psikologi anak.
Semoga sharing kita / pembagian pengalaman kita kali ini dapat memberikan masukan yang berharga bagi kita semua, amin.
Saya mulai dengan sebuah kutipan yang manis dari :

Children Learn What They Live”……. karya Dorothy Law Nolte;
Jika anak dibesarkan dengan celaan ia belajar memaki,
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan ia belajar berkelahi,
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan ia belajar rendah diri,
Jika anak dibesarkan dengan hinaan ia belajar menyesali diri,
Jika anak dibesarkan dengan toleransi ia belajar menahan diri,
Jika anak dibesarkan dengan dorongan ia belajar percaya diri,
Jika anak dibesarkan dengan pujian ia belajar menghargai,
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

II. SUDUT PANDANG

• Dalil kewajiban orang tua kepada anak-anaknya (hadist)
“Tidak ada pemberian orang tua terhadap anak-anaknya yang lebih utama daripada akhlak yang baik” (HR.AHMAD)

“Cukuplah seseorang dikatakan berdosa apabila dia menyia-nyakan orang yang menjadi tanggung jawabnya” (HR.ABU DHAUD)

“Ajarilah anak-anak kalian 3 perkara, cerita nabi kalian, cinta dirumahnya nabi,dan membaca Al-Quran” (HR.ABU NASR)

“Kewajiban orang tua terhadap anak-anaknya yaitu memberi nama yang baik,memperbaiki tempat tidurnya,dan meperbaiki adabnya(HR.BAIHAQI)

“ Kewajiban orang tua terhadap anaknya yaitu mengajari berenang,mengajari memanah dan memberikan rezeki yang baik kepada mereka(HR.AL-HAKIM)

“Perintahkan anak kalian untuk mengerjakan sholat pada saat mereka berusia 7 tahun,dan pukulah apabila mereka meninggalkan solat pada saat usia mereka 10 tahun.dan pada saat itu pisahkanlah ranjang mereka.”(HR.ABU DAUD)


• FASE PERKEMBANGAN ANAK SECARA PSIKOLOGIS
(Ibu Ratna Megawangi /Pakar pendidikan karakter)

• Fase usia 0-3 tahun . Peran orangtua begitu besar, karena landasan moral dibentuk pada umur ini. Cinta dan kasih sayang dari orangtua sangat dibutuhkan anak sepanjang fase ini. Memasuki usia 2-3 tahun, anak sudah dapat diperkenalkan pada sopan santun serta perbuatan baik-buruk. Biasanya anak pada usia ini mencoba-coba melanggar aturan dan agak sulit diatur, sehingga memerlukan kesabaran orangtua.

• Fase usia 4 tahun. Anak mengalami fase egosentris. la senang melanggar aturan, memamerkan diri, dan memaksakan keinginannya. Namun anak mudah didorong untuk berbuat baik, karena ia mengharapkan hadiah (pujian) dan menghindari hukuman. la sudah memiliki kemampuan berempati. 

• Fase 1 (umur 4,5-6 tahun). Anak-anak lebih penurut dan bisa diajak kerja sama, agar terhindar dari hukuman orangtua. Anak sudah dapat menerima pandangan orang lain, terutama orang dewasa; bisa menghormati otoritas orangtua/guru; menganggap orang dewasa maha tahu; senang mengadukan teman-temannya yang nakal. Anak-anak pada fase ini sangat mempercayai orangtua/ guru, sehingga penekanan pentingnya perilaku baik dan sopan akan sangat efektif. Namun pendidikan karakter pada fase ini harus memberi peluang pada anak untuk memahami alasan-alasannya. 

• Fase 2 (usia 6,5 - 8 tahun). Anak merasa memiliki hak sebagaimana orang dewasa; tidak lagi berpikir bahwa orang dewasa bisa memerintah anak-anak; mempunyai potensi bertindak kasar akibat menurunnya otoritas orangtua/ guru, dalam pikiran mereka; mempunyai konsep keadilan yang kaku, yaitu balas-membalas 
Bagaimana mengajarkan pendidikan karakter pada anak usia ini? Berikan pengertian betapa pentingnya "cinta" dalam melakukan sesuatu, tidak semata-mata karena prinsip timbal balik. Tekankan nilai-nilai agama yang menjunjung tinggi cinta dan pengorbanan. Ajak anak kita merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Bantu anak kita berbuat sesuai dengan harapan-harapan kita, tidak semata karena ingin dapat pujian atau menghindari hukuman. Ciptakan hubungan yang mesra, agar anak peduli terhadap keinginan dan harapan-harapan kita. Ingatkan pentingnya rasa sayang antaranggota keluarga dan perluas rasa sayang ini ke luar keluarga, yakni terhadap sesama. Berikan contoh perilaku dalam hal menolong dan peduli pada orang lain.

• Tahapan perkembangan karakter anak 

Perkembangan karakter anak mencakup Psikis,motorik,linguistik/bahasa,Presepsi,sosial dan emosional.
Psikis yaitu perkembangan karakter anak, Linguistik yaitu
bahasa,presepsi yaitu pandangan anak terhadap sesuatu,sosial yaitu berinteraksi dengan lingkungan dan emosinal yaitu kemampuan mengembangkan emosi kearah yang positif.

Dua masalah yang sering timbul dalam tahapan perkembangan anak yaitu :
1. Masalah pengasuhan di lingkungan keluarga
2. Masalah pengaruh lingkungan


III. PEMBAHASAN 

Berdasarkan sudut pandang di atas dari dalil – dalil dan teori psikologis apa yang harus kita lakukan sebagai orang tua ? Apa tujuan kita sebagai orang tua ? tentu saja kita ingin mampu mendidik anak kita dengan baik.
Apa keinginan kita terhadap anak-anak kita ? Tentu saja kita ingin anak-anak kita menjadi anak yang sempurna lahir batin,berakhlak muslim/muslimah,berkarakter baik,disiplin,tanggungjawab,pandai,sopan,rajin dan semua sifat yang positif. Untuk mencapai itu semua apa yang harus kita lakukan?
Hal yang paling utama tentu saja mencintai mereka sepenuh hati, jika ditanya apakah iya kita sudah mencintai anak-anak kita sepenuh hati. Cobalah renungkan….
• Mencintai anak-anak sepenuh hati berarti mencintai tanpa pamrih,tanpa batas dan yang lebih penting menjadikan mereka sebagai subyek. Seringkali orang tua tanpa sadar menjadikan anak sebagai objek, hanya menasehati,memerintah,memberitahu,harus menurut,tidak boleh melawan dan lain sebagainya. Tetapi pernahkan kita memberi pengertian akan nasehat yang kita berikan, memberi alasan akan perintah yang kita berikan,memberitahu dengan argumentasi, dan meminta maaf jika kita menyadari ternyata kita sendiri telah melakukan tindakan yang salah terhadap anak kita.
Jadi jika kita memperlakukan anak sebagi subyek berarti kita juga mencoba memahami perasaan dan fikiran mereka.
Memakai sudut pandang fikiran mereka bukan hanya semata fikiran kita sebagai orang tua. Cobalah berada dalam posisinya. Jika hal tersebut bisa kita lakukan tentu saja pada akhirnya akan mudah bagi kita untuk mendidik mereka. Tanamkan semua nilai yang ingin kita tanamkan dengan rasa cinta, bukan dengan paksaan.


Ada beberapa hal yang kemudian harus kita lakukan yaitu :

• Ciptakan lingkungan keluarga yang sehat, harmonis, demokrasi, tumbuhkan rasa aman dan nyaman anak dalam rumah. Lingkungan yang sehat berarti bebas dari bentakan,teriakan,cacian,hinaan,makian,pertengkaran dan kekerasan. Jangan ajarkan kekerasan pada anak, berikan pengertian dengan lembut dan penuh kasih sayang, jangan melotot pada anak, jangan membentak apalagi memukul atau mencubit karena tindakan tersebut hanya berpengaruh negatif pada anak dan tidak mendidik. Anak tetap tidak memahami kesalahannya sebaliknya yang terekam dalam benak anak hanya kebencian. Jadi hindarilah ! 
• Aturan perlu dibuat agar anak menyadari bahwa semua ada batasan tetapi berikan pengertian mengapa aturan tersebut harus dibuat. Dalam hal ini anak akan belajar bertanggungjawab terhadap sesuatu dan belajar disiplin. Untuk itu jika kita sudah sepakat tentang sesuatu jangan sekali-seklai kita sebagai orang tua yang melanggar. JIka ini terjadi maka disiplin yang ingin kita tanamkan akan sia-sia.
Sebagai contoh : 
Berikan waktu kapan harus belajar dan kapan boleh bermain. Lalu konsekuen dengan aturan yang sudah ditetapkan. artinya jangan dilanggar dengan alasan apapun juga, jika memang waktunya belajar ya harus belajar.

• Perhatikan dengan siapa anak kita bergaul. Pengaruh teman sangat besar terhadap anak-anak kita karena itu kita harus yakin anak kita tidak bergaul dengan lingkungan yang hanya akan berpengaruh negatif terhadap dirinya.
• Berikan pengertian mana yang benar dan mana yang salah.tetapi kemudian berikan alasan mengapa benar dan mengapa salah. Jangan katakan seharusnya tetapi katakan ini yang benar karena apa. Sehingga kemudian anak akan mampu memahami mana yang benar dan mana yang salah. Jelaskan menurut siapa benar dan menurut siapa salah.
• JIka kita melarang anak melakukan sesuatu yang menurut kita tidak boleh dilakukan, berikan pengertian mengapa tidak boleh. Pastikan anak memahami karena apa kita melarangnya melakukan hal tersebut.
• Berikan hak dan kewajiban pada anak dirumah. Jelaskan bahwa sebagai anak ia sudah mendapatkan haknya yaitu hak dicintai, dilindungi, dirawat maka kemudian ia juga punya kewajiban misalnya bertanggungjawab terhadap kamarnya,barang-barangnya,sekolahnya dan lainnya.
• Berikan kesempatan pada anak untuk mengemukakan pendapat, Jika ia berbuat kesalahan tanyakan dulu mengapa ia melakukan itu, coba pahami pemikirannya lalu berikan pengertian mengapa yang ia lakukan itu salah. Jangan sekali sekali langsung kita berikan hukuman tanpa kita mau memahami alasannya melakukan hal tersebut. Jika kita mampu melakakan ini maka anak akan mengerti kesalahannya dan tidak akan mengulanginya lagi. 

Jika anak mengalami masalah karakter (tidak disiplin,tidak bertanggungjawab terhadap pelajaran, malas, tidak sopan, tidak menurut/melawan, tidak menghargai orang lain, egois atau karakter negatif lainnya). Apa yang harus dilakukan ?

Langkah yang keliru adalah jika memulai melihat diri anak sebelum melihat diri kita sebagi orang tua. Jadi cobalah melihat pada diri kita sendiri, apa yang salah pada diri kita sebagai orang tua ? apakah kita sendiri ternyata memiliki sifat yang negatif(anak meniru perilaku di sekitarnya, terutama orang tua) Jika ya,maka hilangkalah sifat negative dalam diri kita,kembangkan sifat positif dalam diri kita, jika kita malas mulailah rajin, jika kadang kita tidak sopan(misalnya terhadap pasangan kita) maka mulailah bersikap sopan. Intinya berikan contoh perilaku positif maka kita akan mampu membangun karakter positif/.baik dalam diri anak.
Namun jika kemudian ternyata kita merasa sudah baik tetapi ternyata anak kita kok masih tidak baik,maka lihat apa yang dia tonton, apa yang dia baca, dengan siapa bergaul, bagaimana lingkungan sekolahnya, jadi cari dahulu akar masalahnya baru penyelesaiannya. Selesaikan semua dengan bijak,artinya tidak menyudutkan anak, lalu cobalah secara perlahan tanamkan sifat/sikat positif dalam diri anak.
Ucapkan hanya kata-kata yang baik pada anak kita.


IV. KESIMPULAN

Diatas apa yang telah dipaparkan dalam makalah singkat dan sederhana ini adalah DOA, sebagai orang tua jangan pernah putus berdoa. Doakan anak-anak kita disetiap solat kita. Jika anak kita mengalami masalah, mohon ampun apda ALLAH SWT karena mungkin semua adalah kesalahan kita. Tetapi jangan tenggelam dalam kesalahan dan penyesalan. Yang lebih penting jika kita mengalami masalah dengan anak kita adalah mengatasinya dengan bijak dan baik. Dengan DOA dan USAHA, Insya Allah anak kita akan menjadi anak-anak yang soleh/solehah dan dapat dibanggakan, amin.