Minggu, 03 Desember 2017

Punya penghasilan dari menulis? Tentu bisa.


26 Tahun Menulis Artikel.
Dulu waktu saya muda he he he he...
Orang yang menulis artikel sangat terbatas sekali. Hanya mereka yang bekerja di dunia pendidikan, periklanan dan berita (koran atau majalah)
Pengalaman saya menulis artikel dimulai 26 tahun lalu. Ya Allah, lama ya. Menyadarkan saya jika saya sudah tua. Wk wk wk wk wk....
Tapi semua setuju ya, kalau saya awet muda. Eheeem....

Saya menulis artikel sejak memulai karir sebagai dosen. Menulis artikel ilmiah dan populer. Karena waktu luang masih ada, saya nyambi menulis artikel di sebuah perusaaan periklanan. Menulis artikel untuk majalah internal brand atau coffee book table brand.
Seiring waktu dan dengan hadirnya internet. Peluang menulis artikel terbuka luas. Dunia blogger pun hits. Maka kini semua orang yang tertarik bisa menulis artikel. Bahkan terbuka peluang menjadikan keterampilan menulis ladang penghasilan. Apakah sebagai blogger, reviewer, content writer atau jurnalis online. Saya pun akhirnya mendapat pekerjaaan sebagai content writer dan reviewer. Menyenangkan karena bisa dikerjakan di rumah dan uangnya pun cukup menggiurkan. Jutaan rupiah setiap bulannya. Peluang ini masih terbuka lebar. Jika anda berminat tentu bisa. Honor antara 100rb-1jt/artikel. Tergantung kualitas dan jam terbang kita. Jadi ini juga merupakan karir yang harus ditekuni. Semakin banyak portfolio kita maka makin besar posisi tawar soal honor.
Dan yang terpenting tentu ilmu menulisnya harus terus diasah. Butuh memahami ilmu teknik menulis yang baik. Pekerjaan ini dituntut keterampilan menulis yang harus terus diasah.
Saya banyak menulis tentang artikel di blog saya www.dekamalia.com.
Jika ingin dibimbing oleh saya, bisa mengikuti pelatihan offline. Catat tanggalnya: 10 Desember 2017. Tempat di Gokana Sarinah Thamrin. Ada akses busway.
Info lengkap pelatihan di bawah ini ya.
Jika ingin memulai karir baru di awal tahun 2018. Apakah sebagai content writer, reviewer, blogger atau jurnalis online.  Dan ingin punya buku kumpulan artikel. Manfaatkan kesempatan baik ini untuk belajar.

Deka Amalia


Ada rencana apa tahun depan?
Tutup akhir tahun yang manis dengan mengikuti pelatihan ini.
Bisa menjadikan karir kepenulisan anda melejit di tahun depan.
Pelatihan 1 hari offline dan 2 minggu online.
Anda akan belajar teknik menulis artikel yang baik dan benar.
Hari/tanggal: 10 Desember 2017
Waktu: 10 - 12.30 : Menulis Artikel bersama Deka Amalia
Anda akan belajar menulis kisah inspiratif yang menarik.
Waktu: 13.30 - 16.00:
Menulis Kisah Inspiratif
bersama Wylvera W
Hanya dengan Rp. 350.000, Anda akan mendapatkan fasilitas sebagai berikut:
1. Modul
2. ‎Sertifikat
3. ‎Makan siang
4. ‎Audisi. Karyanya akan diterbitkan dalam antologi bersama oleh Writerpreneur Club.
Lokasi
VIP Platinum
Gokana Ramen dan Teppan
Jl. M.H. Thamrin No 11.
Sarinah Thamrin
LT UG.
Jakarta Pusat
Akses Busway
Tunggu apa lagi. Amankan seat anda karena peserta dibatasi.
Salam Hangat
Deka Amalia Writing Center
*daftar wa: 0857 7167 3538. ‎ ‎


Mengapa menulis kisah Inspiratif?

Saya menulis kisah inspiratif sejak 17 tahun yang lalu. Sudah 8 buku terbit dalam berbagai kumpulan kisah inspiratif. Salah satunya bersama mbak Wylvera.W.
Saya menyukai jenis tulisan ini karena dengan menulis sebuah kisah dalam hidup saya, bisa menjadi kenangan indah dan tentunya memberi manfaat bagi pembaca. Setiap kali membaca tulisan tersebut selalu menimbulkan keharuan dan mengingatkan saya akan arti dalam hidup ini.
Mbak Wylvera dengan segudang pengalaman akan membimbing anda semua. Jadi dalam satu hari, anda akan dapat dua paket pelatihan yang luar biasa.

Ini salah kisah yang saya tulis, tentang anak sulung saya yang tuna rungu. Ini saat dia masih SD. Selamat menikmati ya.

Wylvera. W

Menulis cerita inspiratif itu menyenangkan. Ini salah satu kisah yang saya tulis.
Buku Harian Ungu
Oleh Deka Amalia
Sebuah buku harian bersampul ungu menarik perhatianku, tergeletak manis, rupanya ia lupa merapikannya kembali. Karena ini pertama kali aku melihatnya, belum pernah kulihat tiap kali aku memasuki kamarnya. Rasa ingin tahu membuatku mengambilnya, ragu sesaat antara ingin membaca tetapi seharusnya kuhargai privasinya dan tak boleh kubaca. Tetapi rasa ingin tahu mengalahkan keraguanku. Ah, tak apa kan kalau hanya ingin tahu sedikit saja, pikirku. Maka kuputuskan untuk melihatnya, membuka dan akhirnya kubaca.
~*~
Kata mereka diriku selalu dimanja, kata mereka diriku selalu ditimang. Oh, Bunda... ada dan tiada dirimu selalu ada di dalam hatiku...
Baik lagu itu mengawali buku harian ini, keharuan menyergap manakala kau sadari betapa berartinya dirimu dalam hidupnya. Sebuah foto tertempel di atas bait lagu itu, seraut wajah manis dengan senyum hangat. Kuseka airmataku yang perlahan mulai menitik.
~*~
Hari itu aku pergi dengan Mami, senang rasa hatiku. Mami mengatakan jika aku akan melihat sekolah baruku dengan teman-teman baru. Ada rasa takut sesaat kurasakan, rupanya Mami membaca kekuatiranku. ”Kamu pasti dapat teman yang baik dan banyak ya, juga guru-guru yang menyenangkan.”
Ia memelukku hangat, ”Jangan kuatir, Mami akan selalu mendampingi kamu sampai kau merasa nyaman.”
Aku mengangguk dan tersenyum meyakinkan Mami jika aku tidak apa-apa. Selalu begitu, setiap aku merasa takut, Mami pasti menenangkan aku dengan pelukan hangat yang selalu membuat aku merasa nyaman. Betapa tidak akan kumasuki dunia baru yang entah mengapa aku merasa berbeda denganku dan dengan sekolah lamaku. Tetapi belum bisa kumengerti apa perbedaannya.
~*~
Kuseka airmataku, rupanya ia menyadari perbedaan itu, saat aku memindahkannya dari Santi Rama, sekolah khusus untuk anak tuna rungu ke sekolah umum. Kulakukan ini karena aku yakin akan kemampuannya, kecerdasannya dan rasa percaya dirinya. Itulah yang selama ini kulakukan menumbuhkan rasa percaya diri jika ia sama dengan yang lain. Memiliki kelebihan di samping kekurangannya. Ingin kukatakan padanya selalu bahwa ia mampu melakukan apa saja yang diinginkannya sama seperti yang lain. Bagiku, ia teristimewa yang telah mengajarkan banyak hal tentang kehidupan.
~*~
Aku ingat, saat kecil dulu, Mami selalu jongkok jika bicara denganku, menatap mataku dengan penuh kasih.
”Kamu lapar?”
”Mau minum susu?”
”Capai ya?”
Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu lama-lama mampu aku mengerti, ingin aku menjawab tetapi sulit sekali kukeluarkan suara, maka aku tahu saat itu yang bisa kulakukan hanya mengangguk atau menggeleng. Kulihat gurat kesedihan di matanya tetapi ia tetap tersenyum, memandangku hangat dan memelukku erat. Sikapnya yang membuatku semangat setiap kali Mami mengajakku terapi bicara, sikapnya yang membuatku semangat untuk mampu bercakap dengannya. Ingin kupanggil namanya dengan keras, "Mamiiiiii.”
~*~
Aku tercekat, dadaku sesak. Aku ingat, aku memeluknya sambil menangis ketika suatu masa, ia mampu mengeluarkan kata yang bermakna. Bagaimana tidak, jika selama ini yang aku dengar dari mulutnya hanya guman yang tak jelas. Kebahagiaan apa yang mampu kulukiskan untuk mengungkapkannya. Saat aku dengar sebuah kata bermakna itu keluar pertama kali dari bibir mungilnya di usia 4 tahun, setelah sesi terapi bicara yang tak lagi terhitung dijalani dengan sabar. Penantian yang membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Maka bagaimana rasanya jika kemudian hasilnya yang didapat. ”Mami, aku lapar, mau minum susu.” begitu sebuah suara merdu membuatku tercekat tak percaya. Ya, Allah. Maha besar ALLAH. Katakan lagi sayang, katakan. Mami ingin dengar, katakan lagi, Nak.”
Dengan berurai airmata kugoncang tubuhnya, dan ia memandangku dengan bingung. Aku menelepon suamiku dengan uraian airmata.
”Ia bisa bicara, ia bisa bicara, ia bisa bicara.” Hanya itu kata yang mampu kusampaikan pada suamiku.
~*~
Aku sungguh bahagia kini aku mampu mengatakan apapun yang kuinginkan pada Mami. Lebih bahagia setiap kali aku pulang sekolah, kuberikan hasil ulanganku.”Mami, aku dapat 10 lagi.” begitu kataku dan Mami selalu menyambut dengan penuh rasa bangga.
”Anak Mami yang hebat.” Begitu selalu pujinya. Aku tahu begitu besar pengorbanan Mami untukku maka aku ingin selalu membuatnya bangga padaku. Aku ingin membahagiakan Mami karena begitu banyak yang telah Mami berikan padaku. Ia mengajariku banyak hal terutama aku harus ikhas dan sabar. Aku harus bersyukur atas semua karunia-Nya. Walau, kadang aku sedih. Mengapa aku ditakdirkan seperti ini, tak mendengar. Saat ingin kudengar suara yang jelas. Yang kudengar hanya sayup, jauh dan hingar bingar yang tak jelas. Harus kutatap wajah orang yang bicara padaku, agar aku mampu menangkap maknanya dan mampu menjawab apa yang mereka tanyakan padaku.
~*~
Aku tahu, akhirnya suatu saat ia menyadari kekurangannya. Tetapi, selalu kutanamkan rasa percaya diri jika kekurangan itu tak akan menghentikan langkahnya. Selalu kusemangati ia setiap kali kutangkap rona kesedihan di wajahnya. ”Gambarmu bagus sekali, ikut lomba ya.” biasanya ia dengan senang hati menyambut tawaranku. ”Aku mau melukis yang banyak ya, Mi.” jawabnya ”Ya, melukislah yang banyak karena itu akan semakin membuatmu terampil dan bisa melukis lebih bagus lagi.”
Aku bahagia saat kulihat lukisannya yang ceria dan cerah. Lukisan yang dihasilkan melukiskan suasana hati, maka aku bersyukur ia bahagia dengan dirinya dan keadaannya.
~*~
Apapun itu, aku bahagia. Dengan kekurangan ini akan kutunjukkan jika aku punya kelebihan. Kata-kata Mami tak akan pernah kulupakan,”Kamu bisa melakukan apa saja yang kamu mau dan kamu bisa menjadi apa saja jadi jangan sedih, jangan kecil hati ya. Kamu harus bangga dengan dirimu karena kamu punya keistimewaan sama seperti semua orang, punya kelebihan dan kekurangan.”
Begitu Mami selalu menanamkam rasa percaya diri padaku dan aku tak mau mengecewakannya. Aku tahu Mami selalu menyembunyikan tangis bahagia, saat menerima raportku yang bertebar angka 9. Aku tahu, ia terharu, walau yang dilakukannya hanya membelai rambutku. Tetapi, aku bersyukur telah membuat orang yang paling aku cintai bahagia. Orang itu adalah mamiku. Ia yang paling berarti dalam hidupku. Kadang, ingin kubertanya pada Mami. Mengapa aku tak mendengar tetapi aku tak ingin membuatnya sedih. Maka kusimpan semua pertanyaan itu dalam hati.
Mungkin memang tak perlu ada jawaban atas pertanyaan itu, yang harus kulakukan adalah ikhas dengan keadaanku dan aku memang ikhlas.
~*~
Kututup buku harian itu. Air mata terus menetes, tak mampu lagi kuteruskan. Aku bahagia jika ia memahami apa yang kutanamkan padanya tentang kehidupan. Tetapi, mungkin seharusnya atau sudah saatnya kami membahas ini. Ia sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang ceria kini. Menikmati hari-harinya seperti remaja lainnya. Sekolah, berenang, mengikuti berbagai aktifitas, menjadi pengurus OSIS, ikut pramuka, dan sederetan aktifitas lainnya. Ia pun sudah modis sekarang, memilih pakaian dan perlengkapan sesuai seleranya. Bersolek dengan berbagai asesoris. Akrab dengan internet dan mall. Ah, kau tak berbeda. Kuputuskan untuk membicarakan tentang ini dengannya nanti malam.
~*~
Maka malam itu, kuketuk pintu kamarnya. ”Hi, sedang apa sayang?” kulihat ia memegang buku harian ungu itu, tergesa menutupnya dan menyembunyikannya di bawah bantal.
Aku tersenyum menghampirinya
”.Eh, Mami. Biasa, baca-baca saja.” begitu jawabnya. ”Mami mau ngobrol-ngobrol, boleh?” ia mengangguk, ”Ngobrol apa, Mi?” tanyanya.
”Kamu punya pertanyaan gak?” ia terkejut
”Pertanyaan apa?” Ia bertanya balik
”Ya, yang mau kamu tanyakan pada Mami. Kalau ada Mami siap menjawab.” Kubiarkan ia tercenung sesaat, mungkin bingung dengan hal ini, tak menduga.
”Mengapa Mami bertanya seperti itu?” ia tampak tak mengerti.
Sesaat, aku bingung juga. Kubelai rambutnya,”Ya, Mami berpikir saja barangkali selama ini kamu ingin bertanya sesuatu tetapi selalu ragu.”
Ia tersenyum, ”Ya, itu dulu. Tetapi, sekarang tidak ada lagi. Aku sudah mengerti semua.”
Aku memandangnya tak percaya.
”Dulu, aku memang selalu ingin bertanya mengapa aku tak mendengar tetapi Mami sudah menjawabnya dengan memperlakukan aku demikian istimewa.”
Kupeluk ia, kubelai hangat. Ya, Allah. Aku bersyukur dengan kasih sayang yang kau karuniakan di antara kami. Kuingat sebuah kata dalam buku harian ungu itu, yang ditulis anakku untukku, ibunya. Mami, kau membuat hidupku secerah pelangi.
~*~
*terbit dalam buku kumpulan kisah inpiratif. For The Love of Mom. Penerbit Imania. 2011
*saat ini Suci sudah kuliah semester 5 dengan Ipk 3.8.
Mau belajar? Gabung yuk.



Minggu, 09 April 2017

Belajar dari Fai, penyandang Asperger Syndrome (Autisme) yang produktif menulis.

Launching Buku Kedua: My Life My Dream


Saya lupa kapan pertama kali mengenal Fai, pastinya beberapa tahun lalu sejak Fai SMP dan kini SMA. Mamanya Fai, Bunda Vifi mencari mentor menulis untuk putrinya. Dan menemukan serta menghubungi saya. Setiap orang yang bertanya pada saya, apakah bisa menulis dan menerbitkan buku? saya selalu menjawab bisa. Karena saya percaya, menulis itu adalah proses yang dijalani dan setiap yang mau berproses pasti bisa. Memang kemudian terbukti, selama Fai belajar privat pada saya, sudah dua buku terbit. Satu buku The Lessons of Friendship sudah beredar di Gramedia sejak setahun lalu dan buku keduanya dalam proses beredar di Gramedia. Lalu saat ini, Fai sedang menulis novel fantasy dan dalam proses revisi. Maka terbukti, setiap yang mau berusaha, belajar dan berproses dalam hal apa saja pasti bisa. 

Bernama lengkap Fairuz Nurul Izzah dengan nama panggilan Fairuz atau Fai. Memiliki satu adik bernama Khalila Nurul Aini. Ayah dan bunda, Najmiah Octavia (Ibu), Teuku Kemal Husein(ayah), 
lahir: Jakarta, 19 Februari 2000, saat  ini telah duduk di SMA Jurusan IPS. Kebutuhan khusus: Asperger. Waktu diketahui: Sejak umur 12 tahun. Terapi yang dijalani: -Thermometer perasaan (Senang, cemas, relax), Menarik napas saat kesal dan gugup. Saat ini progress Fai semakin baik walau kadang-kadang lupa. Hobby: Menulis, membaca, main games, nonton You Tube.
Aktivitas: Belajar di Homeschooling Primagama, ikut Muay Thai, mengetik, dan les Bahasa Jepang.
Bahasa yang dikuasai: Bahasa Inggris dan Bahasa Jepang. 

    Aktif menjadi pembicara, menyuarakan penyandang autis. 

Autisme tidak membuat Fai menyerah. Aktifitasnya banyak dan cita-citanya tinggi. Ia ingin menjadi penulis. Saat mengajarkan Fai menulis, saya tahu tidak mudah bagi Fai untuk mencerna. Namun ia berusaha keras. Mengerjakan latihan dan terus menulis. Ia bertekad untuk terus menulis. Ia juga mulai punya blog dan menulis berbagai pengalamannya di sana. Fai juga belajar beberapa bahasa yaitu Inggris dan Jepang. Ia mampu berbicara dan menulis dengan baik dalam kedua bahasa itu. 

Simak prestasinya: 
Prestasi: Ketika masih di SDIT, saya menang juara I lomba presenter Bahasa Inggris. Ketika masih di SMP reguler, saya menang juara I lomba menulis, juara III lomba bakat (dengan kelompok), juara II lomba olahraga (dengan tim, tapi saya tidak terlalu suka olahraga) dan juara III lomba komputer. Ketika masuk homeschooling, saya telah menerbitkan dua buku, Lessons Of Friendship dan My Life My Dream.
Penghargaan: Piala dan sertifikat juara III lomba komputer, medali juara II lomba olahraga dan sertifikat olimpiade Bahasa Inggris yang tetap diberikan walaupun tidak menang.
Organisasi yang diikuti: Plan International Indonesia (sebagai volunteer dan anggota Youth Coalition For Girls) dan Best Buddies Indonesia (sebagai ambasador karena sudah dua tahun berdiri).
Kegiatan menjadi pembicara: Di Autism Awareness Month Grand Indonesia, Festival Anak Istimewa di Botani Square, dan ketika mengikuti kegiatan Best Buddies di Sekolah Bogor Raya dan BPK Penabur Sentul City saya bicara mengenai diri sendiri dan autis.
Pengalaman media: Ikut talk show radio dengan komunitas tutor menulis saya dan wawancara kompas tv dengan teman-teman Plan International Indonesia.
Pernah ketemu pejabat siapa saja: Saya pernah bertemu dua menteri yang ikut wawancara selain saya dan teman-teman Plan, dan saya juga pernah bertemu direktur global youth bersama teman-teman Plan.
Pernah diliput majalah apa: Di CNS Junior (tentang lessons of friendship) dan CNS cool and smart English Teen Magazine (tentang My Life My Dream) 
Mengikuti launching dan bedah buku yang diadakan mentor saya, di Blok M Plaza dan South Quarter Dome.
*sumber Fai
Luar biasa ya...

Secara rutin belajar menulis dengan Deka Amalia. 

Setelah bertahun menjadi mentor menulisnya dan mendampinginya menulis hingga terbit dua buku dan satu buku hampir selesai, saya jatuh sayang padanya. Bagi saya, Fai sudah menjadi bagian dari hidup saya. Saya ingin terus mendorongnya untuk maju dan meraih cita-citanya, menjadi penulis  yang produktif. Saya yakin suatu saat, Fai akan jadi penulis terkenal. Saya bangga dan haru dengan semua proses pencapaian Fai. Dari awalnya belum bisa menulis hingga lancar menulis, Dari awalnya tidak berani tampil, sekarang sudah menjadi pembicara di berbagai kegiatan. Dulu saya memaksanya tampil di bedah buku pertamanya dan mengajaknya talk show radio. Saya percaya jika setiap orang diberi kesempatan, maka ia akan melesat berkembang. Karena itu Fai merasa jika cita-ciatnya sebagai penulis sudah tercapai. Satu lagi keinginannya yaitu menjadi penerjemah. Karena itu ia memiliki sahabat pena: Jonathan dari Jerman, Andrew dan Avery dari Amerika untuk melatihnya menulis dalam bahasa Inggris. 


Talk show radio bersama penulis lainnya. 

Dalam bukunya My Life My Dream, Fai mengajak sahabatnya Dita untuk membuat lembar mewarnai dan Ruben untuk membuat desain cover bukunya. Dita juga penyandang autisme yang luar biasa, jago menggambar dan melukis. Dita ingin menjadi seorang animator yang jago melukis dan membuat komik. Begitu juga dengan Ruben, yang juga penyandang autisme yang berprestasi. Jago melukis dengan berbagai media seperti tinta, pensil warna, crayon dan lainnya. Buku ini memang berkisah tentang dirinya sebagai penyandang autisme. Semoga buku ini bisa memberi inpisrasi bagi banyak orang jika setiap anak punya kelebihan. Apa pun kekurangan yang Tuhan berikan, pasti ada kelebihan yang bisa digali. Kelebihan yang akan membuatnya mampu dewasa dan mandiri. Berguna bagi dirinya dan orang banyak. Dengan keyakinan itu,  Fai akan terus berusaha mengukir prestasi hingga mampu menggapai cita-citanya. Aamiin.

Yang ingin membeli bukunya, Insya Allah beredar di toko buku Gramedia bulan ini ya, Nantikan...

I love you, Fai...
Keep Writing....
Tante Deka












Selasa, 04 April 2017

Inovasi Sambal yang Menggoda dari Lombok.



Anda penyuka sambal? Saya sangat suka. Rasanya ada yang kurang kalau makan tanpa sambal. Makan dengan sambal membuat selera makin naik dan nikmat. Apa pun menunya, sambal harus ada. Bangsa kita memang terkenal dengan keragaman sambalnya, dan rasanya sebagai penyuka sambal ingin selalu mencoba ragam sambal itu. Mencoba beragam sambal menambah kenikmatan dan membuat kita tidak  bosan. Kadang membayangkannya saja sudah menimbulkan selera makan. Saya selalu ingin mencoba dan mencoba berbagai sambal, khususnya yang punya cita rasa beda. Saat ini kuliner makin kreatif, termasuk sambal. Berbagai cita rasa diolah untuk mendapatkan kreasi yang berbeda.

Adalah Bandar Sambal, yang memulai bisnisnya sekitar Mei 2016. Berawal dari obrolan ringan kakak beradik, terutama sang adik yang baru lulus kuliah. Sang adik tertarik ingin memiliki usaha dibandingkan mencari pekerjaan. Jiwa wirausaha yang kuat. Kebetulan lingkungan mendukung, sekitar rumah, saudara dan ibunda memiliki usaha kuliner. Berjualan nasi dan makanan khas Lombok. Hal ini yang menjadikan inspirasi untuk menggali dan mencoba sesuatu yang berbeda, namun tetap mengangkat kekayaan lokal.




Keinginan yang kuat selalu melahirkan kreatifitas, hingga lahir inovasi sambal yang menggoda. Bandar Sambal, brand yang diusung. Menjadikan sambal ini sebagai sambal khas Lombok. Visi misinya menjadi salah satu brand sambal khas Lombok. Menjadi satu wadah yang nantinya bisa memberdayakan perempuan Sasak dalam memajukan kuliner Lombok. Kekayaan lokal dipadukan dengan niat memberi jalan untuk masyarakat sekitar berkembang, sungguh impian yang mulia.

Sambal ini punya kelebihan dibandingkan sambal yang biasa. Pembuatannya pun tetap dipertahankan secara tradisional, demi tetap mempertahankan rasa kedaerahan. Bahan utama yang digunakan pun sangat bermanfaat bagi kesehatan. Kreasi sambal dipadukan dengan belut, daging kuda, ayam dan ikan pilihan. Dengan tujuan sambal ini bukan semata sambal tetapi sambal ini bisa menjadi lauk. Maka makan nasi dengan varian Bandar Sambal, sudah nikmat rasanya. Dan yang paling khas menjadi sambal satu-satunya yang ada, adalah sambal lindung dan sambal kuda.

Saya sudah mencoba beberapa varian yang ada, rasanya memang sangat enak. Rasa pedasnya pas dan lezat, nikmat dimakan dengan nasi saja atau dipadukan dengan lauk lain. Sayuran dan kerupuk. Heeem, rasanya ingin coba dan coba lagi. Karena Banda Sambal memang berharap produk ini tersebar dan disukai masyarakat Indonesia. Karena itu rasa dan kualitas dipertahankan. Selain itu ada rasa bangga terhadap kekayaan kuliner Indonesia yang tidak kalah dengan kuliner lainnya.



Sambal yang khas ini disukai masyarakat lokal dan turis yang berkunjung ke Lombok. Karena Lombok adalah salah satu destinasi wisata yang terkenal saat ini. Maka sambal ini menjadi salah satu oleh-oleh yang wajib dibawa. Oleh-oleh khas Lombok. Karena itu semoga sambal ini bisa disukai oleh masyarakat Indonesia dan menjadi salah satu oleh-oleh dari Lombok. Begitu harapan dari pemiliknya, Rini Handayani. Perempuan kelahiran Ampenan tahun 1882 ini punya impian besar dengan usaha yang ditekuninya dengan rasa bahagia. Seorang ibu dengan tiga anak. Latar pendidikan Sastra Inggirs dan pernah bekerja di bidang Hospitality Industry. Keinginan untuk selalu dekat dengan anak dan punya banyak waktu untuk mereka, yang mendorongnya untuk memiliki usaha sendiri.

Rini menjalankan bisnis ini secara offline dan online untuk pemasarannya. Sosmed yang sangat membantu mengenalkan produk ini lebih luas lagi. Rini terus belajar untuk bisa makin mengembangkan bisnis ini. Saat ini omset yang diraih belum terlalu besar, namun keyakinan jika produk ini punya peluang besar di masa depan membuatnya tidak pernah lelah berusaha. Rasa senang saat konsumen memberi komen yang positif dan jika ada komen yang negatif  itu membuatnya terpicu untuk lebih baik lagi. Selama ini trial and error sudah dijalani hingga menghasilkan yang terbaik. Apa pun itu, Rini percaya Allah akan memberi jalan. Karena niatnya menjadikan salah satu jalan untuk mengajak perempuan Lombok berdaya. Termasuk menghadapi kendala packing dan pengiriman ke lokasi yang jauh.



Terbukti usaha Rini tidak sia-sia, sekitar bulan Agustus 2016, ia mengikuti kompetisi The Big Start Indonesia 2016 yang diselenggarakan oleh Djarum Foundation dan Bibbli.com. Dalam rangka mencari start up kreatif Indonesia dan Bandar sambal masuk menjadi 100 besar terbaik dari ribuan pendaftar. Sebuah prestasi yang makin memicu Rini untuk terus mengembangkan usahanya.

Bandar Sambal dengan tag line "Indonesia Eating Tradition" ingin mengajak masyarakat Indonesia untuk mencintai kuliner lokal. Jika teman ingin mencoba, bisa langsung ke fb dan ig Bandar Sambal. Aatau hubungi wa 0819.3300.2998. Atau bagi yang di Lombok bisa datang langsung ke Jln. Melur No 1, Kampung Melayu, Ampenan Lombok. Dan bisa juga meluncur ke websitenya di www.bandarsambal.com. Melayani pengiriman ke seluruh Indonesia.

Kalau bukan kita yang bangga dan mendukung kuliner Indonesia, siapa lagi?