Rabu, 31 Desember 2014

Tips Manajemen Waktu untuk IRT Penulis


Akhir tahun 2104 ini saya merenungi banyak hal termasuk manajemen waktu yang selama ini saya jalani. Banyak yang saya inginkan masih terbengkalai atau belum terwujud. Salah satunya adalah untuk konsisten update blog. Banyak hal yang ingin saya tulis di blog ini, banyak hal ingin saya bagikan dan impian bisa punya blog yang bisa  memberi manfaat bagi banyak pembaca. Semua itu belum tercapai karena banyak pekerjaan lain yang menyita waktu. Terutama adalah impian untuk punya buku terbit lebih banyak lagi. Maka saya mengejar menulis dan menyelesaikan naskah. Akibatnya blog saya sepi bahkan beberapa tulisan teman yang saya tandai ingin saya baca juga tak sempat saya buka. Saya tak sempat menulis blog, sedih...

Bisa jadi karena saya banyak maunya, mau ini...mau itu. Banyak orang bilang pilih mau apa lalu fokus. Tetapi bagaimana jika semua itu kita sukai. Beberapa hal yang kita sukai dan ingin bisa kita kerjakan secara bersamaan. Ingin menulis untuk media, ingin punya banyak buku dan ingin rajin ngeblog. Aduuuh, itu mungkin nggak ya. Sementara kita juga masih punya kewajiban sebagai ibu, sebagai istri dan sebagai anggota masyarakat. Ini...itu...banyak sekali...

Kadang kita merasa kehabisan waktu dan tidak bisa mengerjakan semua sesuai jadwal. Selalu tergesa dan diburu waktu. belum ini...belum itu....Bahkan kadang kita merasa  tidak ada waktu untuk diri kita sendiri, pengen ini...pengen itu...
Rasanya kita harus mengubah semua, agar waktu bisa berjalan dengan menyenangkan tetapi berisi dan menghasilkan sesuatu.

Setelah saya pikirkan semuanya, saya bertekad di awal tahun ini saya mengubah semua rutinitas yang selama  ini saya jalani. Jika sebelumnya saya hanya mengerjakan dan fokus pada sesuatu yang sedang saya kerjakan maka kini saatnya semua harus lebih teratur. Saya harus punya agenda. Harus buat jadwal dan disiplin mengerjakannya. Dulu saat menjadi Dosen saya terbiasa melakukan semua sesuai jadwal. Sekarang saat bekerja sendiri seperti ini, tentu harusnya saya bisa lebih mengatur waktu dengan baik. Bahasa kerennya manajemen waktu.

Saya mau mulai menerapkannya hari ini dan saya ingin berbagi dengan teman semua. Yuuk, kita mulai mengubah pola harian yang selama ini kita jalani. Agar semua keinginan tercapai dan semua impian terwujud. Amiiiin.

Berikut beberapa hal yang mau saya kerjakan :

1. Buat daftar harian ( to do list) apa yang harus kita kerjakan setiap hari. Misalnya pagi mengurus anak sekolah hingga mengantar anak sekolah. lalu pulang jika punya ART bisa delegasi pekerjaaan, jika tidak kerjakan dulu. Sampai jam berapa? katakanlah jam 9. Setelah selesai semua, mandi yang wangi lalu duduk depan laptop. mau nulis apa? kalau pagi misalnya : nulis untuk media, update blog, update sosmed. sampai jam berapa? misalnya sampai jam 11 siang. Lalu setelah itu bisa kembali ke rutinitas rumah. belanja, masak, jemput anak dan sebagainya.
Malam hari setelah semua urusan anak dan rumah beres, kita bisa menulis naskah. Jangan terlalu malam, Kita butuh istirahat juga kan. Menulis 2-3 jam sehari cukup.

2. Buat rencana mingguan. Target mingguan, mau menyelesaikan berapa halaman? mau kirim ke media mana? mau update blog berapa kali dalam seminggu. Istilah kerennya SMART( specific-measureable-achievable-reasonable-timeline)

Awal minggu buat target yang terukur tetapi memang yakin kita mampu mengerjakannya. Akhir minggu evaluasi tercapai atau tidak. Jika tidak cek apa masalahnya. Lalu cari solusi agar minggu depan target lebih bisa tercapai.

3. Atur prioritas. Tetap tentukan prioritas. Mana yang harus diselesaikan. Buat list dari beberapa pekerjaan yang ingin kita kerjakan. Setelah satu selesai bisa maju ke list berikutnya.


4. Meski kita IRT, kita bukan superwoman. Buat delegasi. Jika punya ART mungkin lebih mudah. Jika tidak libatkan anak untuk hal-hal yang bisa mereka kerjakan. Misalnya merapikan mainan sendiri, merapikan kamar sendiri, selesai makan cuci piring sendiri dan sebagainya. Ajarkan mereka mandiri. Harusnya meski punya ART, anak harus mulai diajarkan mandiri. Minimal mengerjakan apa yang mereka butuhkan sendiri.

5. Jangan mudah tergoda atau takut mengatakan tidak jika ada ajakan yang terlalu menyita waktu. Bisa kita alokasikan dalam seminggu, jika kita ingin punya "me time" atau jalan atau arisan, atau apa saja. Misalnya cukup 1 x seminggu. Tetap jangan lupa kita juga butuh santai. Butuh rehat sejenak dari runitas. agar kembali fress. Kalua saya me time nya ke salon. he he he dan, arisan cukup 1 x sebulan saja.

6. Perfeksionis membutuhkan waktu. Jangan berharap semua berlangsung seketika sempurna. Perlahan tapi pasti. Jika ada kesalahan perbaiki tetapi jangan sampai merusak mood. 

7. Saat produktif setiap orang berbeda. Kenali waktu dimana kita bisa lebih lancar menulis. Momen ini bisa kita ciptakan.

8. Kenali apa yang bisa mengganggu kita atau mengalihkan perhatian kita. Hindari. Misalnya terlalu banyak chatting atau tidur he he he 
Intinya kenali apa yang selama ini menjadi kendala kita untuk bisa produktif lalu atasi.

9. Atur waktu kapan buka sosmed dan menjawab semua inbox misalnya. Alokasikan saja waktunya. Hingga tidak menyita waktu.

10.Disiplin. Kunci yang terakhir. Karena tanpa ini semua hanya tinggal di atas kertas. 

Kapan mulainya? sekarang juga yuuuk
Aku mulai hari ini.
Mari mengejar waktu yang telah lama tertinggal. Mulai produktif.
Jika membutuhkan dorongan atau ilmu, jangan segan ikut komunitas yang bisa membakar semangat kita. Atau ikut kelas menulis agar bisa lebih terarah dan terpacu. 

Salam Semangat

#Semoga tahun ini, saatnya karya kita bertebaran. Amin.














Jumat, 21 November 2014

Cerpen deka(terbit)


>  There will be another time
Features -
Deka Amalia

About six months ago, I ran into him in a supermarket.
I was hurriedly pushing my cart and knocked it against
a man who was looking around in a leisurely manner.

He must have found it funny as he smiled to himself. I
apologized and smiled back. To be honest, he had quite
a charming smile.

A few days later, I saw him again in a restaurant and
was again charmed by his smile. I was there with
several friends of mine. He approached me and
introduced himself to me. We laughed when we
remembered the small incident in the supermarket. I
knew for sure that my friends, all still single, were
charmed by his smile and his two hooded eyes.

He was called Johan. We quickly became friends. His
office was close to mine so every day he picked me up
at my office and we went home together. We had dinner,
saw a film, went shopping, browsed in a book shop or
just chatted in my boardinghouse.

He often praised my appearance. I was quite attractive
and at 30 I already enjoyed a good position at my
office. He said he liked my innocent personality and
my cheerfulness. Frankly, I was also attracted to him.
He was quite mature and handsome. Given his style and
the automobile he drove, he also must have had a very
good position in his office. He had a very interesting
personality and was quite attentive.

I was hoping against hope that I could be his wife.
Before my chance meeting with Johan, it had hardly
ever crossed my mind to get married. No man had ever
thrilled my heart like he did. I enjoyed being single.
I had a job and a lot of friends; I could go anywhere
and do anything I wanted to.

Only when I received a wedding invitation did a
fleeting desire to get married flash through my mind.
When I visited a friend who had just given birth to a
baby, I would sometimes briefly think about having a
baby myself. But I found no man that suited me until
Johan turned up. I thought he was destined for me.

I was very happy in his company. My friends supported
me and kept assuring me he was the right man for me. I
introduced him to my mom, who instantly liked him. She
kept asking me when we would get married. Well, I was
her only daughter and I understood her worries about
my staying single.

She was afraid that I would be like Aunt Nien, her
youngest sister, who got a widower at the age of 45
but was too old to have a child. To be honest, I
shared my mother's worries, in a way.
That day Johan telephoned me and invited me to a
dinner. He hinted that he had something to tell me. We
agreed to meet at one of the cafes we usually went to.
I guessed he wanted to propose for a marriage. I knew
it when he clasped my hands, hugged me and kissed me
passionately. He had never said he loved me but I
could feel it through his touch and his warm gaze. I
knew he loved me and wanted very much to hear the
words from his mouth. I also wanted to tell him that I
loved him.

When I got to the cafe that night, he was waiting. He
kissed me sweetly and looked at me. I had tried my
utmost to appear at my best that night.

He clasped my hands and gazed at me long and hard. I
could see from his eyes he was hiding something. His
face was not that of a man wishing to express his love
to his girlfriend. There was a sense of burden in the
lines in his face. He took a deep breath. I knew it
was not going to be the night I had long expected. I
could feel his restlessness. There was a brief lull.

It was right after the waiter returned with what we
had ordered that he broke the silence.

"Mala, I'm sorry. I never intended to lie to you or
hurt you. Before I met you, it had never occurred to
me that I could fall in love again with a woman. I
really love you, but I've got to be honest to you." He
stopped and I could not say anything.

"What do you mean?" I finally managed to inquire. A
pang stabbed me in my heart although I had yet to hear
his full explanation.

"What do you expect from me, Mala? Please be honest
with me."

I looked deep into his eyes and said weakly, " I want
you to marry me."

He sighed deeply, twice.

"Oh no, don't tell me you can't marry me," I cried in
my heart.

But it was exactly what he told me. He was married; he
also made it clear there was nothing wrong in his
marriage and that he could not divorce his wife. The
only mistake was that he had fallen in love with me.

Well, I should have expected that, given his age,
Johan was a married man. I should have known it
because he had never given me his telephone number at
home or his address. I was simply charmed by his
praise and handsome looks.

That night he did ask me to be his mistress. I could
not make up my mind. I was not ready to lose him but
to be his mistress? What should I tell my mom and my
friends?

Days passed into weeks and Johan continued to shower
me with his warm love. In the meantime I was tortured
by two difficult choices: be ready to be his mistress
with all its consequences or abandon him.

I still could not make up my mind although I did talk
to him about several times. Unfortunately, every time
I looked into his eyes and felt his warm touch, I
could not bring myself to say goodbye and, strangely,
I felt a stronger urge to possess him.

In the meantime, he became more and more open to me
about his family. He told me about his cute children
and about his wife's activities. As days, weeks and
months wore on, I felt I was on the outside looking in
on their married life, which led me to make my
decision.

It was rather late at night. We were in our usual
cafe. After a long silence, as if reading my mind, he
said: "Come on, Mala, tell me what's on your mind.
Don't keep it to yourself. I really love you and do
not want to see you suffer. I will not force you.

"You are entitled to your own future. My mistake was
to fall in love with you. But for the sake of your
happiness, we can be just friends. I won't disturb you
anymore, but please tell me honestly what is on your
mind."

Suddenly, tears welled in my eyes. I mustered all my
courage and off it went: a barrage of words flying
from my pent-up mind.

I made it clear that although I loved him I had no
right to ruin his marriage. I also regretted his
dishonesty to me when we first met.

I also made it clear that I was not ready to be just a
complement to his wife. Without anymore ado, we parted
amicably and went our separate ways.

The coming days were empty without him. Mom and my
friends gave me strong encouragement, though. I did
the right thing, they kept saying. I agreed. There
will be another time for me to find my soul mate, I
kept assuring myself.






This Website is designed for The Jakarta Post by CNRG
ITB.
All contents copyright �of The Jakarta Post.
webmaster@thejakartapost.com

     
__________________________________
Do you Yahoo!?
Vote for the stars of Yahoo!'s next ad campaign!
http://advision.webevents.yahoo.com/yahoo/votelifeengine/

Kamis, 13 November 2014

Memberikan yang Terbaik di era Teknologi Informasi.



Memberikan yang Terbaik di era Teknologi Informasi.

Deka Amalia




Profesi saya dari sejak kuliah adalah guru. Saat kuliah saya mengajar les privat untuk siswa SD dan SMP. Baru dua tahun terakhir saya mengajar ekskul menulis di beberapa sekolah. Saya mengajar Creative Writing untuk siswa SD, SMP dan SMA. Materi yang saya berikan adalah teknik penulisan dan berlatih menulis. Mereka diwajibkan menghasilkan satu karya yang kemudian diterbitkan dan diedarkan untuk kalangan sekolah di akhir semester. Jadi guru, teman dan orang tua mereka bisa menikmati hasil karya mereka.

Saya sangat menikmati proses mengajar. Memberikan  ilmu dan pengalaman menulis pada murid-murid saya. Bagi saya kenikmatan mengajar ini sangat penting karena dengan begitu, kita akan berusaha memberikan yang terbaik pada anak didik kita. Dengan rasa seperti itu, kita juga menjalin ikatan batin dengan murid-murid sehingga mereka dapat menikmati proses kegiatan belajar mengajar dengan baik. Jika sudah begitu tentu mereka pun akan berusaha belajar dan menghasilkan yang terbaik. Pengalaman membuktikan jika cara ini berhasil membuat mereka menyerap ilmu dengan baik.

Dibalik semua itu, dengan berkembangnya teknologi yang semakin maju. Pemanfaatan teknologi informasi dalam kegiatan belajar mengajar sangat dibutuhkan. Dalam menulis, murid tentu membutuhkan wawasan dan bacaan yang lengkap untuk menunjang proses kreatifnya. Karena itu dengan adanya akses internet, dengan mudah mereka mencari bahan dan data yang dibutuhkan dalam proses menulis. Apakah itu fiksi dalam bentuk cerpen atau non fiksi dalam bentuk artikel. Dengan wawasan dan data yang mudah didapatkan melalui teknologi informasi ini, murid-murid saya mampu menghasilkan proses kreatif yang lebih baik.

Sebuah ide dalam tulisan tidak akan berkembang menjadi sebuah tulisan yang baik tanpa adanya bahan data yang akurat dan terpercaya. Dengan adanya akses internet yang mudah ini, membuat murid-murid saya bisa memperolehnya dengan cepat, mudah dan akurat. Mereka bisa mencari bahan dan data yang dibutuhkan untuk mengembangkan ide sehingga bisa menghasilkan karya yang memuaskan.

Karena itu, dalam proses belajar mengajar di ekskul Creative Writing, setiap siswa diperbolehkan membawa notebook atau laptop. Beruntung sekolah menyediakan wifi yang menunjang proses belajar kami di sekolah. Sehingga murid-murid saya dapat dengan mudah mengakses internet.

Tidak hanya itu saya juga mengajarkan mereka untuk memanfaatkan sosial media yang ada sebagai media yang positif. Saat ini, memang sebagian besar orang tua, masih kuatir dengan adanya internet dan sosial media. Padahal hal tersebut sangat bermanfaat untuk proses belajar dan mengajar. Hanya saja tentu tetap dalam pengawasan. Artinya murid-murid mengakses internet dan menggunakan sosial media dengan pengawasan guru jika di sekolah dan orang tua jika di rumah. Dengan begitu mereka terhindar dari akses negatif yang kemungkinan memang ada.

Salah satu yang saya anjurkan terutama untuk murid SMA adalah mulai membuat dan berlatih menulis di blog. Mereka membuat blog pribadi dan menulis tentang dunia mereka di sana. Saya melihat mereka sangat menikmati kegiatan blogging ini. Dengan begitu mereka terlatih percaya diri untuk menampilkan karya mereka pada dunia luar. Untuk sosial media yang lain mereka juga memiliki facebook, saya memberikan saran untuk menulis atau berbagi status yang positif serta menganjurkan untuk membatasi pertemanan di facebook. Dan, mulai memanfaatkan note di facebook untuk berbagi tulisan mereka.

Saya merasa, murid-murid memang harus mulai dikenalkan dengan teknologi informasi terutama untuk menunjang proses belajar dan mengajar. Mengapa? Karena mereka lah kelak pelaku teknologi itu sendiri. Mereka bukan hanya sekedar menjadi pengguna kelak tetapi bisa juga mereka yang mengembangkan teknologi informasi untuk lebih maju. Karena itu, sudah saatnya setiap proses belajar mengajar di sekolah memanfaatkan teknologi informasi ini dengan baik.

Setiap mata pelajaran yang ada bisa memanfaatkan teknologi informasi untuk menunjang proses belajar mengajar. Dan, ini yang sangat dibutuhkan di era teknologi yang sudah bergerak dengan pesat. Jangan sampai generasi kita tertinggal jauh dibandingkan generasi bangsa lain. Maka sudah saatnya setiap sekolah dibantu untuk bergerak maju dan memanfaatkan teknologi informasi dengan maksimal. Semua semata untuk memberikan yang terbaik bagi anak didik kita sebagai generasi penerus bangsa. Karena mereka lah penentu kemajuan bangsa kita kelak.



Jumat, 03 Oktober 2014

Etika Menulis Product Review





Etika Menulis Product Review

Sebagai blogger tentu berharap bisa mendapat pesanan menulis product review untuk brand tertentu. Sekarang ini, bisa kita lihat banyak blogger yang telah sukses dipercaya  menulis product review dari beberapa brand. Tentu menyenangkan, selain dapat honor, juga akan membuat kita makin dikenal. Sebetulnya menulis product review tidak terbatas di blog, saat ini banyak brand yang memiliki majalah internal sebagai media promonya. Biasanya jika sudah rezeki, kita tiba-tiba dihubungi untuk membuat tulisan mengenai produk mereka dan dimuat di majalah internal mereka. Itu yang saya alami, tiba-tiba saja saya dihubungi untuk menulis produk mereka.

Gambar di atas adalah tulisan saya tentang produk layanan yang paling berkesan bagi saya. Karena tidak banyak pesan sponsor dari brand bagaimana saya menuliskannya. Buat saya brand yang baik adalah yang memberikan keleluasaan bagi penulis untuk menuliskan produk mereka. Pertama karena mereka ingin kita jujur saat menuliskannya, bukan semata karena kita dibayar dan kedua mereka pun berharap mendapatkan input berharga untuk meningkatkan kualitas produk mereka sepanjang kita menuliskannya dengan jujur dan menggunakan bahasa yang baik. Bukan sebaliknya. Semua itu karena tujuan menulis product review adalah memberikan informasi yang lengkap dan benar sehingga konsumen memahai manfaat dari produk tersebut dan sadar akan manfaat dari pilihannya untuk menggunakan produk itu.

Mengenai isi tulisan, saya rasa sudah banyak yang mengulasnya. Dan, ada beberapa cara menuliskan produk review diantaranya sudah pasti berisi informasi yang lengkap dan benar, jika benda isinya apa, bentuk kemasannya, jika jasa, apa layanannya. Kita juga bisa menuliskan manfaat dari benda dan jasa tersebut. Boleh juga kita masukan saran, atau mungkin kritik (semacam pro dan kontra) Ada juga beberapa brand yang meminta kita hanya menulis yang bagus-bagusnya saja, karena mungkin tujuan mereka murni iklan, jika sudah begini pilihan ada ditangan kita tentunya. Apakah kita mau menerima hal itu atau tidak, saya pribadi memilih menulis apa adanya menurut pemikiran dan perasaan saya karena tulisan yang ditulis dengan kejujuran akan terasa lebih menyenangkan dibaca daripada tulisan yang hanya sekedar melebih-lebihkan. Celakanya jika konsumen mencoba produk tersebut dan mendapat kebalikannya, maka justru menjadi bumerang bagi kita, tulisan kita tidak lagi dipercaya. Karena kita dianggap memberikan informasi yang menyesatkan.

Jadi ada beberapa etika sebetulnya yang bisa kita pegang dalam menulis produk review dan etika ini bisa menjadi posisi tawar kita terhadap brand. Bagi saya, etika ini penting karena saya ingin tulisan saya dipercaya dan tidak ditinggalkan pembaca. Bahkan lebih mengerikan dilecekan, karena sekedar dianggap orang bayaran. Etika yang terpenting adalah kenali dengan baik produk yang mau kita review, salah satunya dengan mencoba memakainya terlebih dahulu. Kemudian gali informasi yang lengkap dan tanyakan berbagai info yang dibutuhkan pada brand. Yang berikutnya adalah, perlu juga bertanya apa yang diharapkan brand dari produk kita. Apa yang mau disampaikan pada pembaca/konsumen. Dan yang terpenting, tuliskan semua dengan jujur. Tulisan yang jujur akan terasa bernyawa karena kita menuliskannya dengan sepenuh hati. Pembaca bisa merasakannya itu dari cara kita mengulasnya. Sertakan juga beberapa gambar  dari produk tersebut agar tulisan kita menarik.

Etika yang berikutnya adalah kita tidak menyinggung brand lain yang menjadi saingan brand yang sedang kita review, tidak menjatuhkan brand tersebut namun juga tidak mengulasnya dengan berlebihan apalagi mengada-ngada. Jadi jangan tulis sesuatu yang tidak benar, tidak ada apalagi menyesatkan. Baca ulang setiap review yang kita tulis untuk memastikan setiap kalimat yang kita tulis tidak akan menimbulkan masalah. Karena bukan sekali kita dengar ada yang berurusan dengan hukum karena hal tersebut di atas.

Yang terpenting dari semua itu adalah gunakan bahasa yang manis, beri judul yang memikat dan teknis menulis yang menarik. Bisa dimulai dengan bercerita mengenai pengalaman pribadi, kebutuhan dan harapan. Dengan begitu tulisan kita tidak terasa semata iklan.


Selamat menulis

Minggu, 28 September 2014

Setiap orang bisa menjadi inspirasi bagi yang lainnya.


Saat dihubungi Republika untuk sesi wawancara dan foto untuk mengisi halaman inspirasi Leisure, saya sedikit tercenung. Sudahkah saya memberi inspirasi pada banyak orang? Namun, saat bbm dari wartawatinya mengatakan, semoga kisah mbak bisa memberikan banyak inspirasi bagi pembaca, ya sudah mengapa tidak. Akhirnya sesi wawancara dan foto saya jalani. Ternyata banyak memang yang bisa saya sampaikan. Semoga saja pembaca Leisure bisa mengambil hikmah dari kisah saya ini.

Kisah saya sebetulnya belum terlalu istimewa, saya hanya pensiunan yang mengambil pensiun dini dan beralih profesi. Saya merasa masih biasa saja karena masih banyak hal yang ingin saya lalukan dan belum semua tercapai.  Saya mendirikan komunitas penulis perempuan yang memiliki kesamaan minat menulis dan membaca atau yang suka menulis. Saat ini membernya sudah ribuan. Saya juga mendirikan media belajar menulis yaitu Writing Training Center, yang sudah diikuti ratusan peserta sejak tahun 2012. Dengan misi menyebar virus menulis. Saya juga membuat program Creative Writing Class, kerjasama dengan sekolah untuk ekskul menulis. Saat ini sudah kerjasama dengan 5 sekolah : SDI Al Azhar Sisingamangaraja, SDIT Nurul Fikri Depok, High Scope Simatupang, Global Islamic School Serpong dan SDI Daar er Salam.

Mungkin, yang menjadi istimewa adalah saya berani keluar dari zona nyaman sebagai dosen untuk mencoba hal yang baru. Mengapa saya berani? jawabannya karena saya memiliki passion. Lagi-lagi passion menjadi hal yang sangat penting. Karena tanpa itu, kita tidak akan menikmati apa yang kita kerjakan. Jika kita menikmati apa yang kita kerjakan, itu akan membuat kita merasa bahagia dan materi akan datang seiringan dengan itu. Semacam berkah dari ketulusan atas apa yang kita lakukan karena kita memberikan banyak hal pada orang lain dengan tulus ikhlas. 

Lalu berbicara mengenai inspirasi sebetulnya setiap kebaikan bisa menjadi inspirasi. karena itu setiap orang bisa  memberikan inspirasi pada sekitarnya. Tidak perlu selalu orang hebat, orang terkenal atau orang yang punya kedudukan. Dari hal-hal kecil, sepele dan sederhana pun kita bisa belajar. Karena menurut kamus, inspirasi adalah dorongan yang mengilhami seseorang untuk berbuat atau melakukan sesuatu. Dorongan yang bisa membangkitkan seseorang untuk berkarya dan maju. Itulah inspirasi.

Saya juga banyak belajar dan terinpirasi oleh keluarga saya, lingkungan saya, teman-teman saya, bahkan teman-teman fb saya, yang saya kenal hanya di dunia maya. Jadi tidak perlu jauh-jauh mencari suntikan semangat. Setiap saat, setiap hari, kita belajar banyak hal dari lingkungan sekitar. Yang kita butuhkan hanya mau bergerak maju agar waktu tidak terbuang percuma. Jika sudah begitu, apa masih ada waktu hanya untuk sekedar mengeluh? 

Mungkin kita pernah terinpirasi oleh semangat ART kita, dengan kesederhanaan dan kerja kerasnya. Ia misalnya melakukan semua itu untuk membiayai anak-anaknya. Atau pemulung, yang tidak pernah mengeluh meski setiap hari bergelut dengan sampah. Atau tetangga kita yang rajin mengaji, atau tukang sayur yang semangat wirausaha. Semua hal, yang ada di lingkungan kita pada dasarnya adalah tempat kita belajar. Itu jika kita ingin belajar banyak hal. 

Semua itu akan selalu membuat kita bersyukur, tidak pernah mengeluh atau selalu berusaha berbuat baik. Hingga kita juga bisa menjadi inspirasi bagi sekitar kita. Minimal anak-anak kita, jika kita ingin anak-anak rajin tentu kita harus rajin, misalnya. Begitu juga terhadap pasangan kita.

Intinya sebetulnya sederhana, jika kita ingin mendapatkan kebaikan, semua harus dimulai dari diri kita sendiri. 

Mari saling menginspirasi. 





Jumat, 26 September 2014

Female Daily Blogger Workshop : Blogger pemula? Siapa takut....





Sabtu lalu, saya mengikuti workshop yang diadakan oleh female daily ini di ArtOtel Jakarta. Agak telat ya, baru sekarang sempat update ceritanya. Kemarin, disibukkan oleh naskah. Sambil bertekad setelah ini harus lebih bisa bagi waktu untuk lebih sering update blog. Kalau bisa minimal 2 hari sekali,amin.

Kemarin saat workshop ada beberapa teman blogger yang ikutan dan sudah lebih dulu menulis ceritanya. Jadi karena sudah ada yang menulis laporan lengkap tentang materi workshop, saya mau bercerita tentang hal yang berbeda, yang sesuai dengan kondisi saya saat ini. Saya belum lama ngeblog, baru beberapa bulan lalu. Ya, ampun masih bayi banget ya. Kemana aja? Ya, maklum lah dulu saya ini manusia offline yang disibukkan oleh pekerjaan rutinitas. Tapi saya tidak kecil hati, masih banyak teman senasib dan tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai hal yang positif. Kemarin, saat workshop, saya ketemu banyak blogger senior tapi ternyata banyak juga yang pemula, bahkan ada yang belum punya blog, bener-bener baru memulai. Kalau mau jadi blogger kapan tepatnya memulai? Mulai sekarang juga, jangan ditunda.


Banyak hal yang bisa dipetik dari workshop ini, nggak rugi deh. Nah, saya mau berbagi cerita apa yang bisa dipetik untuk blogger pemula. Pertama sih, tentu harus tahu dulu kenapa mau ngeblog, apa tujuannya? Dengan memahami itu, kita jadi punya motivasi untuk ngeblog dengan konsisten. Kata kunci yang utama adalah konsistensi, karena tanpa kosistensi kita tidak akan berkembang.

Dan, kita juga memahami jika menjadi blogger itu yang paling utama adalah passion. Kita harus melakukannya dengan hati, dengan tulus, karena hanya dengan begitu kita menemukan kebahagiaan sebagai blogger. Ternyata, awalnya adalah karena bahagia berbagi dan memberi manfaat bagi yang membaca blog kita. Luar biasa ya. Memahami jika "to blog is to connect, create, share and inspire" kita terhubung satu sama lain, menciptakan sesuatu dan memberi inspirasi bagi banyak orang, luar biasa bukan? Itu lebih berharga dari materi.

Namun, percaya jika apa yang kita lakukan dengan tulus akan mendatangkan berkah. Berkah itu adalah menjadi dikenal dan akhirnya mendatangkan uang. Maka"making money from blogging" akan datang dengan sendirinya. Semua blogger yang sudah sukses itu, sudah bisa memperoleh hasil materi dari ngeblog awalnya melakukan semua karena suka bukan semata uang tetapi hasilnya justru uang itu datang. Terlihat sekali kan, berkahnya akan datang sendiri.

Walaupun kita melakukannya karena suka bukan berarti kita kerjakan dengan suka-suka. Kita harus tahu ilmunya dan belajar dari kesuksesan mereka. Kita harus bisa mengoptimalkan blog kita dan mengerjakan dengan profesional. Hingga hasil yang kita capai akan maksimal karena intinya kita juga tidak mau kan, hanya buang waktu percuma. Karena seseorang yang mengerjakan dengan baik akan memperoleh hasil yang baik. Menjadikan blog kita berkembang optimal, kita bahagia mengerjakannya dan memperoleh hasil yang optimal.

Berikut beberapa tips yang bisa dipetik:
1. Membuat blog personal memang tidak ada salahnya tetapi kita harus bisa memilah laman menjadi tematik. Sehingga jelas konten yang mau kita bagikan.

2. Rajin update blog, jangan biarkan pengunjung kembali ke blog kita tetapi tidak menemukan sesuatu yang baru.

3.Buat tulisan yang menarik, memberi inspirasi dan dekat dengan pembaca.

4. Terus konsisten, karena sekali berhenti, kita akan kehilangan banyak hal dan harus memulai dari awal.

5. Jika blog kita terlihat menarik, brand akan datang pada kita. Menurut Simon Torring, Head Content Luxola.Com. Brand tidak mencari blogger senior saja tetapi juga blogger pemula. Jadi jangan kuatir Brand tidak tertarik. 

6. Katakan semua dengan jujur dan apa adanya, karena hal itu yang membuat tulisan kita berjiwa.

7.Jangan pernah kita melakukan copas atau mengambil foto tanpa menyebutkan sumber, sekali melakukan itu, maka kita akan tamat. Tidak akan dihargai.

8. Jalin komunikasi dengan mereka yang sudah memberi komen di blog kita, meski telat, balas komennya atau kunjungi blognya.

9, Promosikan blog kita di semua sosial media yang kita miliki agar kita dikenal.

10. Pelajari semua hal teknis dengan belajar sendiri atau bertanya pada senior.

Begitulah, tips singkat yang bisa saya petik untuk blogger pemula. Jangan takut dan ragu untuk mulai. Mulailah sekarang juga, kerjakan dengan sepenuh hati maka hasilnya akan luar biasa. Salam blogger, 

Selasa, 16 September 2014

Sebuah buku karya anak-anak Dhuafa, mengharukan...




Saat kita ke toko buku, banyak kita temukan karya-karya yang ditulis oleh anak-anak. Sangat menggembirakan. Rasanya senang melihat banyak anak yang suka membaca dan menulis. Saya selalu ajarkan anak-anak saya untuk membaca minimal 2 buku dalam 1 minggu, diluar buku pelajaran sekolah. Karena menurut saya, apa yang mereka baca akan memperkaya jiwa mereka dan itu pun terbukti dengan penelitian ilmiah.

Hanya kemudian kita lihat, hanya anak-anak dari kalangan kelas menengah ke atas yang punya kesempatan untuk bisa menulis dan membaca. Memang kini, sudah banyak Taman Bacaan untuk anak-anak dari kelas bawah. Dan, itu menjadikan mereka hanya sebagai penikmat. Terbatas sebagai pembaca.

Bagaimana jika mereka diajarkan menulis? bagaimana perasaan mereka dan apa hasilnya?

Saya sering memikirkan itu dan percaya atau tidak ternyata apa yang kita pikirkan dengan dalam akan mendapat jalannya. Maka, tanpa diduga saya dihubungi Dompet Dhuafa untuk memberikan kesempatan pada anak-anak dhuafa belajar menulis dan menerbitkan karyanya.

Dompet Dhuafa memiliki Sanggar Literasi yang membawa anak-anak untuk mengikuti field trip lalu menuliskan pengalamannya. Mereka dibawa ke berbagai tempat yang rasanya tidak mungkin mereka kunjungi. Istana Bogor, Kebun Raya Bogor, Senayan City dan lain sebagainya. Jadi saat mengikuti field trip tersebut itulah pengalaman pertama mereka melihat tempat-tempat yang mungkin selama ini hanya mereka dengar atau bahkan bisa jadi mereka belum pernah dengar.

Maka, saat mereka belajar menulis dan sebagai latihan menulis mereka diminta menuliskan pengalamannya saat mengunjungi tempat-tempat tersebut sungguh mengharukan. Saat saya menerima hasil tulisan mereka, memilahnya, mengedit kemudian membukukannya. Rasa haru rasanya tak bisa saya tahan. Mata saya selalu membasah. Ada degup hangat bernama harapan.

Mereka anak-anak yang selama ini tersingkirkan dari segala hiruk pikuk kemajuan modernitas. Jangan tanya mereka menulis dimana, hanya di kertas dengan menggunakan pinsil. Bukan di laptop, notebook atau Tablet seperti anak-anak kita. Entah kekuatan darimana tetapi saya mengetik hasil tulisan mereka sendirian. Begitu bersemangat jika buku ini harus jadi.  

Apa yang mereka tuliskan betul-betul apa yang terlintas di hati mereka. Ada yang menulis jika kebahagiaannya hanya ada di kelas yang ia miliki. Karena sebelumnya sekolah hanya impian, saat mendapat kesempatan sekolah gratis di bawah binaan Dompet Dhuafa, itulah berkah bagi hidupnya. Maka kelasnya adalah menjadi kelas yang ia cintai. Ada yang menulis kecintaan terhadap Indonesia sebagai negaranya, penghormatan terhadap guru dan keinginan berbakti pada orang tua. Mereka tahu betapa orang tua mereka bekerja keras untuk sesuap nasi saja. Mereka bangga terhadap orang tua mereka, meski orang tua mereka hanya sopir angkot, pembantu rumah tangga, penjual asongan dan sebagainya. Mereka bangga dengan apa yang mereka miliki. 

Mereka tetap menggantungkan cita-cita setinggi langit, ingin sekolah tinggi dan sukses. Ingin hidup lebih baik bahkan ada yang ingin punya mall. Meski, ada yang bertanya dengan keheranan terhadap mereka yang kaya tetapi masih buang sampah sembarangan, atau bertanya mengapa harga barang mahal sekali dan mereka tidak punya uang untuk membelinya. Juga keheranan terhadap semua kemewahan yang hanya bisa mereka saksikan saja.

Dan, masih banyak kisah lainnya. Intinya berisi  kepolosan hati mereka, harapan mereka akan masa depan dan mereka tetap bahagia dengan apa yang mereka miliki. Semua itu membuat apapun menjadi berharga. Sesuatu yang mungkin juga tidak pernah terpikir oleh anak-anak kita. Dari mereka lah sesungguhnya kita belajar tentang kehidupan. Oleh karena itu, saya meminta anak-anak saya membaca buku ini. Agar mereka bersyukur dengan apa yang mereka miliki. 

Buku ini dicetak oleh Dompet Dhuafa sebanyak 1500 eks dan diedarkan terbatas untuk sekolah-sekolan binaan Dompet Dhuafa di seluruh Indonesia. Semoga anak-anak yang membaca buku ini memahami jika mereka mampu melakukan apa saja, sepanjang mereka punya kemauan. Harapan selalu ada dimana pun. Setiap orang tidak boleh kehilangan harapan, apapun keadaan mereka saat ini. Karena hanya harapan yang membuat kita tetap bisa berdiri tegak dan tersenyum

Semoga bisa lahir lagi buku-buku lain dari tangan mereka. Semoga ada pihak lain selain Dompet Dhuafa yang tergerak untuk memfasilitasi mereka untuk berkarya. Amin. 


Dan, saya bangga menjadi bagian yang melahirkan karya mereka. 

*resensi buku ini dimuat di harian Republika.














Minggu, 14 September 2014

3 Kisah saat Hamil dan Melahirkan.





Setiap perempuan saat diminta berkisah tentang masa kehamilan dan melahirkan pasti punya cerita berbeda. Persamaannya hanya satu, apapun kisahnya pasti akan diceritakan dengan rona kebahagiaan dan kebanggaan. Bagaimanapun beratnya, sakitnya dan susahnya masa-masa itu, namun tidak ada yang bisa menandingi rasa bahagia. Rasa bahagia itu sulit diungkapkan, segala sakit rasanya sirna. Ataupun kalau merasa  sakit, namun wajahnya tetap berbinar.

Sudah menjadi naluri seorang untuk berkorban demi anaknya sejak awal anak itu bersemanyan dalam rahimnya. Maka, tak heran jika ibu menjadi orang pertama yang harus diingat oleh setiap anak. Dan, kemudian serta merta kita akan ingat ibu kita sendiri. Ingin memeluk ibu terus. Begitulah siklus kehidupan ya.

Nah, kembali ke kisah awal saya. Saya punya tiga putri yang memiliki kisah saat hamil dan melahirkan yang berbeda satu sama lain. Sering saya mendengar betapa mudahnya sebagian ibu hamil dan melahirkan. Entah mengapa itu tidak berlaku untuk saya. Ada yang mudah hamil, dan melahirkan tanpa kesulitan berarti. Kalaupun sakit tapi bisa melahirkan dengan normal. Sedangkan saya harus mengalami operasi sesar 3 kali. Artinya, saya melahirkan 3 putri saya secara sesar. Bukan keinginan saya tetapi kondisi yang mengharuskan begitu. 

Saat hamil anak pertama, saya menjaga kondisi kehamilan dengan sebaik-baiknya. Makanan bergizi dan rutin kontrol ke dokter kandungan. Mengikuti semua saran dokter bahkan sampai langganan majalah Ayah Bunda he he he 

Saat hamil besar saya rajin jalan kaki pagi hari agar lancar melahirkan, ikut senam hamil segala. Semua itu karena saya ingin melahirkan secara normal. Tetapi pada saat menginjak bulannya melahirkan, hanya tinggal menunggu hari. Tiba-tiba bayi di perut saya jadi jarang bergerak. Atau, sekalinya bergerak tendangannya kencang sekali. Saya merasakan hal itu tidak wajar, kemudian saya dan suami menemui Dokter untuk kontrol. Ternyata saat diperiksa, saya tidak boleh pulang. Harus dioperasi sore itu juga karena jantung bayi sudah tidak karuan. Saya takut sekali, suami saya pulang untuk mengambil perlengkapan. Dia juga sangat kuatir, katanya di jalan menangis dan mobilnya hampir menabrak Bajaj. 

Begitulah, akhirnya saya melahirkan bayi pertama kami dengan jalan operasi. Saat itu adalah pertama kali saya menjalani operasi, rasanya takut sekali. Alhamdulillah, semua berjalan lancar dan lahir bayi yang cantik dan lucu. Bahagianya. Ternyata, tali pusat bayi saya pendek. Kurang panjang dari ukuran seharusnya jadi itu yang menyebabkan bayi tidak bisa leluasa mencari jalan lahir. Menurut Dokter, ini kasus yang langka dan penyebabnya belum diketahui secara pasti.

Lalu saat hamil anak kedua, saya ngidam makan mangga. setiap hari bisa menghabiskan 1 kg mangga. Rupanya kandungan protein mangga yang tinggi menyebabkan bisul tumbuh dimana-mana. Saat konsultasi ke dokter, semua bisul bisa diobati dengan salep. Kecuali, 1 bisul yang sudah matang dan bernanah. Itu harus dibersihkan dengan jalan bedah ringan. Dan, karena sedang hamil maka pembedahan itu harus dilakukan tanpa obat bius. Tetapi apa boleh buat, itu harus dijalani kalau tidak infeksi akan makin parah. Maka, dibedah lah saya. tanpa obat bius. Jangan ditanya sakiiiiiiitnyaaaaa......

Alhamdulillah, bayi kedua kami juga lahir dengan selamat dengan jalan operasi sesar juga. Cantik, lucu dan menggemaskan

Lalu saat hamil anak ketiga. Seperti yang pertama dan kedua, saya juga menjaga dengan baik kandungan saya. Rajin kontrol dan makanan yang sehat selalu saya jaga. Namun, saat kehamilan ketiga ini saya hobi jalan-jalan. Main terus kesana kemari. Jadi saat kehamilan menginjak 9 bulan, tiba-tiba ketuban pecah dini. Wah, sakitnya. Kontraksi begitu hebat. Hingga saya pun akhirnya harus segera dioperasi. Alhamdulillah, Allah Maha Besar. Lahir lah putri ketiga kami yang sama cantik, lucu dan menggemaskan. 

Begitulah, kisah saya. Para ibu yang lain pasti punya kisah yang berbeda ya. Hanya saya mengalami 3 kali operasi. Dan, mengalami sayatan dan jahitan di tempat yang sama. he he he 
Satu yang saya syukuri, meskipun saat hamil berat saya naik luar biasa. Bisa mencapai 25kg karena saya memang banyak makan saat hamil tetapi saya kembali ke berat ideal. Pernah mencapai lebih dari 80kg. Kini, setelah anak-anak saya besar, berat saya stabil hanya 55kg saja he he he 


Begitulah ceritanya...
Untuk yang sedang hamil dan yang mau melahirkan, nikmati saja ya. Akan jadi kenangan manis selamanya.





Senin, 08 September 2014

Menanti Buah Hati




Menanti Buah Hati

Saat saya memandang ketiga gadis saya kini, saya selalu ingat bertahun lalu. Saat saya belum memiliki anak. Perjuangan panjang untuk memiliki buah hati pernah saya lalui. Saya menikah saat berusia 25 tahun dan baru memiliki anak pertama saat usia menginjak 29 tahun. Penantian 4 tahun saya lalui dengan berbagai usaha.

Saat baru menikah, saya sudah ingin memiliki anak. Karena saya memang menyukai anak kecil. Saya suka melihat bayi, apalagi perempuan. Terlihat lucu, menggemaskan dan gaya. Namun, waktu berlalu hingga menginjak usia pernikahan satu tahun, belum ada tanda kehamilan. Saya mulai gusar, saat banyak teman sudah hamil, melahirkan dan menggendong anak. Saya menengok setiap ada teman yang melahirkan sambil berharap saya ketularan hamil.

Tetapi sampai tahun kedua, belum juga ada tanda-tanda itu. setiap mendapat tamu bulanan, rasanya hati sedih. Akhirnya setelah berbicara dari hati kehati dengan suami dan dorongan memiliki anak begitu kuat, kami memutuskan untuk mendatangi dokter kandungan.

Serangkain pemeriksaan pun dilakukan. Kesimpulan dokter kami berdua kurang subur jadi tidak ada sel telur yang bisa dibuahi. Sel telur cepat sekali hancur sebelum bisa dibuahi. Penyebabnya bisa karena lelah, karena makanan atau beberapa faktor lainnya. Dokter memberi kami vitamin dan obat penyubur. Beberapa bulan lamanya , kami meminum obat-obatan dari dokter tetapi tetap belum membuahkan hasil. Hingga kami memutuskan untuk menghentikan meminum obat-obatan tersebut karena kuatir efek samping jika meminumnya dalam jangka waktu panjang.

Dokter menyarankan kami mengikuti program inseminasi jika ingin cepat hamil. Suami saya tertawa, katanya dulu ayahnya memelihara ikan dan sering melakukan inseminasi pada ikan, agar ikan cepat bertelur. Saya ikut  tertawa. Setelah kami pikirkan masak-masak, kami memutuskan untuk tidak mengikuti saran dokter tersebut. Selain karena biaya yang cukup mahal, faktor keberhasilannya juga kecil sekali. Bahkan kami kemudian memutuskan untuk berhenti menemui dokter, rasanya lelah juga bolak balik ke Rumah Sakit.

Suami saya mengajak saya untuk pasrah pada Allah, memperbanyak doa dan zikir. Mungkin kita memang belum dipercaya untuk mendapat amanah itu, katanya. Akhirnya saya mengikuti saran suami saya. Pasrah dan tidak stress. Saya jadi lebih santai melewati hari-hari tanpa anak. Menghabiskan waktu berdua suami saat akhir pekan. Pacaran terus. Walaupun, bete juga setiap kali bertemu siapa saja, mereka selalu bertanya, anaknya berapa? sudah hamil? oh, belum ya....he he he tapi ya,sudah santai saja, menjawab dengan senyum, belum dikasi sama Allah...

Namun, saking rindunya saya untuk menyalurkan naluri keibuan saya. Seringkali saya meminjam anak batita Om saya, yang memang usia istrinya tidak terpaut jauh dari saya. Saya ajak menginap di rumah saya, dan saya rawat seperti anak sendiri. Saya bawa jalan-jalan, sampai orang mengira itu anak saya. Bahkan saya meminta ia memanggil kami,  Mami dan Papi. Lucu ya....

Dan, tanpa disangka saya kemudian hamil. Rasanya tidak percaya, hingga saya melihat hasil USG. Memang ada bayi dalam kandungan saya. Kami menangis bahagia. Akhirnya Allah menjawab doa-doa kami. Bayi yang lahir anak perempuan yang lucu sekali. Cantik dan menggemaskan. 

Awalnya, saya hanya meminta satu anak saja pada Allah. Jika diberi lebih Alhamdulillah. Namun selang 3 tahun kemudian saya hamil kembali, Kali ini tanpa usaha apa-apa. Dan, kehamilan yang ketiga malahan tidak diduga sama sekali. 

Begitulah, kini ketiga gadis kami membuat hidup kami sangat bermakna. Allah memang maha kuasa jika sudah berkehendak. Jadi, bagi pasangan yang belum dikaruniai anak, jangan pernah berhenti berharap ya. 

*foto bayi anak kedua saya.











Kamis, 04 September 2014

Review buku 101 Perempuan Berkisah

Pernahkah anda membayangkan bagaimana jika 101 perempuan berkisah tentang perempuan?

Sejak lama perbedaan gender selalu menjadi pembicaraan hangat. Dikupas dan diulas dari berbagai sudut pandang. Beragam definisi dan teori pun bermunculan. Berbagai paradigma bisa jadi berkembang kemudian semua itu mempengaruhi pola pikir dan pola hidup. Atau, bisa jadi kebalikannya.  Apa yang terjadi dalam masyarakat menimbulkan paradigma baru.  Apapun itu, hanya satu yang pasti perempuan adalah makhluk unik yang memiliki peran luar biasa dalam kehidupan.

Semua lelaki lahir dari rahim seorang perempuan dan hampir semua lelaki punya istri seorang perempuan dan sebagian dari lelaki punya anak perempuan. Mungkin, itu yang menjadikan perempuan demikian istimewa. Istimewa dan dihargai sedemikian rupa hingga surga dibawah telapak kaki seorang ibu. Perempuan seringkali dikonotasikan lemah padahal ia demikian kuat, bahkan lebih kuat dari lelaki. Banyak kisah membuktikan itu. Banyak perempuan mampu melakukan hal yang luar biasa, yang kadang mungkin di luar nalar.
Bukan berniat membandingkan, bukan berniat mengukuhkan siapa lebih kuat dan bukan juga hendak bicara soal kesetaraan. Kami hanya ingin bicara soal hidup dan kehidupan. Soal cinta sejati yang tak perlu dipertanyakan. Soal pemikiran yang harus dipahami, soal menghargai yang paling sejati. Soal apa yang paling penting dalam hidup ini, soal bagaimana kekuatan cinta mampu membuat seseorang mampu menghadapi badai sehebat apapun.

Dalam puisi, dalam kisah, dalam cerpen dalam opini, semua tersirat dan tersurat. Kata-kata yang kami rangkai dalam kalimat sepenuh jiwa. Siapapun yang membaca akan mampu mengurainya. Betapa dalam, betapa teduh dan betapa luar biasa. Mungkin anda tak pernah menyadari semua itu, sebelum membaca buku ini. Maka, buku ini akan membuka mata hati anda yang terdalam akan semua yang selama ini luput dalam pemikiran anda. Kami hanya ingin menyentuh hati anda dan membuat anda terhenti lalu mengubah presepsi anda tentang yang sejati.
Lihatlah yang terdekat dalam hidup anda, lihatlah sekitar anda. Bukan hanya lelaki tetapi apakah kita yang juga perempuan memahami diri kita, memahami perempuan yang dekat dengan kita dan memahami perempuan di sekitar kita. Lihatlah, siapa yang beruntung? kita semua. Kita beruntung dilahirkan sebagai perempuan. kita hanya perlu lebih memahami diri kita. Cinta dan kasih yang ada dalam diri kita, yang mungkin selama ini tersimpan tanpa kita sadari. Anda dan saya adalah kita.

Untuk itu lah buku ini hadir. Mengetuk hati kita semua. Banyak hal terkadang tidak kita hargai padahal hal yang terlihat kecil atau sepele itu sesungguhnya luar biasa. Percayalah, anda akan tersentuh. Anda akan terharu. Mata anda akan berkaca, hati anda akan terasa hangat. Dan, anda akan menjadi berbeda dalam melangkah. Mungkin, setelah ini anda tak akan alpa hanya sekedar menelpon ibu anda atau secara berkala menyempatkan menengoknya meski berbagai kesibukan membuat waktu anda seolah tak lagi tersisa. Mungkin setelah ini, setiap pagi dan malam, anda tak akan pernah lupa memeluk istri anda. Tak hanya sekedar  bertanya soal uang belanja. Mungkin setelah ini, anda selalu menyempatkan bercengkrama dengan anak gadis anda. Mungkin juga setelah ini, anda memandang asisten rumah tangga di rumah, mbok sayur, penjual jamu gendong, dan perempuan lainnya yang berjuang dengan caranya itu, menjadi lebih manusiawi. Semoga....

Kami dalam 101 perempuan berkisah hendak bicara pada anda. Semoga anda terima. Nantikan segera buku ini akan hadir di toko buku, di seluruh Indonesia.
Kami bicara dengan hati. Semoga anda semua terima sepenuh hati. Bisa memesan secara online atau tunggu kehadiran kami di toko buku.
Dalam cinta, kami bicara. Semoga hangatnya bisa terasa ke seluruh mereka yang memiliki hati
salam
101 Perempuan Berkisah

Jumat, 20 Juni 2014

Pentingnya "Second Opinion" saat mengalami masalah kesehatan

Pentingnya "Second Opinion" saat mengalami masalah kesehatan

Saat sehat memang harus disyukuri karena begitu kita mengalami masalah kesehatan, tentu sangat tidak menyenangkan. Apalagi bagi seorang ibu, saat anak sakit adalah saat yang paling membuat kita sedih. Tetapi begitulah, tidak ada yang sehat terus. Semua pernah mengalami sakit, baik terkena penyakit atau mengalami kecelakaan. Bagi seorang ibu seperti saya yang memiliki tiga orang anak, tentu sudah beragam pengalaman dalam menangani anak sakit. Kadang bergantian, sembuh satu, yang satunya sakit. Karena itu mungkin mengapa seorang ibu, selalu merasa sehat, kalau pusing-pusing sedikit, flu sedikit, diare sedikit, nggak pernah dirasa. Karena ia harus selalu sehat untuk anak-anaknya.

Kejadian seperti itu belum lama saya alami, bulan kemarin anak bungsu saya bolong kedua giginya, gusi kiri dan kanan, jadi kita bolak balik ke dokter gigi sepanjang bulan kemarin. Setiap minggu untuk merawat gigi bolongnya yang bengkak, sembuh bengkaknya lalu ditambal. Jadinya setiap malam mingguan kita ke dokter gigi. Alhamdulillah selesai juga. Giginya sudah nyaman dipakai untuk makan.

Gnatian awal bulan ini hingga sekarang belum tuntas, anak sulung saya. Nah, pengalaman ini yang mau saya ceritakan. Jika sebagai pasien kita harus cerdas. Tidak langsung percaya saran yang diberikan dokter, tetapi berpikir apakah saran tindakan itu betul atau tidak. Apakah masuk akal atau tidak, apakah memang harus seperti itu penanganannya? apakah itu tepat dilakukan? Apakah itu menyembuhkan atau bahkan malahan memperburuk. Itu mungkin gunanya kita mencari second opinion sebelum menyetujui tindakan yang tepat untuk menangani masalah kesehatan yang kita alami. Dengan begitu kita punya pertimbangan, mana yang harus kita setujui. 

Karena kita sebagai pasien punya hak untuk itu, yang dilindungi oleh undang-undang. Jika kita harus mendapat informasi yang tepat tentang masalah kesehatan yang kita alami. Mendapat penjelasan kenapa tindakan itu harus dilakukan dan apakah ada resiko dengan tindakan yang disarankan itu. Karena itulah kita harus menandatangani surat persetujuan jika memang kita setuju. Nah, sebelum setuju, cari tahu dengan jelas hingga kita yakin langkah yang kita ambil benar. Jangan sampai kita menyesal dan malahan menjadi korban malpraktek.

Ini pengalaman yang baru saja saya alami. Anak sulung saya mengeluh ada mata ikan di telapak kakinya. Awalnya kecil, saya beli obat bebas untuk mata ikan di apotik. tetapi tidak mempan, mata ikan itu malahan membesar dan beranak. Ada sekitar 2 titik yang besar dan 3 titik yang kecil. Total 5 titik. Akhirnya karena membesar dan kelihatan berakar, saya membawa ke Rumah Sakit A menemui dokter bedah X. setelah diperiksa, ia menyarankan untuk mengangkat ke 5 titik mata ikan itu sekaligus. Dan, karena sekaligus maka harus dilakukan standar operasi kategori sedang. Artinya dibius setengah badan di ruang operasi dan setelah itu harus rawat inap. 

Saya tertegun, masa mata ikan saja harus ditangani seserius itu. Dan, biaya yang dibutuhkan untuk tindakan operasi sekitar 6 juta, kalau rawat inap beberapa hari, saya taksir sekitar 10 juta. Saya masih bertanya pada dokter tersebut, ini kan hanya mata ikan, harusnya hanya bedah ringan. Karena saya juga pernah mengalami saat kuliah dulu, ada mata ikan, cukup dibedah ringan. Tetapi ia tetap menyatakan bahwa sarannya tepat. Saya tentu menolak. Saya menelpon suami saya, dan kami sepakat untuk datang ke rumah sakit yang lain.

Akhirnya saya membawa anak saya ke rumah sakit B, menemui dokter bedah Z. Dan, ia menyarankan cukup 2 mata ikan yang besar, yang tumbuh berdekatan yang dibedah ringan, untuk yang kecil-kecil cukup diberi obat saja. Singkatnya, 2 mata ikan anak saya hanya dibedah ringan, di ruang dokter. Tidak di ruang operasi. Dibius lokal lalu dibedah. Sekitar 15 menit saja selesai diangkat. Memang lumayan besar, sudah masuk kedalam. Dokter itu mengangkat hingga keakarnya. Setelah itu pulang, 3 hari kemudian datang untuk mengganti perban dan seminggu setelah itu datang kembali untuk mengangkat benangnya. Biaya yang saya keluarkan untuk dokter, tindakan bedah ringan dan obat sekitar 2 juta saja. 

Pengalaman itu membuat saya merasa jika mencari "second opinion" untuk masalah kesehatan yang kita alami sangatlah penting. Kalau perlu kita mencari sumber informasi dari internet juga. Agar kita yakin jika kita mendapat penanganan yang tepat. Terutama untuk anak-anak kita. Dan, dana yang kita keluarkan memang dana yang sesuai dengan apa yang seharusnya. 





















Selasa, 17 Juni 2014

Perempuan dan gaya hidup


Derrida (Derridean)
Mempertajam fokus pada bekerjanya bahasa (semiotika) dimana bahasa membatasi cara berpikir kita dan juga menyediakan cara-cara perubahan. Menekankan bahwa kita selalu berada dalam teks (tidak hanya tulisan di kertas, tapi juga termasuk dialog sehari-hari) yang mengatur pikiran-pikiran kita dan merupakan kendaraan untuk megekspresikan pikiran-pikiran kita tersebut. 






Perempuan dan gaya hidup

Mungkin terlalu berat jika mengutip Derrida untuk tulisan ringan ini, tetapi hal yang berat juga bisa dibuat ringan, tergantung darimana sudut pandang kita memahaminya. Saya mencoba memahami secara sederhana jika kata-kata yang keluar dari pemikiran dan ungkapan perasaan perempuan itu luar biasa. Mengapa? karena bisa membawa perubahan paradigma berpikir banyak perempuan lainnya. Apa yang tertuang dalam sebuah tulisan tidak hanya di atas kertas tetapi bisa  mempengaruhi kehidupan itu sendiri.
Perempuan sebagai individu, sebagai istri dan sebagai ibu, sebuah peran yang hampir bisa dipastikan mampu menggerakkan dunia.  Dengan segala aspek kehidupan yang terus bergerak. Segala nilai yang kadang berbenturan. Lalu dimana sesungguhnya terletak peran perempuan itu? apakah hanya bermanfaat untuk dirinya dan keluarganya saja? tanpa keluar dari ruang privat dan domestik?
Saya merasa sudah saatnya perempuan saling berbagi cerita, berbagi rasa dan berbagi pemikiran. Karena dari situ lah kita bisa saling belajar. Bisa lebih memahami banyak hal. Terutama memahami perannya yang utama dan menjadi filter berbagai nilai yang masuk bagi keluarganya. Hingga berbagai nilai yang negatif dapat tertangkal dan hanya nilai positif yang bisa masuk. Memang sudah banyak perempuan yang melakukan ini tetapi alangkah luar biasanya jika lebih banyak lagi yang bisa melakukannya. 
Jadi dapat dikatakan jika gaya hidup itu bisa digerakkan oleh perempuan. Bagaimana memandang sesuatu, bagaimana memanfaatkan sesuatu sesuai dengan manfaatnya, bagaimana memilih sesuatu dengan tepat, dan lain sebagainya. Banyak hal yang bisa digali, banyak hal yang bisa diungkapkan dan banyak hal bisa dibagi. 
Hal tersebut juga membuat kita terus belajar dengan menggali berbagai sumber, membaca dan memahami sesuatu dengan benar. Hal itu juga membuat kita lebih hidup karena kita aktif berpikir. Dan semua itu tentu makin membuat kita dewasa dalam berpikir sekaligus memahami hidup dengan lebih baik. Kita bisa tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri karena kita memiliki banyak hal yang bisa kita bagikan pada sesama perempuan. Bukankah itu luar biasa? 
Karena itu banyak sekali yang bisa kita tuangkan dalam tulisan, terlepas itu hanya tulisan ringan, sederhana atau mungkin ulasan yang lebih dalam. Kita bisa menulis apa saja yang kita rasa itu memberi manfaat bagi sesama perempuan. Bagaimana caranya? untuk itu kita perlu belajar dengan tepat, bagaimana membuat tulisan yang baik sekaligus memberi manfaat.
Bagaimana pembaca dapat menangkap pesan yang ingin kita sampaikan dan bagaimana agar tulisan kita itu menarik saat dibaca. Pembaca bisa menikmati tulisan kita sekaligus bisa menangkap pesan yang ingin kita sampaikan. Apa saja yang bisa kita tuangkan dalam tulisan dan bagaimana agar ide terus mengalir. Termasuk bagaiamana merangkai kata dan kalimat dengan baik.
Semua itu bisa kita pelajari, dan kali ini editor dari salah satu majalah wanita ternama akan berbagi ilmunya untuk kita semua. Karena itu, ini adalah kesempatan manis untuk berkembang. Mencoba hal baru, atau bagi yang sudah suka menulis tentu lebih membutuhkan tambahan ilmu. Belajar adalah vitamin yang akan menutrisi kita untuk bisa berkembang dengan lebih baik. Seseorang yang berhenti belajar maka sesungguhnya dia berhenti berkembang,
Apalagi yang didapat? tentu reward yang luar biasa karena nama kita juga akan dikenal dan honor akan mengalir ke rekening kita. Bisa membuat kita lebih berdaya, produktif dan pastinya memberi manfaat untuk keluarga kita.
Maka, terlalu sayang kan jika kesempatan ini dilewatkan. Perempuan dan gaya hidup adalah bagian yang tidak terpisahkan. Persis seperti kata Derrida yang saya kutip di atas.

Mengalir bagai mata air, bergulir bagai bola salju. Tulisan akan tiba pada tempat dan saat yang tepat











Sabtu, 14 Juni 2014

Mengajar itu Membahagiakan

Mengajar itu Membahagiakan


Mengajar adalah seni, keterampilan dan ilmu pengetahuan yang dapat dilatih serta dipelajari.


Sejak kuliah saya suka mengajar. Awalnya karena banyak teman yang bertanya dan minta diajari. Dari situ tumbuh rasa suka berbagi ilmu. Hingga akhirnya saya mengajar di lembaga kursus dan les privat Bahasa Inggris. Saya merasa bahagia jika bisa membuat seseorang memahami apa yang saya ajarkan dan jika ilmu yang saya berikan bermanfaat bagi mereka. Rasa itu sudah tumbuh hingga semua saya lakukan dengan perasaan senang. Apalagi kalau saat dapat honor, tentu lebih bahagia lagi.

Mungkin sudah perjalanan hidup jika kemudian begitu lulus saya ditawari mengajar di almamater saya. Dan, terlebih yang meminta saya menjadi asisten dosen adalah Dekan saya sekaligus pembimbing skripsi saya, yaitu Prof. Riris K. Toha-Sarumpaet, M.Sc., Ph.D, yang saat ini menjadi salah satu Profesor Sastra di Universitas Indonesia. Beliau adalah dosen yang saya kagumi. Maka tentu saya menerima tawaran itu dengan rasa bahagia. Selama satu tahun, saya menjadi asisten Ibu Riris, sekaligus saya menimba banyak ilmu dari beliau. Sosok beliau tidak pernah saya lupakan hingga kini. Kami menjadi sangat akrab, saya sudah seperti anak bagi beliau. Saya tidak pernah lupa, saat saya menikah beliau datang dengan hadiah istimewa yang sampai saat ini masih saya simpan.

Hingga kemudian saya mengabdi sebagai dosen, tidak hanya di almamater saya tetapi juga di beberapa Universitas lainnya. Terlibat dalam berbagai penelitian dan kegiatan di kampus sungguh menyita waktu. Dan, saya menjalaninya dengan rasa bahagia. Menjadi bagian dalam hidup saya, di antara hidup saya yang utama sebagai istri dan ibu. Tanpa terasa semua berlangsung dalam kurun waktu yang lama, hampir 23 tahun lamanya. Waktu berjalan, hingga saya mengenal dunia menulis lewat pertemanan di dunia maya. Itulah, yang membuat saya memutuskan pensiun dini sebagai dosen tahun lalu. Saya memutuskan untuk menggeluti dunia menulis menjadi dunia baru saya. Saya tinggalkan kampus dan bekerja dari rumah. Mulai menulis.

Namun, dunia mengajar terlalu lekat dalam darah saya. Hingga saya tidak bisa berhenti. Karena itulah, saya mendirikan Writing Training Center. Bersama beberapa teman penulis lainnya, saya mengelolanya. Mengadakan pelatihan menulis secara online maupun offline. Bahagia bisa memberikan jalan bagi banyak orang untuk belajar dan mulai produktif menulis. Buku dan menulis manjadi bagian dalam hidup saya sejak lama sebetulnya. Saat menjadi dosen, saya juga menulis.

Ternyata membaca dan menulis masih merupakan masalah bagi Indonesia. Kita jauh tertinggal di banding negara lain. Berdasarkan hasil survey, di Indonesia perbandingan yang suka baca 1:1000. Jadi di antara 1000 orang hanya 1 orang yang suka membaca. Sementara Malaysia saja 1;2. Jadi diantara 2 orang, 1 yang suka membaca. Sungguh memprihatinkan. Karena itulah, saya tergerak untuk menebarkan virus menulis pada anak-anak di sekolah. Karena itu, kami menawarkan program ekskul menulis kreatif pada sekolah-sekolah. Untuk langkah awal kami coba wilayah Jabodetabek. Dan, beberapa sekolah tertarik untuk bekerja sama. Rasanya bahagia bisa menumbuhkna minat baca tulis pada anak-anak.

Kami sudah memiliki program lengkap sap silabus dan modul. Manfaat membaca dan menulis bagi anak sungguh luar biasa. Membuat anak tumbuh lebih kreatif. Karena dilatih untuk menemukan ide dan berimaginasi. Dari kegiatan ini, terbentuk juga karakter yang positif. Anak terbiasa mencari tahu berbagai hal, berpikir lalu menuliskan apa yang ia rasakan dan pikirkan. Kebiasaan seperti ini tentu sangat baik bagi anak-anak secara akademik, yang akan terbawa hingga dewasa. Kami juga mengundang sponsor untuk bekerja sama memberikan pelatihan gratis bagi sekolah dhufa.

Program kami juga dilengkapi dengan program Training the Trainers. Yaitu pelatihan untuk menjadi trainer. Sebelum teman-teman diajak untuk mengajar di program ekskul, mereka bisa mengikuti pelatihan ini. Untuk belajar tentang metode mengajar, berkomunikasi yang tepat dalam mentransfer ilmu, bersikap yang tepat sebagai pengajar, cara berpikir sebagai pengajar dan praktek mengajar sekaligus menguasai materi ajar. Setelah pelatihan, teman-teman diberi kesempatan untuk berlatih sebelum terjun sebagai pengajar yaitu magang atau asistensi.

Semua itu berawal dari kecintaan saya terhadap dunia mengajar karena mengajar membuat saya bahagia. Karena yang diajar juga merasa bahagia. Kebahagiaan yang ditularkan lewat dunia belajar dan mengajar. Karena itu untuk bisa mengajar tidak perlu banyak syarat, cukup kemauan. Yaitu kemauan untuk belajar tiada henti. Karena proses itu yang membuat seorang pengajar makin berisi. Kemauan untuk mau memulai dan menjalani semua proses akan menjadikan sesorang menjadi pengajar yang profesional.


Mari berbagi untuk anak bangsa. Mengajar adalah kerja nyata, sumbangsih nyata bagi bangsa ini.
Yang berminat menjadi trainer, teamwork atau mau kerjasama sila hub saya di akun fb deka amalia ridwan atau mention twitter@dekamalia
















Jumat, 02 Mei 2014

Sebuah kata bernama “ Pendidikan” ada ditangan kita semua.


Setiap tahun di awal bulan Mei, kita membicarakan dunia pendidikan. Serta merta kita bicara tentang itu dan setelah itu kembali terlupakan. Kita juga melihat yang berwenang masih berjalan di tempat bahkan membuat kita nyaris frustasi. Sistem yang berjalan dinilai makin tidak jelas. Banyak hal yang perlu diperbaiki, tentu. Belum lagi berbagai kekerasan yang terjadi, hingga memakan korban. Semakin membuat kita menangis.

Meski kita juga tidak bisa menutup mata jika ada juga yang masih memiliki idealisme, baik guru dan sekolah. Ada di antara mereka yang berjuang untuk tetap menegakkan pendidikan yang sebenarnya. Pendidikan yang mengatasnamakan masa depan. Ingat, anak adalah yang bernama masa depan. Di tangan mereka lah kelangsungan sebuah bangsa berada. Ada sebagian dari mereka yang berusaha berjalan dengan idealisme seperti itu.

Sesungguhnya saya tidak hendak bicara tentang itu. Saya hanya ingin bicara atas nama dimana saya berada, yaitu seorang ibu dengan tiga orang putri yang mengenyam pendidikan selama ini. Saat ini mereka duduk di kelas 2 SMA, 3 SMP dan 5 SD. Karena itu, saya hanya ingin berbagi pengalaman bagaimana sikap saya dalam mendampingi anak-anak saya bersekolah. Nyaris telah berlangsung hampir 14 tahun lamanya. Waktu yang cukup lumayan. Karena itu ijinkan saya berbagi, semoga yang membaca tulisan saya ini bisa mengambil hikmahnya. Terutama ibu-ibu muda yang saat ini semakin galau dengan perkembangan dunia pendidikan.

Semua tahu rumah pertama bagi anak-anak adalah rumah dimana orang tua berada. Dengan segala daya orang tua berusaha memberikan yang terbaik, situasi rumah yang nyaman, gizi yang cukup, mainan yang pantas, dan kenyamanan lainnya. Kita sebagai orang tua berusaha memberikan yang terbaik termasuk memilih sekolah yang tepat menurut kita, yang cocok untuk anak-anak kita. Setelah itu kita menempatkan sekolah sebagai rumah kedua mereka. Guru di sekolah adalah orang tua kedua mereka. Kita yakin itu, percaya itu maka jika sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi, betapa kecewa dan sakitnya. Kita berharap guru dan sekolah memberikan perhatian yang sama besarnya seperti anak-anak kita saat berada di rumah.

Pendidikan memang ada di tangan kita semua, pemerintah, sekolah, masyarakat dan orang tua. Seharusnya kita berjalan bersama karena pendidikan adalah hal terpenting bagi seorang anak. Namun, siapa sebetulnya dari semua itu yang paling utama ada di garis depan pendidikan seorang anak? Jawabannya hanya satu, kita, orang tua mereka. Karena hanya kita lah yang paling mengenal anak kita, yang paling dekat dan tentu yang paling mencintai mereka dengan segala jiwa raga. Karena itu, teman. Jangan kita lepas tangan, jangan kita serahkan pendidkan anak kita 100 % pada sekolah, sehebat apapun sekolah itu, kita harus terlibat di sana, jangan hanya sekedar membayar uang sekolah, jangan hanya datang saat diundang. Terutama saat masa-masa emas anak kita yaitu saat TK dan SD. Karena setelah SMP, SMA dan Universitas kita sudah bisa berkomunikasi lewat anak kita.

Inilah yang saya lakukan saat mendampingi anak-anak saya bersekolah. Sebelumnya mohon maaf, saya tidak merasa sudah hebat, juga tidak merasa telah melakukan yang paling tepat, atau juga tidak merasa sudah melakukan yang terbaik. Saya yakin banyak ibu-ibu lain yang melakukan hal yang lebih hebat, lebih baik atau lebih tepat. Saya hanya ingin berbagi dan ini yang terbaik yang bisa saya lakukan, sesuai dengan kondisi saya dan anak-anak saya.

Sejak awal menikah saya memang sudah bertekad untuk tidak bekerja full time. Karena itu saat ditawari menjadi dosen, saya senang luar biasa. Karena dengan begitu, saya lebih bisa mengatur waktu lebih banyak untuk anak-anak saya. Tetapi bukan berarti seorang ibu yang bekerja full time tidak bisa melakukanya, meski tentu dengan waktu yang lebih terbatas. 

Berikut yang saya lakukan saat mendampingi anak-anak bersekolah.

  • Saya selalu berusaha berkomunikasi dengan anak saya setiap hari. Menanyakan apa yang terjadi di sekolah, pelajaran apa, main sama siapa, makan apa dan lainnya. Hingga kadang tanpa ditanya, mereka sudah memberikan laporan. Ini menjadi bahan diskusi kami setiap hari.
  • Saya selalu menekankan pada anak-anak, bahwa tak ada satu orang pun yang berhak melakukan kekerasan pada mereka, tidak teman, guru atau siapapun itu. Karena itu, mereka harus bisa membela diri dan berani bersikap jika ada yang berlaku tidak pantas padanya. Dengan begini kita membekali anak naluri membela diri sejak dini.
  • Setiap ada kesempatan datang ke sekolah, saya selalu menemui guru anak saya. Hampir setiap minggu ini saya lakukan, hanya sekedar bertanya apa kabar atau sambil lalu menanyakan perkembangan anak saya. Dengan seringnya menjalin komunikasi saya jadi bisa memberikan masukan, baik pemikiran, ide-ide dan lainnya tentang pelajaran, sistem atau apa saja yang dirasa perlu.
  • Setiap kali ada acara sekolah, baik merayakan hari besar, karyawisata atau apa saja, saya selalu menawarkan bantuan sukarela, tidak selalu berbentuk materi, lebih sering saya membantu tenaga untuk mengerjakan apa yang dibutuhkan. Kedekatan ini membuat saya bisa bicara akrab dengan pihak sekolah, sambil memberikan berbagai saran dan masukan yang dirasa perlu. Dengan begitu, pihak sekolah lebih bisa menerima.
  • Saking seringnya hadir dan berbicara di rapat, akhirya saya menjadi wakil ketua POMG bahkan untuk periode berikutnya menjadi Ketua POMG. He he he tidak harus sih terlibat sedalam ini, minimal jika ada rapat orang tua murid dengan sekolah, kita hadir. Mendengarkan dan memberikan masukan. Intinya menjalin komunikasi itu penting.
  •  Jangan bersikap seperti menjalin bisnis dengan sekolah,  kita bayar dan kita  berhak mendapat pelayanan. Materi sesungguhnya tidak berarti jika dibanding dengan pendidikan yang ditanamkan pada anak kita, terlepas murah atau mahalnya biaya sekolah. Semua cuma hitungan angka sementara anak kita tentu lebih dari sekedar angka. Karena itu kenali guru anak kita, kenali pihak sekolah dan kenali semua yang ada di sekolah. Saya bahkan kenal dengan satpam, OB dan tukang kebun. Tahu saat ada istri satpam melahirkan, lalu saya galang orang tua memberikan hadiah. Tahu saat ada OB yang anaknya meninggal, lalu kita datang kerumahnya berbela sungkawa. Jalinan seperti itu yang harus kita jalankan jika menganggap sekolah adalah rumah kedua bagi anak kita. 
  • Mungkin ada yang bersekolah di sekolah yang besar hingga terlalu sulit melakukan itu. Rasanya tidak, saat ini saya mengajar ekskul di salah satu sekolah mahal di Jakarta, saya hafal OB yang bertugas di lantai tempat saya mengajar, saya juga tahu satpam yang ada di lobby depan. Jadi sesungguhnya sebagai orang tua kita bisa mengenal mereka yang ada di lingkungan anak kita sekolah.
  • Saat menjadi Ketua POMG, saya superaktif. Mengadakan berbagai event besar di sekolah. Mungkin tidak harus seperti saya, yang mau saya tekankan, kita mempunyai kewajiban berkontribusi dengan sekolah, terlepas kecil beasarnya kontribusi itu. Karena itu mungkin setiap sekolah diwajibkan memiliki kepengurusan POMG atau yang dikenal dengan Komite Sekolah saat ini. Karena ada ditangan kita semua sebuah pendidikan itu berlangsung. Jika tidak bisa berbuat lebih besar, mulailah dengan tempat dimana anak kita bersekolah. Jika tidak bisa terlibat sebagai pengurus tetapi berusaha hadir setiap diundang rapat.
  • Melihat pelajaran anak-anak yang super saat ini karena banyak sekali pelajarannya. Setiap pelajaran kadang ada 2 buku. Beban anak-anak kita saat ini memang besar. Mereka harus mampu memahami banyak hal. Itulah yang terjadi saat ini. Bagaimana menyikapinya? Saya menanamkan jika ujian itu karena belajar bukan belajar karena ujian. Dengan begitu anak-anak tidak merasa terbebani karena belajarnya setiap hari. Sedikit tidak apa-apa, sebentar tidak apa-apa, yang penting ada yang mereka pelajari setiap hari.
  • Saat SD, saya masih mendampingi mereka belajar, namun begitu SMP dan SMA, saya ajarkan mereka mandiri dan bertanggung jawab terhadap pelajarannya. Mereka terbiasa membaca dan membuat rangkuman, hal itu membantu dalam belajar.

Begitulah, usaha saya sebagai seorang ibu. Berusaha memberikan yang terbaik. Saya merasa masih jauh dari sempurna. Saya hanya berusaha sedekat mungkin dengan anak saya dan sekolah dimana saya menitipkan anak hampir sepanjang hari. Karena, kebetulan anak saya sekolah di full day school. Dari jam 7 pagi hingga jam 16 sore. Alhamdulillah, dengan segala pencapain anak saya saat ini, saya bersyukur.
Demikian, teman. Semoga bermanfaat ya. Amin
Salam ORTU!!! He he he

Catatan: Jika ingin melakukan perbaikan mulailah dari diri sendiri. Jika ingin berbuat, lakukan lah meski sekecil apapun karena mengkritik adalah pekerjaan paling mudah.